
| Pengarang | : | Priyadi, Arief,Djadijono, M |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Bina Darma |
| Volume / Edisi | : | 10-36 (No. 36) |
| Halaman | : | 45-49 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Respons : Jurnal Etika Sosial |
| Volume / Edisi | : | 22 (No. 1) |
| Halaman | : | 63-87 |
| Abstrak | : | Tulisan ini berbicara tentang paradoks seni. Di satu sisi seni merupakan ekspresi kebebasan. Namun, di sisi lain, seni dapat dinilai melanggar batas-batas norma etis dalam konteks agama, budaya, dan pendidikan. Di balik polemik mengenai kedudukan estetika dalam pendidikan, tulisan ini menunjukkan bahwa seni mengandung nilai etis. Bahkan konsep-konsep seperti demokrasi, kesetaraan gender, dan pluralitas dapat dikembangkan dalam pendidikan seni. |
| Pengarang | : | Narjoko, Dionisius,Mangunsong, Carlos |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Bina Darma |
| Volume / Edisi | : | 10-36 (No. 36) |
| Halaman | : | 33-44 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | Saldi Ridwan |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Bina Darma |
| Volume / Edisi | : | 10-36 (No. 36) |
| Halaman | : | 27-32 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Respons : Jurnal Etika Sosial |
| Volume / Edisi | : | 22 (No. 1) |
| Halaman | : | 39-62 |
| Abstrak | : | Dalam perspektif pendidikan akhlak/moral, pengajaran etika di masyarakat majemuk yang peserta didiknya memeluk agama dan menghayati kebudayaan lokal yang berbeda-beda memiliki suatu tantangan yang tidak ringan. Misi dari pendidikan akhlak/moral secara singkat dapat dirumuskan sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kemauan dan kemampuan peserta didik untuk berbuat baik. Masalahnya, etika sebagai refleksi kritis-filosofis seringkali dianggap menawarkan alternatif standar moral ideologis yang bersaing dengan standar moral yang sudah terlebih dahulu diyakini peserta didik melalui penghayatan agama dan kebudayaan lokalnya. Disini diajukan argumen bahwa, meskipun pengajaran etika diperlukan untuk membuat pendidikan akhlak/moral efektif mencapai tujuannya, peran etika sebaiknya tidak mengambil alih peran agama dan kebudayaan lokal dalam pendidikan akhlak/moral. Peran etika dan peran agama dan kebudayaan lokal seharusnya saling melengkapi. Peran etika lebih pada pengembangan kemampuan peserta didik untuk berbuat baik, sementara peran agama dan kebudayaan lokal lebih pada penguatan kemauan peserta didik untuk berbuat baik. Dengan adanya keterbatasan peran etika itu, pengajaran etika di masyarakat majemuk memerlukan etika tersendiri untuk menjaga sinergi antar peran sehingga pendidikan akhlak/ moral efektif mencapai tujuannya. Enam prinsip etika diajukan disini sebagai pegangan dalam mengajarkan etika, yaitu otonomi, tanggung jawab, transparansi, keadilan, kepedulian, dan profesionalisme. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Bina Darma |
| Volume / Edisi | : | 10-36 (No. 36) |
| Halaman | : | 19-26 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Respons : Jurnal Etika Sosial |
| Volume / Edisi | : | 22 (No. 1) |
| Halaman | : | 11-37 |
| Abstrak | : | Pendidikan agama mendapat tempat yang khusus dalam perguruan tinggi Indonesia dan diharapkan dapat membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Namun, kekerasan dan pelanggaran HAM atas nama agama atau Tuhan justru meningkat, terutama pada generasi muda di Indonesia. Tulisan ini ingin menunjukkan bahwa format pendidikan agama di universitas yang dikumpulkan sesuai agamanya justru dapat menghambat pertumbuhan iman dan akhlak mulia yang diharapkan serta tidak sesuai dengan realitas agama dan keyakinan yang berbeda di Indonesia. Tulisan ini mengemukakan pemikiran James W. Fowler yang dapat memberikan orientasi bagi format seharusnya dari pendidikan agama di Perguruan Tinggi di Indonesia agar tujuan pendalikan agama tersebut dapat tercapai. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Bina Darma |
| Volume / Edisi | : | 10-36 (No. 36) |
| Halaman | : | 6-18 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Respons : Jurnal Etika Sosial |
| Volume / Edisi | : | 23 (No. 2) |
| Halaman | : | 235-257 |
| Abstrak | : | Tulisan ini mengkaji krisis kepedulian dalam perkembangan tiga rezim kapitalisme dan bagaimana ia seharusnya ditanggapi melalui perspektif Nancy Fraser. Dengan merekonstruksi pemikiran Karl Polanyi dalam kerangka feminisme sosialis, Fraser memahami dua sisi kapitalisme-produksi dan reproduksi sosial-sebagai kondisi yang memungkinkan terjadinya krisis kepedulian dan lalu menawarkan suatu gerakan rangkap tiga sebagai jalan untuk mengatasi itu. Dengan cara ini Fraser berhasil menempatkan krisis kepedulian tidak hanya dalam batas-batas negara-bangsa, tetapi juga dalam situasi abad ke- 21 yang terglobalkan. |
| Pengarang | : | Simon, Untara |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Respons : Jurnal Etika Sosial |
| Volume / Edisi | : | 23 (No. 2) |
| Halaman | : | 205-234 |
| Abstrak | : | Dalam banyak kasus politik kontemporer, teori tentang kekuasaan yang terfokus pada otoritas tidak lagi memadai untuk menjelaskan berbagai fenomena politik. Ini terjadi karena dalam sistem demokrasi masa kini, kehidup- an politik merupakan ruang diskursus gagasan yang mengandaikan kemampuan berpikir rasional dari partisipannya. Di satu sisi, sistem ini nampak adil karena menunjukkan ciri egaliter masyarakat yang akan menilai setiap gagasan secara objektif. Dalam kondisi ini, kekuasaan yang mendasarkan diri pada otoritas tidak akan mendapat legitimasi yang cukup bila tidak didukung oleh alasan- alasan yang rasional dalam menjalankan kebijakannya. Di sisi lain, dalam demokrasi semacam ini, hampir selalu muncul kelompok masyarakat dengan berbagai bentuk teknik kontrol yang mengatasnamakan rasionalitas, dijalankan oleh tiap individu demi mencapai kekuasaan. Dalam gagasan Michel Foucault teknik kontrol terhadap masyarakat ini terjadi melalui injeksi pengetahuan dalam berbagai permainan wacana. Baginya, kehidupan bersama pada dasarnya berciri politis dan penuh dengan pertarungan rasionalitas. Di sinilah, proses hidup bersama tidak lagi tergantung sepenuhnya pada institusi atau figur tertentu namun tergantung pada proses penyebaran pengetahuan yang diinjeksikan bagi setiap individu anggota masyarakat. |