| Nama Pengarang | : | Supardo, Susilo, Gunardo R.B., A. Daliman, Wawan S. Suherman, Supriyoko, Soeharto, Anik Ghufron |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 30-35 |
| Abstraksi Narasi | : | Pendidikan bilingual di Indonesia merupakan proses yang unik karena kondisi bilingual tidak menghadapkan dua bahasa yang tidak serumpun. Kedua bahasa memiliki hierarki status yang berbeda, yakni sebagai bahasa daerah dan bahasa nasional. Jadi, bukan dua bahasa yang salah satunya merupakan bahasa asing seperti di Amerika. Masalah yang dihadapi oleh pendidikan bilingual adalah (1) masalah konsep bilingual; (2) kehadiran politik bahasa nasional sebagai rambu-rambu; (3) pemerolehan bahasa dan model bilingualisme Indonesia; (4) terdapat fenomena khas bilingualisme pada masyarakat tutur Jawa; (5) program pendidikan bilingual yang menghadapi masalah; (6) proses pendidikan bilingual dengan transisi; (7) masalah pemeliharaan pendidikan bilingual; (8) masalah pendidikan dalam transisi; dan (9) aspek dikotomi transisional dan pemeliharaan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 1-16 |
| Abstraksi Narasi | : | Pemahaman antarbudaya merupakan usaha untuk memahami kehidupan sosial budaya berbagai bangsa lain di dunia yang amat berguna untuk menjalin hubungan dan kerja sama antarbangsa. Ada banyak cara memahami budaya bangsa lain yang mencakup berbagai aspek kehidupan, dan salah satunya adalah pemahaman lewat karya sastra. Dimanapun dan kapanpun sastra ditulis tidak pernah lepas dari situasi kekosongan budaya. Sastra akan mencerminkan pola kehidupan budaya masyarakat yang menjadi setingnya. Kelahiran karya sastra diprakondisi oleh kehidupan sosial budaya masyarakat di mana pengarang menjadi bagian di dalamnya. Dengan demikian, membaca dan mempelajari karya sastra secara langsung atau tidak langsung berarti mengenal dan memahami kehidupan sosial budaya masyarakat yang bersangkutan. Genre sastra yang paling komprehensif memberikan sarana pemahaman antarbudaya adalah karya fiksi khususnya novel. Novel yang paling baik dibaca untuk, tujuan tersebut adalah yang berseting tipikal, khususnya yang menyangkut unsur latar sosial budaya. Novel yang berlatar budaya tipikal akan menggambarkan keadaan kehidupan sosial budaya masyarakat yang bersangkutan secara reflektif, dan karenanya dapat dipandang bersifat dokumentatif. Karya-karya semacam Sri Sumarah, Pengakuan Pariyem, Canting, dan Para Priyayi merupakan contoh karya yang secara meyakinkan merefleksikan budaya Jawa di dalamnya. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 121-135 |
| Abstraksi Narasi | : | Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional sampai sekarang ini telah banyak dilengkapi dengan berbagai kebijakan pemerintah sebagai perangkat pendukung pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Beberapa aspek legal (kebijakan) pemerintah secara khusus yang berkaitan dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) antara lain adalah: (a) Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1990 Tentang Pendidikan Menengah, (b) Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 Tentang Peranserta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional, (c) Kepmendikbud No. 0490/U/1992 Tentang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan (d) Kepmendikbud No. 080/U/1993 Tentang Kurikulum SMK. Namun demikian pelaksanaan PSG sampai sekarang ini masih banyak ditemui berbagai permasalahan, diantaranya adalah: (a) Pokja PSG Dikmenjur dan SMK belum berperan sebagaimana mestinya; (b) Pembentukan Majelis Sekolah belum mengacu pada pedoman yang ada; (c) Majelis sekolah belum berfungsi sebagaimana mestinya; (d) Penerapan PSG di beberapa SMK dianggap bukan merupakan hal yang baru serta masih adanya keengganan SMK untuk melaksanakannya; (e) Pemahaman tentang konsep PSG oleh SMK, Dikmenjur, dunia usaha dan industri, serta masyarakat pada umumnya masih kurang pas; (f) Pengaturan waktu sulit karena bersamaan antara pelaksanaan PSG dengan tugas-tugas guru lainnya; dan (g) Kemampuan semua pihak yang terkait dengan pelaksanaan PSG masih perlu peningkatan, khususnya dalam bidang perencanaan program yang mengacu standard profesi yang berlaku. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya tertentu untuk mendukung penyelenggaraan PSG, sehingga beberapa permasalahan tersebut dapat dikurangi. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk maksud di atas antara lain dengan membuat acuan mengenai pola penyelenggaraan PSG atau cara beserta langkah-langkah yang harus dilakukan sekoalh dan intitusi pasangannya. Beberapa langkah tersebut antara lain: (a) dengan memamahami dan memasyarakatkan PSG sebagai suatu `sistem` pendidikan, (b) pengorganisasian PSG, (c) pembentukan Sistem Informasi Operasional atau mekanisme kerja PSG, dan (d) bagi SMK yang `pemula` melakukan feasibility study dengan proses pentahapan (incremental). Dengan adanya acuan tersebut, maka akan dapat membantu pihak sekolah dan institusi pasangannya untuk menyelenggarakan PSG baik bagi sekolah `pemula` maupun bagi yang telah menyelenggarakan PSG yang masih bersifat `konvensional`. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 31-40 |
| Abstraksi Narasi | : | Banyak faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya pergeseran fungsi musik ditengah kehidupan masyarakat, antara lain operasionalisme dalam konteks kebudayaan, termasuk bidang kehidupan manusia. Kemudian teknik operasional berubah menjadi suatu sikap dasar. Disisi lain, musik sebagai karya seni adalah kenyataan lain, musik sebagai karya seni adalah kenyataan lain dan segi pengalaman sestetis yang membutuhkan sikap khusus. Ia sesungguhnya merupakan dunai yang mengatasi keterkungkungan manusia. Sebelum zaman modern ini, fungsi musik diarahkan kepada pembebasan jiwa manusia. Sedangkan pada zaman modern ini, fungsi musik bergeser menjadi alat ekonomi dan hiburan santai bagi manusia. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 65-74 |
| Abstraksi Narasi | : | Perubahan pola makan masyarakat menyebabkan perubahan pola penyakit yang lebih mengarah ke penyakit degenaratif seperti penyakit jantung koroner. Penyakit ini lebih cenderung mengenai gaya hidup modern dengan konsumsi makanan yang kaya lemak jenuh, protein dan garam akan tetapi rendah serat dan asam lemak tak jenuh. Penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk penyakit berbahaya karena dapat menyebabkan kelumpuhan dan kematian mendadak pada saat usia produktif. Sedapat mungkin penyakit ini dicegah, salah satu caranya adalah dengan konsumsi makanan yang tepat misalnya dengan mengkonsumsi tempe menjadi makanan sehari-hari. Tempe merupakan makanan tradisional yang sering disepelekan terutama pada masyarakat kota bukan dari suku jawa golongan ekonomi menengah ke atas. Tempe menurut beberapa hasil penelitian dapat mencegah penyakit aterosklerosis dan jantung koroner, karena tempe mengandung asam lemak tak jenuh dan serat yang tinggi. Tempe dalam susunan menu termasuk kelompok lauk pauk yang dapat menggantikan daging atau makanan hewani lainnya karena ternyata selain sifatnya yang hipokolesteremik juga dapat dijadikan sumber zat gizi yang baik. Tempe mengandung protein hidrolisa yang tinggi, vitamin B, kalsium, phospor, dan lain-lain. Karena sifatnya yang mudah dicerna tempe bahkan dapat dijadikan formula makanan bayi dan formula makanan yang diberikan untuk penderita diare akut (Mien K, Mahmud, 1992 |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 75-85 |
| Abstraksi Narasi | : | Guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan mempunyai peranan kunci yang tidak dapat diabaikan begitu saja, karena guru murid yang memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang lebih sempurna. Dalam proses belajar mengajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, keberadaan alat fasilitas olahraga mempunyai peranan yang sangat penting terutama untuk kelancaran jalannya proses belajar mengajar di sekolah. Sebagai seorang Guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan harus mampu mengatasi segala persoalan keterbatasan peralatan dan fasilitas olahraga yang ada. Dengan perawatan secara baik dan benar semua peralatan dan fasilitas olahraga yang ada. Dengan perawatan secara baik dan benar semua peralatan dan fasilitas olahraga yang dimilikinya akan dapat bertahan lebih lama dan awet, terutama perlu disediakan tempat yang khusus, sedangkan apabila terdapat kekurangan peralatan untuk keperluan proses belajar mengajar dapat dilakukan mengajukan kepada pengurus BP3 melalui pengajuan dalam rancangan anggaran dan belanja sekolah. Apabila kemampuan BP3 terbatas, modifikasi dalam mengajar dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan lain tanpa menyimpang dari prinsip-prinsip gerakan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 51-63 |
| Abstraksi Narasi | : | Theory of Reasoned Action menempatkan sikap pada posisi sentral dalam kaitannya dengan tindakan manusia. Sikap sebagai fungsi keyakinan tindakan manusia ditentukan oleh keyakinan pribadi dan keyakinan kelompok. Sikap terdiri atas tiga komponen: kognitif, afektif, dan konatif. Komponen kognitif berupa persepsi dan keyakinan. Komponen afektif menyangkut aspek emosional, sedangkan komponen konaktif merupakan aspek kecenderungan bertindak. Komponen afektif biasanya berakar paling dalam, paling dapat bertahan berbagai pengaruh. Komponen kognitif tidak selalu akurat. Sebagai halnya karakteristik afektif yang lain, sikap memiliki target, arah, dan intensitas. Sikap berkaitan dengan kebutuhan individu (fisiologis, keselamatan, sosial, harga diri, dan aktualisasi diri). Ada pribadi yang mengutamakan kebutuhan tinggi (aktualisasi diri). Sikap sosial terbentuk oleh adanya interaksi sosial. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap ialah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga agama, dan faktor emosi dalam diri individu. Berbagai faktor tersebut, dalam mengajarkan sikap harus dimanipulasi secara sendiri-sendiri atau bersama-sama demi terbentuknya sikap positif yang bersifat persuasif sehingga dipahami dan diterima oleh penerima informasi. Pendekatan untuk mengukur sikap yaitu laporan diri, laporan oleh orang-orang lain, sosiometrik dan catatan. Apabila memungkinkan, prosedur laporan diri sebaiknya digunakan. Prosedur laporan oleh orang-orang lain baik digunakan untuk memperoleh laporan tentang tingkah laku. Sosiometri digunakan untuk memperoleh informasi mengenai struktur sosial suatu kelompok. Yang terakhir, catatan digunakan untuk melaporkan kejadian sehari-hari secara sistematis. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 87-96 |
| Abstraksi Narasi | : | Mata Kuliah pengajaran mikro merupakan bagian integral dari program pengalaman lapangan (PPL), yang tujuan utamanya memberikan ketrampilan-ketrampilan dasar dalam proses belajar mengajar kepada mahasiswa. Penampilan pengajaran mikro merupakan peramal terbaik untuk penampilan di kelas sebenarnya. Mengingat pentingnya mata kulih pengajaran mikro, kiranya perlu pelaksanaan yang seoptimal mungkin. Pengefektifan penggunaan waktu yang tersedia, pemilihan latihan ketrampilan terbatas, serta penyusunan satuan pelajaran untuk latihan ketrampilan merupakan isi dari tulisan ini. Satu satuan pelajaran untuk selama pelajaran latihan ketrampilan terpadu (utuh-individu dan utuh kolektif) sebagai bahasan pokok. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 109-120 |
| Abstraksi Narasi | : | IPA sebagai ilmu memiliki karakteristik obyek dan persoalan serta cara kerja pemecahan masalahnya yang membedakan dengan kelompok disiplin ilmu lain. Obyek dan persoalan IPA adalah semua gejala benda dan peristiwa alam serta hubungan sebab akibatnya. Dasar pengembangan konsep IPA dilakukan melalui pengamatan-pengamatan, percobaan atau eksperimen dengan prosedur dan sikap ilmiah. Dengan demikian dalam pembelajaran IPA bagi siswa SD dengan pendekatan keterampilan proses (PKP) merupakan konsekuensi logis dari sifat keilmuannya. Ada tiga aspek penting sebagai modal bagi guru IPA dalam mengembangkan strategi pembelajaran IPA yaitu penguasaan materi dengan karakteristiknya, pemahamannya terhadap subyek belajar dan penguasaannya dalam khasanah teori belajar mengajar IPA. Untuk mengingatkan kesiapan dan kemampuan guru dalam melaksanakan PKP, perlu peningkatan kualitas guru dalam tiga aspek penting tersebut . Salah satu kebutuhan yang mendasar adalah meningkatkan pemahaman guru mengenai karakteristik IPA dan konsekuensi dalam pembelajarannya. Untuk mendorong pelaksanaan PKP, perlu didukung oleh kebijakan kelembagaan yang tepat. Kebijakan sistem guru kelas sangat menghambat usaha-usaha ke arah spesialisasi keahlian. Disamping itu, penggunaan tolak ukur tingkat keberhasilan pengajaran IPA yang semata-mata dari segi produk yang dapat dihafal akan mendorong guru melaksanakan pengajaran IPA secara tradisional, bukan bobot aktivitas, sikap serta keterampilan yang berkembang. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 17-30 |
| Abstraksi Narasi | : | Arus globalisasi yang melanda berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia telah memberikan andil cukup besar terhadap kemajuan. Namun, di sisi lain globalisasi memberikan dampak negatif berupa peningkatan kriminalitas, dekadensi moral, dan bentuk penyimpangan yang lain. Berbagai pihak yang menaruh keprihatinan menyarankan agar digunakan filter budaya sebagai penangkalnya. Hikayat Kalila dan Damina Ditinjau dari Aspek Pendidikan ditulis dalam rangka memperkenalkan budaya nenek moyang kita, sekaligus mengkaji nilai-nilai yang terdapat di dalamnya untuk kepentingan pembangunan, khususnya dalam bidang pendidikan. Pemilihan subjek kajian didasarkan pada pertimbangan isi dan motivasi penulisannya. Kalika dan Damina berisi kisah tentang keberhasilan seorang pendeta dalam mengangkat anak raja dari perilaku bermasalah sehingga menyadari kedudukannya sebagai pewaris masa depan bangsa dan negara. Oleh penyusunnya cerita itu dimaksudkan untuk memberikan pelajaran tentang berbagai hal. Hikayat Kalila dan Damina sebagai salah satu cerita berbingkai sarat dengan nilai pendidikan, antara lain (1) pendidikan politik, terutama politik `devide et impera`, (2) pendidikan kemasyarakatan, (3) taktik dan strategi menghadapi lawan, (4) tipu-menipu dan rayuan, (5) kecermatan dan pengendalian emosi. Disamping itu didalamnya terdapat beberapa pernyataan dan cerita yang berisi pendidikan hukum, moral, dan kesehatan. Penyajian hikayat ini kepada generasi muda akan memberikan manfaat ganda, di satu pihak akan bermakna bagi peningkatan apresiasi sastra, dan dilain pihak diharapkan dapat bermanfaat bagi pendidikan, terutama dalam usahanya membentuk manusia Indonesia yang berbudaya. |