
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Pranata |
| Volume / Edisi | : | I-3, APRIL-JULI (No. 0) |
| Halaman | : | 28-37 |
| Abstrak | : | Abstrak tidak tersedia. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Journal of the American Statistical Association |
| Volume / Edisi | : | 113 (No. 522) |
| Halaman | : | 919-932 |
| Abstrak | : | We propose two semiparametric model averaging schemes for nonlinear dynamic time series regression models with a very large number of covariates including exogenous regressors and auto-regressive lags. Our objective is to obtain more accurate estimates and forecasts of time series by using a large number of conditioning variables in a nonparametric way. In the first scheme, we introduce a kernel sure independence screening (KSIS) technique to screen out the regressors whose marginal regression (or autoregression) functions do not make a significant contribution to estimating the joint multivariate regression function; we then propose a semiparametric penalized method of model averaging marginal regression (MAMAR) for the regressors and auto-regressors that survive the screening procedure, to further select the regressors that have significant effects on estimating the multivariate regression function and predicting the future values of the response variable. In the second scheme, we impose an approximate factor modeling structure on the ultra-high dimensional exogenous regressors and use the principal component analysis to estimate the latent common factors; we then apply the penalized MAMAR method to select the estimated common factors and the lags of the response variable that are significant. In each of the two schemes, we construct the optimal combination of the significant marginal regression and autoregression functions. Asymptotic properties for these two schemes are derived under some regularity conditions. Numerical studies including both simulation and an empirical application to forecasting inflation are given to illustrate the proposed methodology. Supplementary materials for this article are available online. |
| Pengarang | : | |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 52 (No. 4) |
| Halaman | : | 703-730 |
| Abstrak | : | Globalisasi membuat pertumbuhan pengguna internet di Indonesia begitu pesat sehingga media baru mulai dikenal di tengah-tengah masyarakat. Media baru menjelma menjadi media sosial yang mudah diakses oleh seluruh kalangan dalam genggaman ponsel pintar. Sementara itu, media sosial seringkali memuat konten yang melecehkan dan merendahkan perempuan. Di sisi lain, konten bermuatan ideologi yang menjunjung kesetaraan laki-laki dan perempuan seperti feminisme global juga mulai bermunculan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi pustaka dan analisis semiotika dengan menggunakan tambahan dapat primer dan sekunder dilakukan untuk menganalisis feminisme global yang terkadang di dalam konten media sosial. Dalam hal ini, Tik Tok menjadi salah satu media sosial sebagai sarana mengakses konten bermuatan negatif maupun positif di tengah masyarakat Indonesia. Daei penelitian ini, tidak hanya terlihat jelas minat masyarakat terhadap jenis konten, tetapi juga kemajuan pemikiran akan kesetaraan gender. Konten yang dibuat oleh kreator Tik Tok perempuan yang inspiratif dan edukatif mulai diminati sehingga lambat laun akan menciptakan tatanan sosial ekonomi yang lebih adil dan meningkatkan stabilitas nasional. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 47 (No. 1) |
| Halaman | : | 133-155 |
| Abstrak | : | Jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI), terutama pekerja domestik migran perempuan yang bekerja di luar negeri, semakin bertambah dikarenakan tingginya permintaan akan pekerja domestik perempuan dari negara berkembang yang dapat dibayar murah. Banyaknya permintaan tersebut mengakibatkan terjadinya feminisasi migrasi sebagai bentuk pemberdayaan perempuan, di mana jumlah pekerja migran perempuan menjadi lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Akan tetapi, feminisasi migrasi ini juga membawa permasalahan karena pekerja migran perempuan lebih rentan mengalami kekerasan dan eksploitasi. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji posisi pemerintah Indonesia dalam membuat kebijakan dan mengadakan program untuk melindungi TKI, terutama pekerja migran perempuan, dengan mengambil contoh dari Singapura di mana pemerintahnya telah menetapkan beberapa regulasi yang menjamin bak dan kesejahteraan pekerja migran dan mengadakan kegiatan pemberdayaan berupa pelatihan keterampilan dan pendidikan finansial. Tulisan ini membahas evolusi kebijakan pemerintah Indonesia termasuk revisi Undang-Undang No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri, yang sayangnya bingga saat ini belum mengintegrasikan perspektif gender. Tulisan ini menyimpulkan bahwa perlu adanya peraturan yang memberikan perlindungan khusus kepada pekerja migran perempuan serta kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara tujuan penempatan untuk mendukung program pemberdayaan pekerja migran perempuan demi meningkatkan kesejahteraan hidup serta memaksimalkan potensi perempuan sebagai aktor pembangunan negara. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Journal of the American Statistical Association |
| Volume / Edisi | : | 113 (No. 522) |
| Halaman | : | 906-918 |
| Abstrak | : | There are many applications in which a statistic follows, at least asymptotically, a normal distribution with a singular or nearly singular variance matrix. A classic example occurs in linear regression models under multicollinearity but there are many more such examples. There is well-developed theory for testing linear equality constraints when the alternative is two-sided and the variance matrix is either singular or nonsingular. In recent years, there is considerable, and growing, interest in developing methods for situations in which the estimated variance matrix is nearly singular. However, there is no corresponding methodology for addressing one-sided, that is, constrained or ordered alternatives. In this article, we develop a unified framework for analyzing such problems. Our approach may be viewed as the trimming or winsorizing of the eigenvalues of the corresponding variance matrix. The proposed methodology is applicable to a wide range of scientific problems and to a variety of statistical models in which inequality constraints arise. We illustrate the methodology using data from a gene expression microarray experiment obtained from the NIEHS’ Fibroid Growth Study. Supplementary materials for this article are available online. |
| Pengarang | : | Paulus Hadisuprapto |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Pranata |
| Volume / Edisi | : | I-3, APRIL-JULI (No. 0) |
| Halaman | : | 17-27 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 47 (No. 1) |
| Halaman | : | 115-132 |
| Abstrak | : | Penyemaian ideologi radikal yang semakin masif di ruang siber yang menyasar kepada perempuan perlu ditanggulangi melalui strategi yang lebih adaptif. Perempuan yang awalnya bergerak di wilayab domestik juga mendapatkan kesempatan untuk bergerak di wilayah kekerasan dan terlibat lebih dalam di jaringan sosial yang dimiliki Islamic State (IS). IS adalah organisasi teroris yang cukup berhasil memanfaatkan ruang siber dalam proses radikalisasi sehingga masih cukup relevan untuk dibahas. Kampanye melawan narasi radikal oleh para penggiat deradikalisasi belum cukup maksimal karena masih mengandalkan metode kontra-narasi dengan melakukan perlawanan narasi secara langsung, Namun, pemanfaatan metode narasi-alternatif yang secara khusus didesain kepada perempuan yang telah terpapar paham radikal perlu dimaksimalkan dengan inovasi narasi yang disampaikan secara halus dan inovatif dengan tidak menyerang secara langsung pemahaman atau ideologi yang mereka miliki. Diharapkan dengan adanya pola penyampaian pesan yang tepat membuat upaya deradikalisasi online di ruang siber menjadi lebih optimal |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Pranata |
| Volume / Edisi | : | I-3, APRIL-JULI (No. 0) |
| Halaman | : | 1-16 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | Manalang, Jazirah Rose |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 47 (No. 1) |
| Halaman | : | 98-114 |
| Abstrak | : | Tabun 2018 adalah Tahun Pesta Demokrasi. Selain diselenggarakannya Pemiliban Kepala Daerah (Pilkada) Serentak di 171 wilayah, Era Reformasi Indonesia akan menginjak usia ke-20. Salah satu aspek yang perlu menjadi perhatian dalam mengonsolidasikan demokrasi Indonesia adalah kesetaraan gender dalam kebidupan politik. Pasca Pemilu 2014, ketimpangan gender masih terjadi dalam konstelasi politik Indonesia. Hal itu bisa dilibat dari belum idealnya jumlab anggota parlemen perempuan, mandeknya proses legislasi rancangan undang-undang (RUU) yang mampu mendorong kesetaraan dan keadilan gender, RKHUP (Rancingan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana), yang berpotensi mendiskriminan perempuan dan minimnya kandidat perempuan dalam perhelatan Pilkada 2018. Dalam analisis ini, saya berargumen bahwa ketimpangan zender dalam politik Indonesia pasca Pemilu 2014 diakibatkan oleh: (1) minimnya jumlab perempuan yang memiliki jabatan politik; (2) belum efektifnya koalisi lintas parpol antara politisi perempuan dalam menjadvokasikan krietaraan gender serta kepentingan perempuan: dan (3) masih pragmatisnya partai politik dalam melakukan rekruturen politik. Argamen saya dalam analisis ini adalah permasalahan ketimpangan gender dalan? politik Indonesia tidak dapat banya diselesaikan dengan solusi teknis. Sebagai stimah solusi, arya mengajukan Strateji 3K (Kesadaran, Kebaulivan dan Koalisi). Anulius ini bertujuan untuk mumbuka diskarsut baru mengenai upaya reahsasi kesetaram dan keadilan gender dalam perpolitikan Indonesia kedepannya. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 47 (No. 1) |
| Halaman | : | 69-97 |
| Abstrak | : | Tulisan ini mengkaji bagaimana perempuan diposisikan untuk berperan di bidang keamanan internasional melalui keikutsertaan mereka dalam Misi Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kajian ini lahir dari masalah umum dalam studi keamanan dari perspektif feminis internasional, yang mengajukan pertanyaan; dimana perempuan? Walaupun mereka adalah setengah dari populasi dunia namun misi perdamaian banya berisikan tiga persen perempuan. Di Asia Tenggara Indonesia mengirim jumlah penjaga perdamaian terbesar ke misi perdamaian PBB, namun jumlah perempuan dalam misi tersebut jauh lebih sedikit bila dibandingkan kontribusi negara berkembang lain, seperti Ghana dan Mongolia. Oleh karena itu, patut digali tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia sehingga pasukan perdamaian yang dikirimnya didominasi oleh laki-laki. Dari hasil penelitian lapangan ditemukan bahwa masih terdapat stereotip yang membatasi perempuan pada peran-peran tertentu yang dianggap sesuai dengan sifat keibuannya sehingga dianggap kurang mampu menempati penugasan strategis. Tantangan ini bertambah dengan adanya aturan bagi perempuan untuk mendapatkan izin dari atasan dan suami sebelum berangkat misi, serta pembatasan daerah tujuan misi dan jenis penempatan bagi perempuan. Upaya inovatif dapat dilakukan Indonesia untuk meningkatkan jumlah perempuan dalam misi perdamaiannya, termasuk antara lain dengan mengubah peraturan yang menyulitkan, mengadakan kuota dan mengadakan sharing antara perempuan yang sudah kembali dari misi PBB dengan yang berminat untuk berangkat. |