| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 13-24 |
| Abstraksi Narasi | : | Proses Kreatif merupakan suatu fenomena intra-psikis, dan bagian dari suatu sistem terbuka. Dalam arti bahwa kreativitas bukanlah semata-mata pembawaan sejak lahir yang melekat pada diri seseorang. Kreativias dapat ditumbuhkan melalui penciptaan suasana dan lingkungan yang kondusif. Pendidikan sebagai institusi formal merupakan lingkungan yang kondusif dalam menumbuhkankembangkan potensi kreatif siswa. Pendidikan formal pada hakikatnya bertujuan mengembangkan potensi siswa sesuai dengan kemampuan sehubungan dengan kecerdasan, kejujuran, ketrampilan. Melalui pendidikan, siswa dapat mengenali kemampuannya dan mempunyai karsa untuk mempertahankan kehormatan diri. Salah satu komponen dalam pendidikan formal tersebut adalah pengajaran sastra (termasuk drama). Pengajaran drama bertujuan agar siswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman bersastra, yang mencakup dua hal yaitu pengalaman berapresiasi dan pengalaman berekspresi. Pengalaman berapresiasi dapat mempertemukan siswa dengan gagasan , pikiran dan imajinasi pengarang, Pengalaman berekspresi memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan proses kreatif . Semua itu akan menjadi tempat pesemaian potensi-potensi kreativitas siswa. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 125-135 |
| Abstraksi Narasi | : | Dewasa ini, bidang konstruksi sipil cukup pesat perkembangannya. Dalam kaitan ini, konstruksi beton memegang peranan penting dalam mewujudkan sarana dan prasarana kebutuhan manusia, baik berupa rumah pribadi maupun proyek-proyek dalam skala yang besar. Berbagai kelebihan konstruksi beton bila dibandingkan dengan bahan bangunan lain (kayu atau baja), yaitu (1) tahan terhadap kelapukan, (2) tahan korosi, (3) tahan bakar dan pengaruh air, (4) mudah dibentuk dan (5) tidak perlu pemeliharaan yang rutin. Klasifikasi beton menurut PBI 1971 dibedakan menjadi enam mutu, yaitu : Bo, Bi, K-125, K-225 dan K>225. Angka-angka indeks dalam mutu beton ini menunjukkan kekuatan tekan beton karakteristik dalam umur 28 hari. Sedangkan menurut Pedoman Beton 1991 kekuatan tekan beton (fc`) harus dihitung dengan persamaan {0,76 + 0,2 pangkat 10 lig (fc`15) }fck. Untuk mencapai kekuatan beton tersebut, kadangkala timbul berbagai masalah yang menunjukkan kekurangan dari beton yang dihasilkan. OLeh karena bayak produsen yang menawarkan berbagai bahan tambahan (admixtures) guna mengatasi masalah tersebut, seperti produk dari PT. Incroma Raya dan Sika. Disamping itu dipasaran beredar juga berbagai produk lain yang fungsinya juga untuk memperbaiki mutu, dan meningkatkan kekuatan tekan beton tersebut. Berbagai hasil penelitian memfokuskan pada masalah-masalah penggunaan admixtures ini, menunjukkan bahwa : pertama, penambahan trocosal BV special dapat meningkatkan kekuatan tekan beton sebesar 10,80 % pada umur 7 hari dan 5,40 % pada umur 28 hari. Kedua pengaruh variasi pencampuran pemakaian raterder dan plasticizer dapat meningkatkan kekuatan tekan beton sebesar 15,6 % pada umur 28 hari. Ketiga, peninjuaun, penambahan bahan tambah conplast memberikan hasil "ada perbedaan kuat tekan beton antara tanpa bahan tambah dengan diberi bahan tambah tersebut". Dengan demikian pemakaian bahan yang diatas dapat dipakai sebagai usaha meningkatkan mutu dan kekuatan tekan beton. Untuk bahan tambah merk lain yang belum ada hasil penelitiannya perlu dilakukan pengujian terlebih dahulu di laboratorium. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 95-101 |
| Abstraksi Narasi | : | Problem pencemaran lingkungan sudah sangat dirasakan di negara kita, diperlukan metode analisis yang handal sehingga dapat memberi informasi yang benar mengenai tingkat pencemaran lingkungan. Penggunaan metode standar asisi dapat memperkecil kesalahan analisis yang disebabkan oleh perbedaan matrik. Prinsip dari metode standar adisi adalah sampel dan standar. Metoda ini sangat cocok diterapkan dalam menentukan tingkat pencemaran lingkungan. |
| Nama Pengarang | : | MArzuki, Sunario, Darmono, Anwar Efendi, Sumaryanto, Suroso, Khaerudin Kurniawan, Surjono, Herman Dwi, Karim Th, Mumpuniarti, Suwardi, Saptomo, Sutrisno, Hari |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 59-67 |
| Abstraksi Narasi | : | Dikalangan para orientalis, Islamisis, dan para juris Muslim tradisionalis terdapat suatu pendapat yang mengatakan bahwa hukum Islam itu bersifat statis, kaku, dan tidak dapat berkembang seiring dengan perubahan situasi dan kondisi yang serba dinamis. Pendapat seperti itu ternyata tidaklah benar. Ini bisa dilihat dari keberadaan hukum Islam itu sendiri, yang sebenarnya ada yang disebut syari`ah (Indonesia ; syariat) dan ada yang disebut fiqh (Indonesia; fikih). Hukum Islam dalam kategori fikih itulah yang selalu dinamis. Kedinamisan hukum Islam itu terutama ditunjang oleh prinsip-prinsip yang digunakan dalam metodologi hukum Islam (Ushul al-Fiqh), seperti ijma`, qiyas, istihsan, mashlahah mursalah, dan prinsip-prinsip lainnya. Sejarah telah membuktikan bahwa perjalanan hukum Islan sejak zaman Nabi Muhammad hingga sekarang ini sarat dengan dinamisasi. Munculnya para imam mazhab besar dengan karya-karya fikih mereka merupakan titik awal munculnya dinamisasi hukum Islam tersebut. Apa yang telah dirintis oleh para imam mazhab besar ini ternyata masih berlanjut dan berkembang hingga sekarang. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 25-34 |
| Abstraksi Narasi | : | Kenyataan membuktikan bahwa ranah afektif merupakan bagian yang dirasakan kurang pendapat perhatian dalam proses pendidikan. Hal itu mengakibatkan siswa kurang memiliki pertimbangan rasa dan kepekaan. Berbagai perilaku yang menunjukkan agresifitas, penggunaan obat-obatan terlarang, kekerasan, kekejaman dan kecenderungan tindakan kriminalitas sebagian besar bersumber dari adanya rasa "hampa" harga diri pada diri siswa. Menghadapi kondisi itu pendidikan moral agama mutlak diperlukan sebagai sarana penanaman nilai-nilai serta norma-norma budi pekerti. Disamping itu, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah masalah pendidikan kesenian. Termasuk dalam kesenian salah satunya adalah sastra, Pengenalan dan pemahaman terhadap sastra melalui proses pendidikan yang terus menerus dengan dunia sesama yaitu dunia manusia dan kemanusiaan. Dalam arti itulah sastra sebagai pemancar berbagai nilai dan bisa menjadi sumber pengilhaman tentang kebajikan (virttue) dan kebajikan (wisdom). Melalui pemanfataan, nilai nilai dalam sastra., akhirnya akan tercapai kondisi homo humanus, yaitu manusia yang memunyai jiwa halus, manusia yang berbudaya disamping tetap mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dewngan demikian akan terjadi keseimbangan antara dimensi jasmaniah dan rohaniah dalam diri siswa sebagaimana yang dikehendaki dalam rumusan tujuan pendidikan nasional. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 69-85 |
| Abstraksi Narasi | : | Suara sumbang tentang penguasaan bahasa Indonesia sampai dewasa ini masih sering terdengar, bahwa penggunaan bahasa Indonesia masih rendah, termasuk siswa dan mahasiswanya. Untuk itu, tidak mengherankan apabila Soeharto, Presiden Republik Indonesia mencanangkan Gerakan Disiplin Nasional pada tanggal 20 Mei 1995, yang diantaranya berisi agar digunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dalam rangka upaya menyukseskan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar bagi para siswa di sekolah, yaitu dengan digantinya GBPP Bahasa Indonesia Kurikulum 1984 dengan GBPP Bahasa dan Sastra Indonesia 1994. Isi GBPP Bahasa Indonesia dari kedua kurikulum tersebut sangat berbeda. Apabila di dalam kurikulum 1984 sajian materi masih tampak bersifat struktural, yang terdiri dari enam pokok bahasan, didalam kurikulum 1994 tidak demikian halnya. Isi GBPP Bahasa Indonesia kurikulum 1994, yang terdiri dari aspek pemahaman, penggunaan, dan kebahasaan lebih menyaran pada penerapan pendekatan komunikatif. Makalah ini disamping berusaha sedikit menguak perbedaan dan persamaan antara GBPP Bahasa Indonesia kedua kurikulum diatas, juiga berusaha membahas persamaan pengajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan pragmatik dengan pendekatan komunikatif. Pembahasan selanjutnya ialah adanya aspek pragmatik karena aspek-aspek ini terdapat pada Kurikulum 1984 ataupun pada kurikulum 1994. Dengan pegajaran aspek-aspek pragmatik yang dilakukan secara benar, terutama dengan penerapan pendekatan komunikatif, diharapkan akan menjadikan siswa mampu dan terampil berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, Dikatakan demikian, oleh karena cara demikian siswa akan terlatih menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan fungsi-fungsi bahasa Indonesia itu sendiri. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 105-114 |
| Abstraksi Narasi | : | Penangan limbah organik dengan pengomposan merupakan cara-cara yang sudah umum dilakukan oleh masyarakat. Oleh sebab itu seolah-olah tidak ada masalah dalam menerapkan teknologi pengomposan untuk mengelola limbah organik. Namun demikian ada hal-hal yang masih jarang mendapat perhatian, yaitu mengenai komponen-komponen yang terlibat dalam pengomposan limbah organik dan metode-metode pengomposan lainnya. Pengomposan merupakan proses biokemik dan biologik, sehingga berbagai bahan organik akan menjadi stabil setelah mengalami perombakan oleh organisme hidup khususnya mikroba. Pengomposan yang menggunakan cacing tanah, tentu berbeda dengan apabila tidak menggunakan cacing tanah, Peranan mikroba barangkali menjadi lebih kecil atau lebih besar dengan adanya cacing tanah, atau mungkin saling kebekerja sama sehingga antara mikroba dan cacing tanah saling berasosialisasi dalam dekomposisi. Mikroba disinyalir melakukan dekomposisi terhadap senyawa-senyawa organik resisten yang tidak dapat atau sulit dirombak oleh cacing tanah, yang sekaligus juga menyediakan bahan makan bagi cacing tanah. Demikian pula cacing tanah memberikan kondisi lingkungan yang disukai mikroba melalui kemampuannya menetralisir keadaan lingkungan yang sama sehingga menjadi lebih alkalis. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 115-126 |
| Abstraksi Narasi | : | Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dimanfatkan oleh manusia untuk mengatasi kesulitan dan memenuhi kebutuhan hidup. Bangsa atau manusia di negara maju dapat memanfaatkan teknologi mutakhir, sementara sebagian besar manusia yang lain menanggung dampak negatif sebagai akibat penerapan teknologi. Manusia mencari alternatif teknologi yang akan dikembangkan dan diterapkan, dengan melakukan pengkajian terhadap teknologi, agar dapat memanfaatkan teknologi seoptimal mungkin dengan mengantisipasi dampak negatif yang mungkin terjadi. Ilmu pengetahuan manusia terdiri dari 4 ranah: Descriptive, Prescriptive, Formal Knowledge dan Praxiology, mempunyai hubungan timbal balik dengan kahidupan manusia yang memiliki empat sistem ideology, sociology, technology, dan environment. Pengembangan dan penerapan IPTEK bersumber dari penemuan dan inovasi, atau lewat alih teknologi dari negara maju dengan mempertimbangkan keuntungan dan resiko yang mungkin terjadi. Penemuan dan inovasi yang dilakukan oleh para perguruan tinggi, perlu ditunjang dan didukung oleh peraturan dan pengakuan legalitas hak cipta dan paten sebagai intelectual right. Beberapa kendala yang dialami perguruan tinggi dalam mewujudkan hak cipta dan hak paten terhadap penemuan (1) kurang tersedianya dana, (2) rendahnya motivasi untuk penelitian dasar, (3) belum memadainya penghargaan finansial terhadap penemuan, (4) terbatasnya tenaga profesional dan penelitian dasar, (5) penelitian di perguruan tinggi kurang kerkait dengan teknologi yang diterapkan industri, (6) pemahaman tentang hak paten dan hak cipta masih kurang, dan (7) belum ada upaya nyata untuk memasyarakatkan hak cipta dan hak paten dilingkungan kampus. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pengusulan hak cipta dan hak paten: persyaratan, organisasi, dan prosedur pelaksanaan. Prosedur pengajuan usulan memalui 4 tahapan: (a) usulan pengajuan penemuan; (b) kelengkapan lampiran bukti hasil temuan, gambar disain dari hasil penemuan, dan pernyataan tentang hasil temuan; (c) menyampaikan usulan kepada Ketua Jurusan dan Dekan, dan diteruskan ke panitia daerah; (d) pengesahan oleh Rektor dan diajukan ke Panitia Nasional lewat Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 97-104 |
| Abstraksi Narasi | : | Proses pembelajaran anak usia awal sebaiknya terintegrasi, yaitu tidak memandang bidang studi secara terpisah, tetapi saling terikat satu sama lain, Anak dipandang sebagai orang yang baru pertama melihat dunia. Bagi mereka tidak ada keterpisahan antara IPA, IPS, matematika, bahasa, dan lain-lain. Anak belajar semua itu pada saat yang sama dari hasil interaksinya dengan lingkungan. Oleh karena itu pendekatan pembelajaran lebih terasa pas digunakan untuk pembelajaran anak usia awal. Ide inilah yang barangkali mengilhami penyusunan kurikulum SD untuk tidak memasukkan mata pelajaran IPA secara ekplisit kedalam kurikulum SD 1994 untuk kelas satu sampai dengan kelas tiga. Ketidak tercantuman IPA tersebut hendaknya tidak diartikan bahwa mata pelajaran IPA dihapus , tetapi IPA diintegrasikan kedalam mata pelajaran lain seperti agama , bahasa Indonesia, matematika, dan lain-lain. Konsentrasinya, guru harus mampu mengintegrasikan IPA kedalam mata pelajaran lain, kalau tidak ingin IPA benar-benar terhapus. Salah satu cara untuk memungkinkan terjadinya pembelajaran IPA terintegrasi ialah melalui Tematik Unit, TU merupakan serangkaian tema-tema tersebut digunakan sebagai topik-topik dalam proses pembelajaran. Oleh karena semua tema berasal dari satu tema pokok. maka proses pembelajaran terasa lebih padu. Dengan pengambilan tema pokok yang menarik yang sedang terjadi dan menyentuh kehidupan anak, maka proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan lebih mudah dipahami oleh anak. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 57-68 |
| Abstraksi Narasi | : | Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) selama ini dianggap belum dapat menampilkan citra yang memuaskan sebagai wakil rakyat. Dalam melaksanakan tugasnya, ada tiga fungsi utama yang diemban badan legislatif ini yaitu fungsi representasi, fungsi legislasi dan fungsi kontrol. Sorotan paling tajam adalah lemahnya lembaga ini dalam melaksanakan fungsi legislasinya (pembuat peraturan). Banyak faktor yang banyak dikemukakan sehubungan dengan "lemahnya" lembaga legislatif dalam melaksanakan fungsi legislasinya, mulai dari peraturan tata tertib yang tidak mendukung, kurang informasi/data, tidak memiliki tenaga ahli, sarana dan prasarana yang kurang memadai sampai dengan mekanisme rekruitmen anggota dewan. Bagi lembaga legislatif daerah (DPRD) , kendala utama yang dihadapi berpangkal dari UU No. 5 tahun 1974 yang tidak memberikan bobot kekuasaan yang memadai kepada DPRD. Kedudukan DPRD yang tidak semata-mata sebagai wakil rakyat tetapi juga sebagai unsur Pemerintah Daerah bersama-sama Kepala Daerah, menyebabkan DPRD harus "membina" posisinya dengan pihak eksekutif. Diberlakukannya peran ganda dalam diri Kepala Daerah yang juga Kepala Wilayah, membuat DPRD kurang leluasa memainkan perannya sebagai legislator dalam merumuskan peraturan daerah. Selain itu, kualitas anggota DPR yang melum memadai, menyulitkan dalam proses "tawar-menawar" dengan kondisi bargaining power yang lebih besar pada pihak eksekutif. |