
| Pengarang | : | Yamil Ernesto Ruiz and Brooke A. Whitworth |
| Nama Majalah/Jurnal | : | The Science teacher |
| Volume / Edisi | : | 90 (No. 6) |
| Halaman | : | 46-51 |
| Abstrak | : | Fair and equitable access to science education is necessary for every student leaving our schools and entering the increasingly technological workforce (ICSU 2011). However, there exists a notable and longstanding science achievement gap between our English learners (ELs) and non-EL students (NCES 2019). The National Center for Education Statistics reported in 2017 that ELs scored below average on the National Assessment for Educational Progress (NCES 2017). Additionally, ELs graduate at a rate of 67% nationally compared to 85% for non-EL students (NCES 2017). We know teacher practice is tightly connected to the success of all students (Whitworth and Chiu 2015), but this is especially true for our students learning English (Lara-Alecio et al. 2012). So how can our science instructional materials be modified to best support ELs? |
| Pengarang | : | Megan Walser |
| Nama Majalah/Jurnal | : | The Science teacher |
| Volume / Edisi | : | 90 (No. 6) |
| Halaman | : | 40-45 |
| Abstrak | : | I didn’t sign up for this,” said Don, a high school physics and chemistry teacher, when I asked if he had any final thoughts about teaching science online. He echoes the sentiment of many teachers in his position: those who had to quickly change everything they thought they knew about teaching when schools went online during the COVID-19 pandemic. Learning to teach virtually meant not only learning new tools and methods of delivering instruction but also relearning how to build classroom community and engage students—essentially relearning how to teach science. Even though the disciplinary core ideas (DCIs; National Research Council [NRC] 2012) of science remain the same no matter the instructional format, the practices students engage in to figure out those ideas look different in an online context. Getting students to “do science” online is extremely difficult, and for this reason I became interested in how teachers were addressing the science and engineering practices (SEPs; NRC 2012) virtually. To learn more about this, I gathered information using an online survey (see Online Connections) and follow-up interviews. The survey included questions such as how frequently teachers engaged students in each SEP during virtual learning, what strategies they used to address each SEP, and what challenges they faced. The survey was shared via email and Twitter, gathering a total of six responses. I followed up with two teachers in hourlong interviews to gather more detail about specific |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 45 (No. 4) |
| Halaman | : | 345-366 |
| Abstrak | : | Modernisasi persenjataan dibentuk oleh beberapa faktor, yaitu perkembangan teknologi, doktrin, dan organisasi. Tulisan ini dibuat untuk menganalisis faktor yang paling dominan dalam menjelaskan modernisasi persenjataan di Indonesia. Tulisan ini disusun atas tiga bagian utama: Pertama, konsep "Revolusi Krida Yudha" sebagai jargon modernisasi persenjataan dan transformasi pertahanan Indonesia; kedua, tren modernisasi persenjataan Indonesia dari faktor teknologi (hardware) serta kaitannya dengan doktrin (software), dan organisan (wetware) yang diimplementasikan dalam agenda Minimum Essential Force (MEF) sehingga dapat dipabami faktor yang paling dominan dalam menjelaskan modernisasi persenjataan di Indonesia. Sedangkan ketiga, rekomendasi strategis bags pemerintah dalam agenda modernisasi alutsista Indonesia |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Issues in Accounting Education |
| Volume / Edisi | : | 37 (No. 4) |
| Halaman | : | 97–105 |
| Abstrak | : | This case introduces students to a chain of home improvement stores with locations across the United States. In the role of a data analyst, students will help the CFO understand the company's non-financial drivers of revenue. Students will create a “dashboard” visual to evaluate the performance of store managers by date, state, and store number. Ten years of created data—including store revenue and four non-financial store-level performance measures—are available in a Microsoft Access database. Students analyze data using Power Pivot and/or Power BI and summarize their findings in a report. We provide evidence of efficacy from an MBA-level management accounting class, although the case has also been used effectively in a junior-level undergraduate management accounting class. It is suitable for use in courses with a management accounting, AIS, or data analytics focus where the students have little or no prior knowledge about Power Pivot and/or Power BI. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 45 (No. 4) |
| Halaman | : | 333-344 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 45 (No. 4) |
| Halaman | : | 318-332 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 45 (No. 4) |
| Halaman | : | 309-317 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | Christian, David,Titiheruw, Ira S. |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 45 (No. 3) |
| Halaman | : | 281-301 |
| Abstrak | : | Sejak awal tahun 2015, terjadi eskalas? dinamika dalam masyarakat berkaitan dengan pelarangan/pengaturan distribusi minuman beralkohol di Indonesia. Studi ini mencoba untuk melakukan analisis kuantitatif terhadap besarnya pengaruh yang akan terjadi pada output, tenaga kerja, upah tenaga kerja, serta surplus usaba dari sektor-sektor dalam perekonomian sebagai dampak dari kebijakan pelarangan total minuman beralkohol yang diusulkan dalam Rancangan Undang Undang Larangan Industri Minuman Beralkabol. Analisis menggunakan tabel 10 2005 untuk melibat pengaruh skenario ekstrim apabila RUU diberlakukan dapat menjelaskan keterkaitan antar-industri serta dampaknya terhadap penerimaan negara. Dampak ekonomi kebijakan pelarang minuman beralkohol dapat mencapai Rp 16,41 triliun (dengan mengasumsikan jumlah kehilangan penerimaan cukai sama dengan penerimaan cukai MMEA tahun 2014). Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang masih rentan terbadap pelemaban, dampak ekonomi perlu dipertimbangkan. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 45 (No. 3) |
| Halaman | : | 265-280 |
| Abstrak | : | Studi ini bermaksud melihat konteks mobilitas kelas dalam masyarakat desa yang bermigrasi ke wilayah kota. Mobilitas seringkali dianggap sebagai jalan perubahan bagi warga miskin desa untuk melakukan perubahan. Namun acapkali perubahan tersebut tidak diimbangi dengan adanya kepemilikan modal yang cukup ketika mereka merantau. Dalam artikel ini dianalisis faktor-faktor penyebab dan pembentuk terjadinya mobilitas penduduk desa menuju kata sebagai rumusan masalah. Temuan penting dalam riset ini adalah konteks jaringan, pendidikan, dan kepercayaan menjadi indikator penting pembentuk terjadinya mobilisasi penduduk dan kemiskinan. Sementara itu, ketidakadilan ekonomi menjadi faktor penyebab. Penelitian ini menggunakan teknik life history empat keluarga sebagai kajian komparatif untuk melihat perjalanan perpindahan kelas terselnut dari kelas agraria di desa menuju kelas menengah di kota. |
| Pengarang | : | Rozaki, Abdur |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 45 (No. 3) |
| Halaman | : | 251-264 |
| Abstrak | : | Masyarakat desa sebagai salah satu pilar pelaksanaan UU Desa ditempatkan sebagai subjek yang dibarapkan dapat mengembangkan tradisi masyarakat yang otonom dalam kehidupan bersama. Namun, kenyataannya masyarakat desa menunjukkan sejumlah ketidakmampuan untuk mengakses potensi sumber daya di lingkungannya dalam peningkatan kesejahteraan. Disamping itu, ketidakmampuan dalam mengakses dan mempengaruhi kualitas pelayanan publik. Kebijakan rekrutmen pendamping desa, misalnya, yang dilakukan selama ini menggunakan pendekatan sentralistik dan generik. Kebijakan semacam ini mengandung unsur kelemahan mendasar, baik dari sisi regulasi dan konteks tantangan yang dihadapi oleh desa-desa di Indonesia. Tulisan ini memberikan solusi agar kebijakan pendampingan desa bergeser dari pendekatan sentralistik kepada pendekatan asimetris. Pendekatan asimetris lebib kontekstual dalam menjawab keragaman problem dan tantangan yang dihadapi oleh desa-desa di Indonesia dan juga lebih selaras dengan filosofi gerakan desa membangun Indonesia sebagaimana amanah UU Desa. |