
| Pengarang | : | Razak, Abdul,Rianda, Bella Fairuz,Kembara, Gilang |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 44 (No. 3) |
| Halaman | : | 246-257 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 44 (No. 3) |
| Halaman | : | 231-245 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 44 (No. 3) |
| Halaman | : | 220-230 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | The Indonesian Quarterly |
| Volume / Edisi | : | 45 (No. 1) |
| Halaman | : | 37-53 |
| Abstrak | : | This paper explains why Indonesia's competitiveness is falling, compared with other countries, while the economic growth seemed quite robust in recent years. After the commodity boom and quantitative casing policy was over, Indonesia is still struggling to compete in the world market resulting a low rate of participation in the global production network. In addition, an unclear industrial policy, downstreaming strategy and value added obsession are some of the misguided approaches to rejuvenate Indonesia's industry. A substantial reform is essential to change the old paradigms in trade and industry from a populist, protectionist and inward-looking policy. Instead, an open trade regime, facilitating investment policy and more flexible labor market are much-needed strategics to increase Indonesia's competitivenes in the future. |
| Pengarang | : | Douglas Allchin |
| Nama Majalah/Jurnal | : | The Science teacher |
| Volume / Edisi | : | 90 (No. 5) |
| Halaman | : | 16-19 |
| Abstrak | : | Abstrak tidak tersedia. |
| Pengarang | : | Wulansari, Ica |
| Nama Majalah/Jurnal | : | The Indonesian Quarterly |
| Volume / Edisi | : | 45 (No. 1) |
| Halaman | : | 23-36 |
| Abstrak | : | Palm oil has been criticized due to the negative impact of environment and human right abuse. Forest and pearland fire have rapidly destroyed ecosystem in tropical forest and pearland. Palm oil industry grows very quickly since the reformation era. Furthermore, Reformation era applied policy where regional autonomy allow local governments to issue license of palm oil plantation. In order to support palm oil industry, local government allow land use change of forest area refer to PP No. 60 Tahun 2012 (Government Regulation Number 60 of 2012). For more than two decades, high global demand of palm oil and paper triggered the widespread of plantation area. Greenpetice issued data thar plantation companies have rapidly widespread the deforestation. In fact, more than 1.8 million hectare of forest have gone between 2011 and 2013. Moreover, palm oil concession has contributed for deforestion at about 20%. Forest and peatland fire have been highlighted in international community. In Conference of Parties UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) 13 in Bali in 2007, the participants have agreed the REDD (Reduce Emission from Deforestation and Degradation) scheme that regulated the forest management as a pathway to green economy transition. In order to support sustainable palm oil, Indonesia adopt RSPO's (Roundtable on Sustainable Palm Oil) code of conduct, such as free, prior and informed consent. Broadly speaking, Indonesia is pressured by internatinal community regarding to zero deforestation. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 44 (No. 2) |
| Halaman | : | 192-212 |
| Abstrak | : | Clobalisasi sudah menjadi gejala dunia yang membawa dampak nyata pada bampir semima aspek kehidupan: ekonomi, politik, sosial, budaya. Clobalisasi membuat perekonomian suatu negara kian terbuka dan menciptakan kompetisi antarbangsa yang makin ketat. Untuk dapat bersaing dalam kompetisi global, setiap negara dituntut memiliki sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkualitas. Kualitas SDM sangat ditentukan oleh taraf pendidikan penduduk, terutama pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi merupakan kunci untuk meningkatkan daya saing bangsa, yang tercermin pada lulusan-lulusan perguruan tinggi (PT) yang bermutu, memiliki pengetahuan luas, punya kemabiran dan keterampilan teknikal, serta menguasai teknologi suatu syarat mutlak untuk membangun keunggulan bangsa di era global. Dalam memasuki era global, Indonesia menghadapi tantangan serius terutama dalam menyiapkan SDM berpendidikan tinggi, agar dapat memenangi persaingan antarnegara yang kian kompetitif. Untuk itu, Indonesia harus memperkuat perguruan tinggi dengan membangun universitas riset, untuk mendukung penelitian-penelitian inovatif dan riset pengembangan, dengan membangun sinergi antara pemerintab-universitas-industri. Pertanyaannya, apakab dunia pendidikan tinggi Indonesia dapat memanfaatkan peluang yang terbuka dalam ckonomi patar bebas, rekaligus mampu menghadapi persaingan sangat ketat di era global? |
| Pengarang | : | Paul G. Hewitt |
| Nama Majalah/Jurnal | : | The Science teacher |
| Volume / Edisi | : | 90 (No. 5) |
| Halaman | : | 14-15 |
| Abstrak | : | Most of the physics we teach begins with Galileo, and rightly so. However, some good physics occurred centuries before Galileo; the achievements of Eratosthenes and Aristarchus are a worthwhile introduction to almost any physics course. |
| Pengarang | : | Muhibat, Shafiah Fifi |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 44 (No. 2) |
| Halaman | : | 180-191 |
| Abstrak | : | Di kawasan Asia Timur, East Asia Summit (LAS) memiliki potensi besar menjadi forum fungsional yang paling bermanfaat bagi kawatan. Sejak awal, EAS memiliki mandat untuk mempertimbangkan isu-isu strategis kawasan, dan memiliki potensi untuk tidak banya sebagai forum confidence-building melainkan juga ranab bagi kerja sama substantif. Tulisan ini mencuba mengkaji dinamika kerja sama di Asia Timur melalui kajian dua konsep yang saling berkaitan, yaitu identitar dan norma yang berlaku di kawasan. Tulisan ini berargumen bahwa, meskipun kebiasaan untuk bekerjasama (habit of cooperation) sangat kuat di Asia Timur, dan sudah ada norma untuk selalu memilih membentuk kerja sama untuk menyelesaikan persengketaan, tetapi hasil dari berbagai bentuk kerja sama yang sudah terbentuk masih cenderung rendah. Salah satu argumennya adalah bahwa negara-negara di kawasan masih memaknai norma kerja sama tersebut secara berbeda-beda. |
| Pengarang | : | Nicolas Alejandro Barnafi Wittwer |
| Nama Majalah/Jurnal | : | The Science teacher |
| Volume / Edisi | : | 90 (No. 5) |
| Halaman | : | 10-13 |
| Abstrak | : | Abstrak tidak tersedia. |