| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 246-251 |
| Abstraksi Narasi | : | Guru memegang peranan penting dalam menetukan kualitas pendidikan pada umumnya dan kualitas pembelajaran pada khususnya. Sebaga Sumber Daya Manusia (SDM) dibidang pendidikan, guru di tuntut untuk selalu mengembangkan dan meningkatkan kualitas diri yang menyangkut kualitas pengajaran maupun kualitas ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini sesuai dengan profesinya yang mengharuskan untuk selalu mengikuti perkembangan jaman. Program Pendidikan Guru Sekolah Menengah Umum (PGSMU) telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Peraturan Pemerintah nomor 30 tahun 1990, namun maraknya peserta program SMU baru nampak pada tahun ajaran 1999/2000 ini yang ditandai dengan banyaknya guru-guru SMU yang mengikuti program tersebut di Universitas-universitas tertentu, diantaranya Universitas Negeri Yogyakarta. Program ini dilaksanakan dengan maksud untuk meningkatkan kualitas guru SMU yang berijasah D3 menjadi sarjana S1. Melalui program PGSMU diharapakan peningkatan kualitas guru sebagai SDM di bidang pendidikan dapat tercapai. Perkuliahan PGSMU selama 10 bulan dirasakan sudah cukup memberikan pengayaan materi (ilmu pengetahuan) dan perluasan wawasan bagi mahasiswa. Namun demikian, berhasil tidaknya program PGSMU dalam meningkatkan kualitas guru SMU sangat bergantung pada diri mereka masing-masing. Motivasi dan kesadaran mereka akan tanggung jawab meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia adalah kunci keberhasilan program PGSMU. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 214-221 |
| Abstraksi Narasi | : | Penelitian ini bertujuan untuk (1) meningkatkan sikap positif siswa SD terhadap kegiatan pembelajaran membaca, dan (2) meningkatkan ketrampilan membaca para siswa SD. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas IV dan V SD Negeri Minomartani 3 Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman dengan melibatkan 17 siswa sebagai subjek penelitian. Proses tindakan dilakukan sebanyak satu putaran. Secara umum penelitian ini dirancang sebagai berikut: (1) tujuan: menemukan pendekatan peningkatan keterampilan siswa dalam membaca dan peningkatan sikap positif terhadap pembelajaran membaca, (2) waktu: 14 kali pertemuan tatap muka, (3) personalia: dosen, guru Bahasa Indonesia kelas IV dan V, kepala sekolah, dan seorang mahasiswa, (4) langkah umum: perencanaan yang berupa identifikasi masalah yang berkaitan dengan keterampilan siswa dalam membaca dan sikap siswa terhadap pembelajaran membaca dan penetapan tindakan untuk mengatasi permasalahan, implementasi tindakan (berupa penerapan pendekatan proses dalam pembelajaran membaca dengan tahapan pramembaca, membaca, merespon, menggali teks, dan memperluas interpretasi), pemantauan dan evaluasi, dan refleksi. Instrumen pemantauan berupa lembar pengamatan dan catatan lapangan, sedangkan instrumen evaluasi berupa tes membaca dan angket sikap terhadap pembelajaran membaca. Temuan penelitian ini adalah (1) pola dasarnya pendekatan proses dalam pembelajaran membaca dapat meningkatkan sikap siswa terhadap pembelajaran membaca dan keterampilan membaca, (2) pada tahap pramembaca sebagai bagian dari proses membaca siswa belum memilih sendiri bacaan yang akan dibaca, dan (3) dampak dari pemberian tindakan adalah keterlibatan siswa dalam kegiatan berbahasa, berbicara dan menulis selama mereka mengikuti pembelajaran membaca. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 197-205 |
| Abstraksi Narasi | : | Ada berbagai masalah yang mengerubuti pembinaan sumber daya insani (SDI) dalam tubuh bangsa Indonesia terutama untuk generasi muda. Memang telah ada upaya-upaya pemerataan pendidikan dan bagaimana putera/puteri berpotensi dididik secara tepat dan baik. Namun demikian fakta yang tampak masih tertuju pada keunggulan kognitif dan psikomotor yang bersifat verbal, fiskal, dan dangkal. Aspek emosional kretivitas, spiritual dan moral belum tergarap lebih intensif. Hal ini terbukti dari sejumlah kasus perilaku sebagian masyarakat kita yang tidak relevan dengan peradaban bangsa kita. Dalam memasuki era global terutama dalam masyarakat madani kinerja yang telah tampak dewasa ini masih jauh dari harapan. Sudah pada tempatnya jika harus ada upaya reformasi mulai dari redefinisi dan reorientasi filosofi pendidikan sampai pada segenap aspek lainnya dalam pendidikan kita, terutama dalam memasuki era globalisasi yang di dalamnya terdapat sosok masyarakat madani. Hal itu makin tidak ringan dengan realisasi otonomi dalam segala bidang termasuk dalam dunia pendidikan karena keterbatasan kualitas SDI pada sejumlah wilayah di Nusantara ini. Sistem pendidikan kita harus mampu mewujudkan adanya kemerdekaan, persamaan dan keadilan (tegaknya hukum) dalam arti yang sebenarnya dan tidak boleh tidak upaya pembinaan itu terintegrasi dalam tiga pusat pendidikan (termasuk di dalamnya pendidikan keluarga/pendidikan luar sekolah) secara harmonis dan berkesinambungan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 179-186 |
| Abstraksi Narasi | : | Petani yang selama ini hidup dalam kondisi yang memprihatinkan semakin diperparah dengan keharusan menanggung dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan. Sarana produksi harus di peroleh dengan harga yang semakin sulit dijangkau petani. Kebijakan pemerintah menaikkan harga dasar produksi pertanian terutama HDG (harga dasar gabah) justru menyulitkan petani karena petani tidak memiliki posisi tawar. Petani di Indonesia sebagian merupakan petani gurem dengan luas lahan garapan yang sempit, pendapatan rendah, pendidikan tidak memadai yang menjadi penyebab mereka dilanda kemiskinan. Guna meningkatkan kesejahteraan hidup, petani harus mencari alternatif sumber pendapatan dengan pemberdayaan petani agar tidak selalu terpinggirkan dan mengembangkan sektor pertanian. Sektor pertanian dalam suasana keterpurukan perekonomian secara nasional ternyata memiliki resistensi di dalam menopang kehidupan petani meskipun tidak terlalu menjajikan. Kendala yang dihadapi adalah karakteristik petani Indonesia yang sebenarnya belum siap melakukan terobosan menghadapi pasar yang semakin kompetitif. Pemberdayaan petani di pedesaan dapat dilakuakn melalui optimalisasi peran lembaga sosial kemasyarakatan, peningkatan pendidikan dan penguasaan pengetahuan dan teknologi tepat guna maupun pemindahan penduduk ke lokasi lahan yang lebih luas. Pemerintah berfungsi hanya sebagai fasilitator dan pendamping yang berfungsi sebagai mediator, motivator, sekaligus fasilitator dan dinamisator sehingga petani didorong lebih aktif tidak hanya menunggu instruksi, petani harus dilibatkan dalam perumusan, persiapan dan pelaksanaan program pemberdayaan. Pemberdayaan petani melalui kebijakan yang secara proposional mendorong kemajuan sektor pertanian yang memihak kepada petani, agar petani terbebas dari kemiskinan dan memiliki pendapatan yang semakin meningkat. Reformasi pola pikir petani agar dinamis, mandiri dan mampu mengelola usaha taninya secara aktif sehingga peka terhadap perkembangan pasar merupakan langkah awal yang harus diperhatikan guna meningkatkan pendapatan sebagai strategi peningkatan kesejahteraan petani. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 206-213 |
| Abstraksi Narasi | : | Evaluasi hasil belajar merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan belajar mengajar. Evaluasi hasil belajar merupakan tolok ukur utama dalam penentuan kualitas proses belajar mengajar di lembaga-lembaga pendidikan formal. Sebagai bahan ajar, sains mempunyai unsur-unsur spesifik berupa produk sains, proses sains, dan sikap sains, yang membedakannya dari disiplin ilmu lainnya. Spesifikasi sains ini menuntut cara pembelajarannya yang spesifik pula. Konsekuensinya adalah, teknik evaluasi hasil belajarnya semestinya menyesuaikan dengan model pembelajaran yang dilangsungkan. Authentic assesment dirasa sangat cocok diterapkan sebagai alat evaluasi pada perkuliahan/pembelajaran sains. Dengan authentic assesment, mahasiswa dievaluasi bukan saja dalam hal pemahaman materi perkuliahan, melainkan juga dalam hal tindakan dan karya-karya nyata sebagai wujud dari pemahamannya atas materi pekuliahan. Model penilaian demikian dirasa dapat mengakomodasi berbagai kemampuan dan ketrampilan serta sikap sains yang dikembangkan selama pembelajaran (perkuliahan) sains. LPTK sebagai lembaga pencetak dan pembina tenaga kependidikan, sangat berperan dalam mempelopori penataan sistem evaluasi dalam rangka reformasi pendidikan. Implementasi authentic assesment dalam perkuliahan, khususnya dalam bidang sains, merupakan alternatif cara penataan sistem evaluasi. Pada muaranya, diharapkan sistem pendidikan kita, termasuk di SD, SLTP, dan SLTA mampu mengembangkan kemampuan, keterampilan, dan sikap-sikap sains pada seluruh subyek belajar, dan sekaligus menghargai berbagai kemampuan subyek belajar ini melalui implementasi teknik evaluasi yang tepat. |
| Nama Pengarang | : | Tri Margono, Paidi, Hastuti, Muhammad Yacub, Kastam Syamsi, Das Salirawati, Subardhy, Jailani, Fuad Fachrudin, Cholisin |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 230-237 |
| Abstraksi Narasi | : | Metodologi yang digunakan oleh praktisi dalam kegiatan penganalisaan penelitian di bidang informasi seringkali berbeda, walaupun dalam kenyatannya studi kasuslah yang paling banyak dipakai. Metode ini ternyata memberikan hasil yang berbeda-beda karena sangat dipengaruhi oleh keragaman permasalahan dalam kasus tertentu dan peralatan yang digunakan dalam proses perhitungannya. Upaya untuk mengatasi perbedaan tersebut harus segera di tengahi agar diperoleh aplikasi praktis yang dapat mendekati hasil yang diharapkan. Metode ini jarang digunakan oleh para ahli informasi dalam melakukan pekerjaan praktis. Sebenarnya metode tersebut sangat penting dalam penentuan terhadap perencanaan kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Selain itu dapat pula dipakai untuk mengembangkan analisis terhadap tajuk-tajuk subyek pada publikasi ilmiah antar cabang ilmu pengetahuan yang telah terbit selama ini. Melalui metode tersebut diharapakan kesulitan yang dihadapi dalam pengelolaan informasi terhadap subyek yang dimaksud khususnya dalam pengembangan sistem kalsifikasi informasi, dapat ditetapkan berdasarkan struktur yang tepat dari berbagai disiplin ilmu. Ilmu bibliomatriks dapat mengungkap betapa pentingnya usaha untuk mengorganisasi informasi yang ada dan upaya penggunaannya dalam proses pengidentifikasian dokumen yang di butuhkan pengguna. Sebab, bibliomatrik di perguruan tinggi dapat dikembangkan melalui kegiatan seminar, yaitu berupa penginterpretasian hasil analisis yang dicapai dibandingkan dengan hasil analisis dari metode lain. Kegiatan lain dapat pula dikembangkan melalui sistem online sebagai dasar bagi pengembangan metode itu sendiri. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 155-163 |
| Abstraksi Narasi | : | Diakui bersama bahwa mutu sumberdaya manusia (SDM) Indonesia sekarang ini masih tergolong rendah. Hal ini sesuai dengan Laporan UNDP Human Development Report tahun 1996, hasil Survey Penduduk antar Sensus tahun 1995 tentang tingkat pendidikan tenaga kerja, serta hasil penelitian Nurdin Komaruddin (1996) tentang kualitas pekerja Indonesia. Sementara itu, dalam Konteks Makro kondisi global pada saat ini semakin komplek yang menuntut kemampuan kompetitif masing-masing bangsa; sedang dalam Konteks Mikro tuntutan untuk mewujudkan Indonesia masa depan yang maju, modern, dan berperadaban sudah menjadi konsensus bersama. Dua keadaan tersebut menunjukkan keadaan yang sangat kontradiktif antara kenyataan empirik dengan tuntutan ide baik skala makro maupun mikro; yang pada gilirannya secara imperatif menuntut pemecahan segera, diantaranya adalah melalui pendidikan khusunya sekolah. Namun dunia pendidikan mengalami dilema: di satu sisi pendidikan dituding sebagai `biang` rendahnya mutu tenaga kerja dan SDM kita, sedang di sisi lain pendidikan pendidikan menjadi salah satu tumpuan penting untuk mempercepat ketertinggalan pembangunan SDM. Untuk memacu peningkatan kualitas SDM yang diharapkan, sekolah unggul yang ada nampaknya belum bisa dijadikan sebagai instrumen tunggal dalam mewujudkan harapan di atas. Oleh karenanya, diperlukan upaya lebih gigih dengan cara mengidentifikasi kembali segenap sumberdaya sekolah untuk dimanfaatkan secara optimal guna pengembangan sekolah, yang dikenal dengan istilah "school based development". Termasuk di dalamnya adalah sumberdaya yang berasal dari masyarakat, yang dikenal dengan istilah "community based school development" |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 163-171 |
| Abstraksi Narasi | : | Masalah utama yang dihadapi dunia pendidikan dewasa ini adalah: kualitas, relevansi, dan moral. Pendidikan perlu di orientasi kembali karena pengaruh globalisasi, krisis multidimensional, dan untuk mewujudkan masyrakat madani. Situasi ini menyadarkan pendidik untuk melakukan reorientasi struktural dan reorientasi kultural. Dunia pendidikan sering melakukn reorientasi pendidikannya, namun reorientasi pendidikan selalu dilakukan karena masalah pendidikan tidak pernah selsesai. Reorientasi pendidikan berkenaan dua hal penting. Ada tiga cara untuk melakukan reorientasi struktural dan empat cara untuk melakukan reorientasi kultural. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 143-147 |
| Abstraksi Narasi | : | Masyarakat Indonesia Baru merupakan bentuk masyarakat yang kita cita-citakan bersama, dengan ciri-ciri; dinamis, pemberdayaan rakyat, bermoral, mandiri, kepastian hukum, egalitarian, penghargaan terhadap prestasi individu dan religius. Berdasarkan konsep tersebut, membawa konsekuensi bagi institusi pendidikan untuk berperan sebagi "Agent of social change" dalam rangka pengembangan segenap potensi peserta didik secara optimal. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah melakukan reformasi terhadap beberapa aspek strategik pendidikan persekolahan, yang diperkirakan kurang mencerminkan ciri-ciri masyarakat Indonesia Baru. Pertama, melakukan reformasi terhadap praktik-praktik pendidikan yang kurang mencerminkan masyarakat Indonesia Baru. Kedua, meninjau isi dan strategi implementasi kurikulum guna menyiapkan masyarakat Indonesia Baru. Ketiga, mereposisikan peserta didik sebagai subyek dan obyek pendidikan. Keempat, dan melakukan reformasi terhadap pendidikan moral. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 117-125 |
| Abstraksi Narasi | : | Sebelum memasuki perguruan tinggi, para mahasiswa mungkin sudah memiliki kemampuan tertentu yang diperoleh dari berbagai situasi, termasuk dari kehidupan nyata. Cara belajar seperti itu disebut sebagai belajar melalui pengalaman, yaitu model belajar yang melibatkan pembelajaran secara langsung dengan masalah yang sedang dipelajari. Proses belajar yang merupakan satu siklus yang terdiri dari pengalaman konkret, observasi reflektif, konseptualisasi abstrak, dan eksperimentasi aktif, dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, selama pembelajaran aktif berinteraksi dengan lingkungan. Mahasiswa yang memiliki hasil belajar melalui pengalaman (HBMP) yang sesuai dengan yang dituntut oleh mata kuliah, dapat mengajukan permohonan penganugerahan kredit. Untuk tujuan ini, perlu dikembangkan sistem penilaian HBMP. Dalam sistem ini, mahasiswa diminta mengembangkan portofolio yang akan dinilai oleh fakultas/program studi berdasakan kriteria penilaian yang dikembangkan khusus untuk itu. Pengalaman menunjukkan bahwa mahasiswa S1 Kedua yang diberikan informasi tentang penilaian HBMP tidak ada yang tertarik untuk memohonnya, dan dari beberapa mahasiswa program penyetaraan yang mengajukan permohonan penilaian HBMP, hanya satu orang yang memenuhi syarat. Kenyataan ini barangkali disebabkan oleh rumitnya prosedur penilaian HBMP, disamping para mahasiswa mungkin memang tidak memiliki hasil belajar melalui pengalaman yang sesuai. |