OPAC - Pencarian Artikel Jurnal & Majalah Library USD

Menampilkan semua artikel (Halaman 760 dari 34166, Total: 341652 data)

Spiritualitas Ignasian Memandang Penderitaan.

Pengarang : Gabriel Abdi Susanto
Nama Majalah/Jurnal : Spiritualitas Ignasian
Volume / Edisi : 24 (No. 2)
Halaman : 187-203
Abstrak : Spiritualitas Ignasian memberikan perhatian khusus pada makna penderitaan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Kristus. Dalam ajaran Ignatius Loyola, penderitaan tidak dilihat sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai jalan untuk menanggapi panggilan Kristus dengan kesetiaan. Melalui meditasi seperti Panggilan Raja dan Meditasi Dua Panji, para peserta retret diajak untuk memahami penderitaan sebagai bagian dari hidup yang berpusat pada Allah, di mana penderitaan menjadi cara untuk menghayati kedekatan dengan Kristus yang menderita. Penderitaan, dalam konteks ini, bukan dimaksudkan sebagai sesuatu yang dicari demi penderitaan itu sendiri, melainkan sebagai ekspresi dari sikap lepas bebas dan kesediaan untuk mengikuti kehendak Allah dalam setiap situasi. Dengan menerima penderitaan, seseorang mengalami kasih Allah yang memerdekakan, yang membawa kepada transformasi batin dan pemahaman yang lebih dalam tentang iman. Spiritualitas Ignasian, dengan demikian, menempatkan penderitaan sebagai bagian penting dalam perjalanan rohani, yang membawa individu kepada kehidupan yang lebih bermakna dalam kesatuan dengan Kristus.

Mendidik Hati Sang Peziarah: Dialog Antara Dilexit Nos Dan Spes Non Confundit.

Pengarang : Antonius Firmansyah
Nama Majalah/Jurnal : Spiritualitas Ignasian
Volume / Edisi : 24 (No. 2)
Halaman : 171-186
Abstrak : Umat Kristiani, sebagai peziarah rohani di dunia ini, mengarungi berbagai bahtera hidup menuju akhir jaman. Pada saat yang sama, mereka juga mengarungi begitu banyak poros dunia yang berbeda. Menyelaraskan kedua peziarahan tersebut menghadirkan tugas yang tidak pernah berakhir bagi umat Kristiani yaitu tugas untuk selalu menyegarkan kembali energi spiritual mereka. Imbas dari perjalanan sekuler sebagai umat Kristen membawa banyak tekanan ke pusat spiritualitas mereka, yaitu hati. Ensiklik Paus Fransiskus, Dilexit Nos, memberi kita wawasan yang lebih menyeluruh tentang kapasitas spiritual dari hati. Secara khusus, pembahasannya tentang hati manusia dari sudut pandang Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola dapat memberi kita inspirasi tentang hati sebagai sumber energi spiritual untuk melakukan peziarahan rohani di dunia ini. Dengan menerapkan berbagai literatur teologi spiritualitas untuk membaca Ensiklik tersebut, makalah ini akan menguraikan peran Latihan Rohani dalam memelihara hati kita sebagai tempat ziarah spiritual. Dikombinasikan dengan bulla Paus Fransiskus untuk Yubelium 2025, Spes Non Confundit, kita dapat menyimpulkan bahwa tanda hati yang siap untuk peziarahan spiritual terletak pada kemampuannya untuk menumbuhkan harapan eskatologis. Peziarahan spiritual umat Kristen perlu didasarkan pada kapasitas hati untuk berharap dalam proses menuju pemenuhan Kerajaan Allah.

Tinjauan Multidimensional Relasi Yayasan (Pendidikan) Kanisius Dan Keuskupan Agung Semarang.

Pengarang : Amadea Prajna Putra Mahardika
Nama Majalah/Jurnal : Spiritualitas Ignasian
Volume / Edisi : 24 (No. 2)
Halaman : 147-170
Abstrak : Makalah ini mengeksplorasi hubungan multidimensional antara Yayasan (Pendidikan) Kanisius (YK) dan Keuskupan Agung Semarang (KAS), dengan menyoroti tantangan operasional dan relasional dalam kerangka pendidikan Katolik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka digabungkan dengan pengalaman empiris serta wawancara. Berdasarkan pengalaman penulis di YK Cabang Surakarta, studi ini menguraikan misi dasar YK untuk menyediakan pendidikan Katolik yang dihadapkan pada ketidakstabilan finansial, penurunan jumlah murid, dan dukungan terbatas dari KAS. Kemitraan yang tegang ini dianalisis melalui filsafat sosial Jawa dan dinamika kekuasaan Michel Foucault, menunjukkan bahwa struktur hierarkis dan komunikasi yang inkonsisten dari KAS menghambat efektivitas YK. Penulis menganjurkan "sinodalitas" melalui penguatan dialog dan saling pengertian, dengan landasan spiritualitas Ignasian dan model "Gereja yang melayani" dari Avery Dulles. Pendekatan ini menyerukan ketaatan kreatif, di mana YK dan KAS berkolaborasi dalam pengambilan keputusan untuk lebih mengatasi tantangan pendidikan dan sosial. Studi ini mengacu pada wawasan teologis dari Evangelii Gaudium dan Fratelli Tutti, serta mendesak KAS untuk secara aktif mendukung misi YK, terutama dalam melayani komunitas terpinggirkan. Singkatnya, makalah ini menekankan model "Gereja yang melayani" untuk mentransformasi hubungan KAS-YK menjadi kemitraan yang menghormati komitmen pendidikan dan gerejawi. Perbaikan komunikasi dan pembagian sumber daya sangat penting untuk dampak yang berkelanjutan, menciptakan komunitas berorientasi misi yang selaras dengan ajaran sosial Gereja dan kebutuhan masyarakat Indonesia yang beragam.

Analisis Transformasi Diri Kanisian Melalui Latihan Kepemimpinan Ignasian Di Kolese Kanisius Jakarta.

Pengarang :
Nama Majalah/Jurnal : Spiritualitas Ignasian
Volume / Edisi : 24 (No. 2)
Halaman : 122-146
Abstrak : Penyelenggaraan program-program latihan kepemimpinan Ignasian di Kolese Kanisius Jakarta perlu untuk dievaluasi secara berkala. Penelitian ini ditujukan untuk menelaah kedalaman transformasi diri Ignasian yang terwujud dalam diri para siswa Kolese Kanisius serta faktor-faktor apa saja yang menjadi prasyaratnya, dengan sebelumnya menjawab pertanyaan mendasar tentang apakah yang menjadi esensi dari suatu transformasi diri yang berciri Ignasian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka yang berfokus pada dokumen-dokumen pendidikan Serikat Yesus dan wawancara mendalam dengan 9 pengurus OSIS (Presidium) yang telah menyelesaikan seluruh program latihan kepemimpinan Ignasian di Kolese Kanisius. Pemilihan responden dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling sementara data wawancara diolah dengan metode analisis Miles & Huberman. Transformasi diri Ignasian dipahami sebagai terbentuknya “men and women for and with others” dan “human excellence” yang menjadi dua rumusan komplementer dari satu esensi transformasi diri yang sama. Transformasi diri tersebut ditemukan terjadi dalam diri para Kanisian yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian latihan kepemimpinan Ignasian di Kolese Kanisius. Dampak transformatif muncul dalam empat ranah keunggulan pribadi (competence, conscience, compassion, commitment) yang diarahkan pada pelayanan bagi sesama. Kanisian menunjukkan karakteristik pemimpin Ignasian yang mampu mengenali diri dan mengarahkan tindakan mereka terhadap kebutuhan dunia. Transformasi diri yang dialami Kanisian diperoleh melalui latihan kepemimpinan yang mengikuti alur Paradigma Pedagogi Ignasian, suasana sekolah yang memfasilitasi terjadinya ongoing formation, lingkungan sekolah yang memiliki bahasa Ignasian yang sama, rekan perjalanan selama proses formasi, serta role model dari Presidium sebelumnya.

Penerapan Pelajaran Menggambar Secara Dialogis Berbasis Paradigma Pedagogi Ignasian.

Pengarang : Danang Bramasti
Nama Majalah/Jurnal : Spiritualitas Ignasian
Volume / Edisi : 24 (No. 2)
Halaman : 103-121
Abstrak : Pelajaran menggambar dalam ekstrakurikuler bagi sebagian orang mungkin hanya dianggap hobi yang tidak memiliki dampak berarti pada pembelajaran. Namun, jika pelajaran tersebut dilaksanakan secara dialogis dengan menggunakan Kurikulum Berbasis Paradigma Pedagogi Ignasian, hasilnya akan sangat kreatif dan kontekstual. Proses dialog dilaksanakan dengan menggunakan 3 jenis dialog yaitu, dialog sehari-hari, dialog epistemologis, dan dialog ontologis. Tulisan ini merupakan refleksi penulis atas proses pelajaran menggambar yang diampu oleh penulis dan pembahasan lebih lanjut atas hasil dari pelajaran tersebut. Di dalamnya diperlihatkan bagaimana pelajaran menggambar secara dialogis dapat mencapai hal dasar yang dibutuhkan dalam pembelajaran, yaitu kreativitas dan kontekstualisasi. Sumber utama refleksi ini adalah pengalaman pengulis dalam menyelenggarakan pelajaran menggambar dan buku SMP Kanisius Muntilan, Betlehem van Java (2024), yang berisi gambar  dan tulisan dari 4 pelajar dari SMP Kanisius Muntilan. Refleksi dilakukan berdasarkan kerangkan Kurikulum Berbasis Paradigma Pedagogi Ignasian yang diterbitkan oleh Asosiasi Sekolah Jesuit Indonesia.Kata kunci: Kurikulum Berbasis Paradigma Pedagogi Ignasian, dialog, kreatif, kontekstual, SMP Kanisius Muntilan.

Relations between dimensions of self perceptions and academic achievement in Chinese children: A cross-lagged panel analysis.

Pengarang : Zhang, Y., Dong, Q., Xiao, B., Coplan, R. J., Wang, J., & Ding, X.
Nama Majalah/Jurnal : School psychology
Volume / Edisi : 40 (No. 4)
Halaman : 524-530
Abstrak : The goal of the present study was to examine the associations between different dimensions of self-perceptions and academic achievement in Chinese children. Participants were 604 children in Grades 4–7 attending primary and middle schools in mainland China (342 boys, 262 girls; Mage = 11.25 years). Measures of children’s self-perceptions and academic achievement were collected via self-reports and school records at two time points over one academic year. Results from cross-lagged panel analysis indicated that after controlling for the effects of gender, grade, and stabilities, Time 1 perceived scholastic competence positively predicted Time 2 academic achievement (β = .08, p < .05), and Time 1 academic achievement predicted Time 2 perceived scholastic competence (β = .10, p < .05). Time 1 perceived athletic competence negatively predicted Time 2 academic achievement (β = −.08, p < .01). The findings provide evidence that self-perceptions have different facets and are differently associated with academic achievement and emphasize the reciprocal predictive relations between perceived scholastic competence and academic achievement and the negative impact of perceived athletic competence self-perception on academic achievement. The implications of these results are discussed in the context of self-development and academic performance within Chinese culture, as well as their educational implications for school practices. 

Exploring a dual factor mental health screening model with children in grades 5-10.

Pengarang : Renshaw, T. L., Bolognino, S. J., & Clark, K. N.
Nama Majalah/Jurnal : School psychology
Volume / Edisi : 40 (No. 4)
Halaman : 516-523
Abstrak : The dual-factor mental health (DFMH) model posits that mental health comprises two distinct yet interrelated dimensions: psychological distress and psychological well-being. This study used responses to a 10-item measure within a self-report risk survey to explore the prevalence rates and criterion validity of a DFMH screening model based on norm-referenced classifications with a nationally representative sample of U.S. children in Grades 5–10 (N = 5,949). Students’ responses were classified into one of four possible DFMH statuses: complete mental health, troubled, symptomatic but content, or vulnerable. Results indicated most students were classified as complete mental health (71.2%), followed by symptomatic but content (13.2%), vulnerable (10.6%), and troubled (5.1%), respectively. Criterion validity findings showed students classified in the complete mental health group had the most beneficial concurrent outcomes across several academic, behavioral, and emotional indicators when compared with students in all other DFMH groups. Additionally, students in the symptomatic but content group demonstrated substantively better outcomes than both vulnerable and troubled students, whereas students in the vulnerable group had similar concurrent outcomes compared to those in the troubled group. Overall, results from this study provide further validity evidence supporting the interpretation and use of a DFMH screening model in schools with a nationally representative sample of elementary, middle, and high-school-aged youth. Implications and directions for future research are discussed.

Understanding depression and anxiety rates of school psychology graduate students.

Pengarang : Hulac, D. M., Ryan, A. M., Pratt, A., Nyberg, J., & Kriescher, S.
Nama Majalah/Jurnal : School psychology
Volume / Edisi : 40 (No. 4)
Halaman : 504-515
Abstrak : School psychology graduate students experience many risk factors for problems with mental health, including high workloads, financial distress, and challenging relationships with faculty that can exacerbate feelings of anxiety and depression. Although there have been studies that have investigated depression and anxiety amongst graduate students in general (Eisenberg et al., 2007) and health service psychology students in particular (Hobaica et al., 2021), there are reasons to believe that school psychology graduate students may have different experiences. To date, no research has been found investigating the depression and anxiety symptoms of graduate students in school psychology programs. A survey was sent to 194 school psychology training programs, and 291 graduate students completed it. Approximately one in four graduate students reported moderate to severe levels of depressive symptoms, while one in three reported moderate to severe levels of anxiety symptoms. These symptoms were significantly higher in graduate students identifying as lesbian, gay, bisexual, transgender, queer/questioning, and more identities, women, or reported being from a lower socioeconomic background. There were no differences in depression or anxiety symptoms between the type of program (i.e., doctoral or specialist) or years in program. Implications for trainers of school psychology are discussed.

Lets talk about it: Black youths perceptions on the development of a school based social media campaign.

Pengarang : White, H. I., Aguayo, D., Smith, A. K., Luisi, M. L. R., Ngowi, L., McCall, C. S., Copeland, C., Huang, M., Reinke, W. M., Peters, C. M., Thompson, A. M., & Herman, K. C.
Nama Majalah/Jurnal : School psychology
Volume / Edisi : 40 (No. 4)
Halaman : 493-503
Abstrak : The increase in social media mental health (MH) campaigns provides an opportunity to improve awareness and attitudes toward MH. However, racial disparities remain in these social media campaigns. Black youth who participated in MH social media campaigns reported lower levels of improvement in stigma and help-seeking than their White peers. We employed a youth participatory action research (YPAR) process to expand on a previous community-wide MH social media campaign (A. Thompson et al., 2021), focusing on a Central Midwest community. We studied Black adolescents’ perceptions of MH stigma and help-seeking to determine essential features of a culturally responsive MH social media campaign for Black youth. With a lead youth-research collaborator, the research team designed the following two-staged study. The first stage consisted of four semistructured focus group interviews (FGIs) (N = 20), analyzed by using a rapid analysis strategy to obtain results for the development of the campaign. In the second stage, using YPAR’s iterative and action-based process, five youth researchers collaborated with the research team on the campaign’s design. Following the two stages, the researcher’s thematic analysis resulted in three themes: (a) broadening horizons for campaign designers and MH professionals; (b) considering mistrust of schools and school personnel; and (c) diverse experiences, sustainability, and accessibility in a campaign. Findings indicated that while culturally responsive social media campaigns to promote MH can be designed, mistrust of adults in schools is likely to hinder the impact of such campaigns. Implications for school psychology practice and research are discussed.

Assessing attention deficit hyperactivity disorder related impairment: Differential item functioning based on child demographic characteristics.

Pengarang : Rosenthal, E., Fu, Q., DuPaul, G. J., Reid, R., Anastopoulos, A. D., & Power, T. J.
Nama Majalah/Jurnal : School psychology
Volume / Edisi : 40 (No. 4)
Halaman : 483-492
Abstrak : Although numerous studies have examined how child demographic characteristics may impact ratings of attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) symptoms, there is limited research on how these factors are related to ratings of impairment. This study examined child characteristics (assigned sex, age, race, ethnicity) that may affect parent and teacher ratings of ADHD symptom-related impairments in relationships with family and/or teacher, peer relationships, behavior disruption, academic impairment, homework performance, and self-esteem. The study was conducted using independent U.S. national samples of parents (n = 2,075) and teachers (n = 1,070). Informants rated impairments related to inattention and hyperactivity–impulsivity using the ADHD Rating Scale–5. Rasch analyses were used to examine differential item functioning in relation to child characteristics. Separate analyses were conducted for inattention- and hyperactivity–impulsivity-related impairment for both the parent and teacher samples. For teacher ratings, only two items (behavior disruption, homework impairment) demonstrated differential item functioning with intermediate or large effect sizes (≥ .426 logits) in relation to any child characteristic; whereas for parent ratings, all six items displayed differential item functioning with at least intermediate effect sizes in relation to one or more child characteristics. The findings indicated several areas in which child characteristics may have an impact on ratings of ADHD-related impairment, particularly based on parent ratings, which have potential implications for the diagnostic assessment of ADHD and highlight the need for further research.
← Back to HOME