
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Fenomena |
| Volume / Edisi | : | 1/3, OKTOBER-DESEMBER (No. 1) |
| Halaman | : | 55-59 |
| Abstrak | : | Dalam peringatan seabad meninggalnya Kartini, kita perlu membahas pribadi Kartini yang tidak hanya merupakan benih gerakan feminisme (atau lebih lazim disebut 'gerakan emansipasi wanita') di Indonesia, tetapi sekaligus sebagai seorang humanis teis Tuhan bagi Kartini bukanlah jalan lempang dan terang yang dibangun oleh akal budi praktis Kantian. Jalan itu tak henti-hentinya harus dicari kembali oleh masing-masing diri. Dalam perspektif ini, Tuhan bukan hanya keniscayaan dari dorongan etis, sang Otoritas moral yang menjadi mediator yang menjadi acuan nilai-nilai yang universal. Tuhan adalah sebuah pengalaman batin yang unik bagi tiap manusia. Sebuah gagasan yang perlu disimak terutama sebagai perbandingan terhadap paham humanisme ateis. |
| Pengarang | : | Y. Fristian Yulianto |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Fenomena |
| Volume / Edisi | : | 1/3, OKTOBER-DESEMBER (No. 1) |
| Halaman | : | 50-54 |
| Abstrak | : | Berbagai fenomena yang berkembang, baik dalam masyarakat Indonesia maupun dalam Gereja Indonesia, memancing suatu desakan hebat agar slogan "Sapere aude!", yang pernah bergaung di Eropa pada abad ke-18, diserukan kembali sekarang ini. Ada suatu kecenderungan lemahnya kehendak untuk berpikir sendiri, padahal manusia pada dirinya sendiri diperlengkapi kemampuan berpikir (kesadaran dan kecerdasan). Dalam hal ini, berpikir secara utuh mensyaratkan kegiatan budi, yang menunjuk pada u?aya berpikir rasional-reflektif-dialektis-inklusif, dan kegiatan hati, yang memiliki nalar berpikirnya sendiri. Maka, diperlukan pendidikan berpikir yang dapat ditempuh melalui iklim dialog-diskusi, habitus menulis (dan membaca), kecintaan pada seni, dan live-in. |
| Pengarang | : | Lanur Alex |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Fenomena |
| Volume / Edisi | : | 1/3, OKTOBER-DESEMBER (No. 1) |
| Halaman | : | 47-49 |
| Abstrak | : | Abstraksi Dalam sejarah, antara lain pernah disajikan bukti-bukti rasional adanya Tuhan oleh Thomas Aquinas. Bukti-bukti itu disebut 'panca marga' (quinque viae). Panca marga dapat 'diperas' menjadi bukti kosmologis, ontologis, dan teleologis. Disebut bukti kosmologis karena titik-tolaknya adalah salah satu gejala dunia. Disebut bukti ontologis karena titik-tolaknya adalah tingkat-tingkat ada atau tingkat-tingkat kesempurnaan. Dan akhirnya; disebut bukti teleologis karena titik-tolaknya adalah aturan semesta alam dan tujuan aturan itu.Di samping bukti-bukti tersebut, masih ada bukti-bukti yang lain lagi. Bukti-bukti yang lain itu lazimnya disebut bukti-bukti eksistensial. Ada dua tokoh yang ditampilkan sehubungan dengan bukti-bukti eksistensial ini, yakni : John H. Newman (1801-1890), dan Gabriel Marcel (1889-1973). |
| Pengarang | : | Purnomo Ari .Yoh |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Fenomena |
| Volume / Edisi | : | 1/3, OKTOBER-DESEMBER (No. 1) |
| Halaman | : | 43-46 |
| Abstrak | : | Mengerti dan memahami arti kehidupan dan dunia ini merupakan suatu kebutuhan manusia yang berakal budi. Sebagai makhluk rasional, manusia tak akan berhenti bertanya mengenai makna hidupnya. Disini, makna hidup menjadi problem filosofis. Pertanyaan tentang tujuan dan akhir hidup sebagai suatu keseluruhan makna ini menjadi eksplisitasi eksistensi manusia yang berhadapan dengan segala faktisitasnya. Dalam tulisan ini, penulis hendak memaparkan beberapa pertanyaan tentang makna hidup itu dari sudut pandang Albert Camus, seorang novelis sekaligus filsuf eksistensialis abad ke-20. Bagi Camus, hidup ini sama sekali tak bermakna. Dan, dalam menghadapai ketidakbermaknaaan ini, manusia harus berdiri menjadi pemberontak. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Fenomena |
| Volume / Edisi | : | 1/3, OKTOBER-DESEMBER (No. 1) |
| Halaman | : | 38-42 |
| Abstrak | : | Tulisan ini mau mengangkat kritik Nietzsche terhadap ajaran agama Kristen, dan agamaagama yang menganut sistim kepercayaan monoteisme, yang memandang bahwa alam semesta berasal dari suatu realitas yang transenden. Bahwa obyek yang mereka sembah sebagai Tuhan adalah Tuhan yang menjadikan alam semesta dan kepadanya semua orang harus tunduk serta mengakui keberadaanNya¹. Di sini kelihatan, Nietzsche dengan percaya diri mengklaim bahwa teisme semacam itu sudah usang. Teori tentang penciptaan tidak dibutuhkan lagi dan kebenaran ilmiah dipertentangkan dengan kepercayaan agama. |
| Pengarang | : | Asikin Arif |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Fenomena |
| Volume / Edisi | : | 1/3, OKTOBER-DESEMBER (No. 1) |
| Halaman | : | 32-37 |
| Abstrak | : | Untuk mengerti pandangan Karl Jasper (1883-1969) mengenai Tuhan, perlu sebelumnya diuraikan tentang apa yang disebut Jasper "Das Umgreifende" (the encompassing: Yang Melingkupi). Pikiran dasar ini merupakan salah satu konsep yang sangat sulit. Tetapi dalam tulisan ini ditampakkan bahwa Jasper sendiri menganggap bahwa konsep ini dapat dijelaskan dalam bentuk yang sederhana, walaupun penjabarannya merupakan usaha yang kompleks sekali.¹ |
| Pengarang | : | Prasetyo Adi Kristi .Frans |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Fenomena |
| Volume / Edisi | : | 1/3, OKTOBER-DESEMBER (No. 1) |
| Halaman | : | 27-31 |
| Abstrak | : | Tulisan ini akan menguraikan pandangan seorang tokoh besar humanisme ateis, yaitu Friedrich Nietzsche. Dasar pemikirannya, kehendak untuk berkuasa, mendasari dua pendapatnya yang lain yaitu proklamasi tentang kematian Allah dan pandangannya terhadap moralitas. Kebenciannya pada agama Kristen terutama berkaitan dengan pandangan kristiani mengenai moralitas sungguh menjadi kritik yang sangat baik bagi perkembangan Gereja sendiri. Gereja yang pada saat itu menjadi satu-satunya pemegang otoritas kebenaran ternyata pada sisi tertentu menjadi sarang manusia munafik yang memberi dasar teologis bagi penderitaan manusia, tapi dirinya sendiri tampil mewah, kaya, mapan karena dekat dengan penguasa. Secara positif, Nietzsche ingin membentuk manusia-manusia yang otentik. Kritik itu tetap hidup sampai sekarang karena pemikirannya tetap saja relevan dan kontekstual. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Fenomena |
| Volume / Edisi | : | 1/3, OKTOBER-DESEMBER (No. 1) |
| Halaman | : | 22-26 |
| Abstrak | : | Tulisan ini mendekati latar belakang munculnya antihumanisme bertolak dari tesis Althusser, bahwa pemikiran Marx secara teoretis antihumanis. Posisi antihumanis ini mulai sejak terjadinya patahan epistemologis dalam pemikiran Marx, yaitu ketika ia tidak lagi memakai konsep 'manusia'yang bebas dan rasional, tetapi menggantinya dengan konsep relasi produksi. Mengikuti Marx, Althusser menolak penggunaan konsep manusia (humanisme) sebagai dasar teori. Meski harus senantiasa dikritisi, humanisme - sebagai sebuah ideologi - tidak dapat dihapus, dan secara praktis tetap diperlukan bagi perjuangan pembebasan. |
| Pengarang | : | C.B. Mulyatno |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Fenomena |
| Volume / Edisi | : | 1/3, OKTOBER-DESEMBER (No. 1) |
| Halaman | : | 13-17 |
| Abstrak | : | Ateisme sebagai wacana pemikiran selalu terkait dengan tokoh-tokoh tertentu. Akan tetapi, tak dapat dipungkiri bahwa ateisme merupakan tema yang selalu aktual untuk didiskusikan karena tidak hanya berhenti pada wacana teoritis melainkan menjelma dalam corak kehidupan dan peradaban. Analisis terhadap peradaban yang bercorak ateis inilah yang akan menjadi fokus tulisan ini. Pertama, akan dibahas soal ateisme yang merupakan kata (konsep) yang hidup. Selanjutnya akan dianalisis corak kehidupan ateis di era teknologi dan industrialisasi sekarang ini. Poin ketiga yang akan kita kaji adalah kontradiksi dan mitos anthroposentris di zaman sekarang. Tulisan ini akan diakhiri dengan beberapa kalimat penutup yang diharapkan justru membuka wacana untuk merefleksikan lebih lanjut tentang peradaban yang bercorak ateis di zaman sekarang. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Fenomena |
| Volume / Edisi | : | 1/3, OKTOBER-DESEMBER (No. 1) |
| Halaman | : | 8-12 |
| Abstrak | : | Dunia modern tak lepas dari tiga poros entitas kenyataan yang menjadi obyek penelaahan filsafati, yakni: alam, manusia dan Tuhan. Dalam tulisan ini, akan dipaparkan salah satu seginya, yakni humanisme sebagai salah satu tema filsafat yang penting dalam kebudayaan modern. Fokus tulisan ini terletak pada penjabaran humanisme ateis dengan latar belakang historis dan konteks pemikiran para tokoh-tokohnya, baik yang menjabarkan argumentasi theistik maupun atheistik. Akhirnya, tak lupa juga dilampirkan pemikiran dan tokoh-tokoh materialisme historis dalam kaitan dan kritiknya terhadap agama. |