
| Pengarang | : | Kristiana Haryanti |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Pranata |
| Volume / Edisi | : | V-3 (No. 0) |
| Halaman | : | 73-85 |
| Abstrak | : | iantara sekian banyak perkembangan yang harus dicapai pada masa dewasa, tugas-tugas yang berkaitan dengan pekerjaan an hidup keluarga merupakan tugas yang paling dominan. Hal yang penting dan sangat berperan guna terpenuihnya tugas perkembangan masa dewasa adalah peran seks. Seorang yang menyadari sepenuhnya peran seks yang dimiliki maka tidak akan mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial dengan jenis seks yang berada, untuk dapat dipre-disikan bahwa ia berhasil melakukan penyesuaian diri dengan berhasil terhadap perkawinan dan masa orang tua. Penyesuaian peran seks yang merupakan dasar bagi penyesuaian pekerjaan. Misalnya seorang wanita yang terbiasa selama masa sekolah kuliah memainkan peran yang sama dengan rekan prianya, mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan perlakuan yang mereka terima dalam industri, bisnis dan proteksi karena ia merasa direndahkan, padahal sebelumnya ia memainkan peran yang sama dengan rekan prianya. Selanjutnya masalah yang lebih penting adalah adanya kenyataan bahwa keberhasilan atau kegagalan melakukan penyesuaian diri akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan yang erat hubungannya dengan prestise dilihat dari sudut pandang orang lain, diri sebagai individu, kebahagiaan, dan juga berpengaruh pada setiap anggota keluarga. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Pranata |
| Volume / Edisi | : | V-3 (No. 0) |
| Halaman | : | 64-72 |
| Abstrak | : | Pembentukan kepribadian seseorang sudah d?mulai sejak usia d?n? Pada masa awa? keh?dupan seseorang peran keluarga sebagai pend?d?k pertama dan utama sangatlah besar Pend?d?kan d?s?pl?n yang d?ber?kan dalam keluarga sangatlah berperan b?la nant?nya seseorang sudah terjun dalam masyarakat Berbagai tekn?k yang dapat d?lakukan untuk menanamkan d?s?pl?n pada seorang anak pada dasarnya merupakan pend?d?kan dalam menanamkan moral Kohlberg seorang tokoh psikolog? membag? tahap perkembangan (pemahaman) moral menjad? tiga level, di mana tiap level menjad? dasar untuk pengembangan level selanjutnya Level yang paling tingg? yaitu post conventional merupakan harapan bag? terc?ptanya d?s?pl?n nasional yang mendasarkan pada pengendal?an d?r? tanpa harus diawas? secara ketat oleh orang atau lembaga yang la?n |
| Pengarang | : | Sumbodo Prabowo |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Pranata |
| Volume / Edisi | : | V-3 (No. 0) |
| Halaman | : | 55-63 |
| Abstrak | : | Iklan dengan model anak-anak semakin banyak di media massa. Iklan tersebut tidak hanya menawarkan produk untuk konsumsi anak-anak saja, tetapi juga untuk konsumsi keluarga ataupun anggota keluarga yang lain. Sebenarnya siapa sasaran sesungguhnya dan mengapa kecenderungan itu nampak semakin menarik untuk disimak. Pola hubungan dalam keluarga agak berubah seiring dengan era industrialisasi dan golbalisasi. Hal itu pernah terjadi di Amerika beberapa waktu yang lalu (Hurlock, 1978). Mobilitas, perhatian pada karir, organisasi perusahaan, menyebabkan orang tua kehilangan waktunya di rumah. Akibatnya waktu dan perhatian pada anaknya menjadi berkurang. Untuk mengkompensasikannya orang tua memberikan perhatian yang berlebih - salah satunya - dengan memenuhi permintaan anaknya secara lebih baik dan juga memberikan fasilitas fisik. Di samping itu keberhasilan program Keluarga Berencana menyebabkan semakin sedikitnya anak. Akibatnya anak menjadi sangat berharga bagi orang tua, sehingga nilainya menjadi semakin tinggi. Anak sebagai influencer akan mempunyai nilai tambah pada posisinya terhadap pengambil keputusan, yaitu orang tua. Sedangkan iklan sebagai informasi yang membujuk untuk membeli - sesuai dengan fungsinya -gencar mengitari konsumen atau calonnya dengan memakai model anak agar terjadi komunikasi efektif dengan anak, sehingga seakan memanfaatkan nilai tambah tersebut. dung..tak..dung..tak..dung..tak..jreng..jreng dung..tak..dung..tak..dung..tak..jreng..jreng (seorang tukang kendang menabuh kendangnya dan seorang anak perempuan kecil memukul-mukul dinding sebuah mobil) iklan mobil Daihatsu Zebra bentuknya bagus, ruangnya luas, muatnya banyak, kakak, mama, papa, teteh, cece, pembantu, tante, nenek, dan teman-teman pokoknya banyak deh (seorang anak lelak? kec?l bercerita dengan mimik yang lucu) - iklan mobil Kiyang Hadiah mob?l-mob?lan, bola, topi, patung kec?l dinosaurus, balon diber?kan pada setiap pembelian product atau paket fried ch?cken pada periode tertentu - sales promotion fried chicken dan mas?h banyak lag?. Anak-anak yang lugu menjad? sesuatu hal yang menar?k, sehingga sering kita l?hat d?tampilkan sebagai model pada ?klan d? media massa, bark media dengar, cetak, pandang ataupun media pandang dengar, yaitu Film ataupun TV Hal itu menjad? semak?n menarik untuk dicermat?, karena ?klan tersebut menawarkan produk yang bukan untuk konsums? anak-anak saja Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa produk untuk orang dewasa, keluarga, dan untuk segala lap?san d??klankan menggunakan model anak-anak Contoh yang lain sepert? bank, asurans?, rumah, makanan, minuman. supermarket, hotel, dan beberapa produk lag?, ternyata dalam menawarkan produknya pada med?a ?klan menggunakan model anak-anak Nah, melihat kenyataan di atas mar? kita s?mak apakah dengan menggunakan model anak-anak tersebut cukup efektif Untuk itu k?ta perlu pula mel?hat seberapa jauh pengaruh anak pada pengamb?lan keputusan membel? pada sebuah keluarga terutama pada saat ?n? ataupun perkembangannya pada masa mendatang |
| Pengarang | : | Kate Thuy Mai,Hoque, Zahirul |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Behavioral Research in Accounting |
| Volume / Edisi | : | 35 (No. 2) |
| Halaman | : | 111–129 |
| Abstrak | : | This article examines how an individual-level academic performance measurement system interactswith the collective self in a collectivist cultural context. The qualitative study of a Vietnamese public university involved53 interviews, participant observations, and document analysis. The findings show that performance measurementsystems in the university produced both an autonomous self and a collective self. They do so by measuring individualperformance and suggesting that individuals are autonomously responsible and able to influence such performance.Thus, although a performance measurement system is typically imposed by others (which shows one’s dependenceon others and subjection to their power), the nature of the performance measurement system is such that it promotesindividual actions and a sense of individual performance. Therefore, people feel they have control over “their”performance. However, while trying to control such performance, they depend more on others whose recognitionappears to link with such performance measurement systems. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Pranata |
| Volume / Edisi | : | V-3 (No. 0) |
| Halaman | : | 48-54 |
| Abstrak | : | Global?sas?, usa?nya perang ding?n dan reses? ekonom? yang berkepanjangan men?mbuikan perubahan masyarakat dan keh?dupan keluarga Interaks? orang tua dan anak menjad? lemah Kebiasaan membacakan buku cerita atau mendongeng untuk anak mulai h?lang dan tayangan telev?s? merampas perhatian anak-anak seh?ngga m?nat membaca anak menjad? rendah Kurangnya st?mulasi membaca dar? orang tua dan rendahnya m?nat baca anak sangat berpengaruh negat?f terhadap kemampuan membaca permulaan anak-anak Fenomena anak-anak kelas 1 - 3 Sekolah Dasar yang mem?l?k? kemampuan membaca permulaan rendah dar? tahun ke tahun prosentasenya mak?n men?ngkat Perlu ada perhatian ser?us dar? orang tua untuk membudayakan kembal? kebiasaan membacakan buku cer?ta bag? anak agar gemar membaca dan dapat men?ngkatkan kemampuan membaca permulaan yang rendah |
| Pengarang | : | Setyaningsih, Florentina Dwiastuti |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 52 (No. 2) |
| Halaman | : | 201-219 |
| Abstrak | : | Indonesia sat ini sedang mengalami bonus demografi yang dapat mempengaruhi peta pemilihan pada pemilu 2024. Studi CSIS (2023) mengestimasi jumlah pemilih muda (17-39) tahun akan mendominasi sebesar 60 persen atau 114 juta pemilih dari total pemilih. Dengan demikian, para pengambil kebiijakan dan pemangku kepentingan diharapkan dapat memperhitungkan suara dan preferensi para pemilih muda agar partisipasi politik anak muda dapat ditingkatkan. Ada tiga poin utama yang dilihat pada artikel ini, yaitu bagaimana tren partisipasi politik anak muda saat ini, dan dua strategi utama dalam meningkatkan partisipasi politik anak muda, yaitu dengan memahami preferensi anak muda dan digitalisasi. Penting untuk mengetahui preferensi anak muda dan bagaimana desain kebijakan pembangunan yang didisapkan partai dan calon presiden dalam mendekati anak muda. Digitalissi digunakan untuk membuka akses yang lebih luas pada pertisipasi politik dan membuka bentuk baru partisipasi politik. Meningkatnya partisipasi politik anak muda penting untuk demokrasi yang berkualitas, kuat dan aktif. |
| Pengarang | : | Pius Heru Priyanto |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Pranata |
| Volume / Edisi | : | V-3 (No. 0) |
| Halaman | : | 38-47 |
| Abstrak | : | Keluarga sehat sebaga? akar dan dasar pembentukan pr?bad? seorang anak Anak yang tumbuh dewasa dengan keluarga sehat, akan menjad? indiv?du yang sehat, bermoral, bertanggung jawab secara sosial, dan tangguh Namun pend?d?kan dan pengasuhan keluarga perlu d?tekankan pada pemberian kehangatan dan kas?h sayang sebaga? dasar pedul? pada sesama dan pr?bad? yang sehat Adanya perubahan sos?al dan industrial?sas? atau modern?sas? akan mengubah struktur, pranata, dan s?stem sosial Pribad? yang rapuh akan terpengaruh dan akh?rnya ambruk sehingga menjad? halangan pembangunan bangsa Untuk itu Keluarga adalah pondas? untuk mend?r?kan bangunan pr?bad? anak menjad? kokoh dan kuat, mand?r? serta bertanggung jawab |
| Pengarang | : | Suparni |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Pranata |
| Volume / Edisi | : | V-3 (No. 0) |
| Halaman | : | 29-37 |
| Abstrak | : | Untuk mengant?s?pas? perubahan sosial yang terjad? dalam era global?sas? in?, maka setiap anggota masyarakat dituntut untuk membekal? d?rinya dengan s?kap dan per?laku mand?r? Ada banyak faktor yang mempengaruh? kemand?r?an, salah satu faktor yang cukup dom?nan adalah peranan keluarga, terutama pola asuh orang tua Pola asuh orang tua yang efekti?f dalam menumbuhkan dan men?ngkatkan kemand?r?an adalah pola asuh yang bersifat demokrat?s atau autoritar?an |
| Pengarang | : | Emiliana Primastuti |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Pranata |
| Volume / Edisi | : | V-3 (No. 0) |
| Halaman | : | 22-28 |
| Abstrak | : | Keluarga memberikan arti penting bagi anak dalam mempersiapkan diri untuk menjadi dewasa, karena keluarga merupakan lembaga pertama yang dikenal anak. Pada dasarnya orang tua berperan paling penting pula di dalam perkembangan dan pendidikan anak, karena apa yang diperbuat orang tua akan berpengaruh terhadap diri anak. Dengan demikian perhatian dan tanggung jawab orang tua sangat diperlukan oleh anak. Dalam keluarga masa kini, waktu berjumpa yang sedikit harus betul-betul dimanfaatkan seefektif mungkin untuk membina hubungan yang harmonis dalam keluarga. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Behavioral Research in Accounting |
| Volume / Edisi | : | 35 (No. 2) |
| Halaman | : | 93–110 |
| Abstrak | : | Auditing standards emphasize the importance of strong auditor communications with the auditcommittee to enhance financial reporting quality. This study examines the effects of audit committee skepticism andreward power, two pervasive audit committee characteristics, on auditor communications with the audit committee.Drawing on accountability theory, we predict and find that greater audit committee skepticism and reward powerinduce the auditor to communicate more information and report on a more timely basis. Seventy-nine audit partnersand managers participated in an experiment where we manipulate between-subjects high or low audit committeeskepticism (quantity of probing questions) and high or low reward power (exercising full authority to hire/compensatethe auditor versus relying on management). Participants responded to a realistic case regarding an inventoryobsolescence issue. A follow-up experiment with 30 participants indicates significant mediation for accountability. Thefindings underscore the importance of audit committee skepticism and reward power in enhancing auditorcommunications. |