Pencarian Artikel Jurnal & Majalah

Menampilkan keseluruhan arsip dokumen (Halaman 33211 dari 34189, Total: 341888 data)

Etika Sains

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 41-49
Abstraksi Narasi : Pemahaman tentang etika sains merupakan acuan dalam menyikapi perkembangan sains yang kian pesat pada era masyarakat pasca industri. Perkembangan IPTEK telah memberi dampak yang luas pada perubahan alam dan masyarakat. Dampak yang diharapkan adalah yang bersifat bersifat positif, yakni yang pada akhirnya membawa pada kesejahteraan seluruh umat manusia; namun dimungkinkan pula timbul dampak sampingan yang tidak dikehendaki yaitu dampak negatif menimbulkan kesengsaraan. Oleh sebab itu untuk, mengeliminasi atau menekan sekecil mungkin dampak negatif diperlukan etika ilmu pengetahuan. Etika sains berkaitan erat dengan tanggungjawab kemanusiaan. Tanggungjawab tidak hanya kepada kewajiban untuk mempraktekkan (menerapkan) konsep-konsep sains dan teknologi saja, akan tetapi harus sampai kepada perkiraan perubahan-perubahan alam dan sosial yang mungkin terjadi, sehingga etika sains pada hakekatnya merupakan keinsyafan etis. Keinsyaf-an atie merupakan keinsyafan etis dan kewajiban etis. Keinsyafa-an etis merupakan kesadaran tentang apa yang seharusnya ada (das solen), sedangkan kewajiban etis merupakan upaya maksimal yang harus dilakukan untuk meniadakan atau mengurangi kesenjangan antara apa yang ada (das sein) dengan apa yang seharusnya ada (das solen). Karena itu secara hirarki etika ilmu pengetahuan menghendaki tanggungjawab atas tanggung jawab atas tanggung jawab. Pemahaman tentang etika ilmu pengetahuan akan membimbing perilaku, tindakan-tindakan manusia dalam mengembangkan dan menerapkan IPTEK dalam masyarakat.

Benturan dan Cedera Pada Pencak Silat

Nama Pengarang : Agung Nugroho A.M, Sudjoko, Haryadi, Suyitno Al., Margono, Darmiyati Zuchdi, M. Husni Thamrin, Endang Mulyatiningsih, HT. Silaen, Kir Haryono, Nurgiyantoro, Burhan
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 97-107
Abstraksi Narasi : Pencak Silat merupakan cabang olahraga keras sehingga dalam suatu latihan atau pertandingan tidak mustahil akan sering terjadi cedera. Hal ini dikarenakan olahraga pencak silat banyak serangan dengan menggunakan teknik pukulan, tendangan, jatuhan maupun kuncian. Benturan dari pukulan, tendangan maupun jatuhan terhadap susunan anatomis di luar tekanan normal tersebut akan mengakibatkan cedera. Sebab-sebab terjadinya cedera dalam pencak silat itu ada dua, pertama karena benturan langsung dari lawan dan kedua kurangnya persiapan fisik, teknik maupun taktik dari pesilat sendiri. Untuk mengurangi dan mencegah terjadinya cedera yang lebih parah pada diri pesilat, perlunya persiapan fisik, teknik, dan taktik yang benar, terutama pada otot-otot besar sifatnya mendasar. Disamping itu perlu juga diketahui sebab-sebab terjadinya cedera dan macam-macam cedera yang kerap kali terjadi pada pencak silat. Dengan demikian guru ataupun pelatih dapat mengantisipasi hal-hal yang dapat terjadi serta dapat mencegah dan merawat saat berlatih atau bertanding. Dari pengamatan beberapa pesilat dewasa ini mereka banyak cenderung untuk memeriksakan cederanya pada seorang dukun ataupun tukang urut yang tidak semuanya mengetahui betul tentang susunan anatomi manusia. Sehingga dengan demikian cedera yang diderita pesilat tdak menjadi sembuh, tetapi akan menjadi lebih parah. Perlunya pengertian tentang cedera dan permasalahannya bagi guru atau pelatih adalah untuk dapat memberi pertolongan pertama apabila terjadi cedera pada pesilat sehingga sekecil mungkin cedera akan dapat dihindari.

Upaya Yang Perlu Dikembangkan Dalam Melaksanakan Kurikuluim Fleksibel

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 103-115
Abstraksi Narasi : Kesenjangan antara pendidikan dan dunia kerja, merupakan masalah yang dilematis. Banyak faktor yang diperkirakan sebagai penyebabnya. Salah satu diantaranya kurikulum yang disajikan oleh lembaga pendidikan jurang mengarah pada penumbuhan dunia kerja dan usaha yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja. Hampir tiga tahun kurikulum fleksibel diberlakukan di lembaga-lembaga pendidikan tenaga kependidikan termasuk di Jurusan Pendidikan Olahraga FPOK IKIP Yogyakarta. Memang masih belum cukup waktu mengevaluasi berhasil tidaknya kurikulum tersebut, karena menurut Nasution (1985-221) pada hakekatnya penilaian kurikulum dapat dilihat dari hasilnya, yaitu kedudukan, kehidupan atau prestasi para lulusannya. Hal ini mengidentifikasikan bahwa masih harus menunggu waktu. Namun demikian lahirnya kurikulum flaksibel merupakan suatu pendekatan perbaikan ke arah terciptanya lulusan yang mempunyai kesempatan lebih terbuka untuk terjun ke dunia kerja. Akan tetapi karena konsep perbaikan meminta situasi yang baru, maka harus terjadi pengembangan yang melibatkan berbagai kemampuan untuk mengoptimalkan kurikulum tersebut. Untuk melaksanakan kurikulum fleksibel harus diiringi adanya upaya perubahan dari perubahan dari tatanan yang paling rendah, yaitu jurusan. Perubahan pada tingkat jurusan dapat dilakukan seandainya setiap pengajar juga mengalami perubahan sikap, yakni perubahan sikap mengajar dengan perencanaannya masing-masing menjadi mengajar dam koordinasi.

Upaya Pengembangan Ekonomi Pedesaan

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 57-68
Abstraksi Narasi : Menurut Sakernas 1976,81% penduduk Indonesia tinggal di daerah pedesaan. Kegiatan ekonomi pedesaan pada dasarnya merupakan kehidupan yang seadanya yang mengolah dan menfaatkan sumber daya alam setempat. Kegiatan ekonomi yang dilakukan di daerah pedesaan masih bersifat tradisional, dengan skala usaha yang kecil dan subsisten. Daerah pedesaan memiliki sumber daya alam potensial yang relatif banyak, tenaga kerja yang banyak dan murah. Tersedianya sumber daya alam yang banyak serta tenaga kerja yang murah merupakan faktor yang sangat menguntungkan bagi perkembangan ekonomi daerah yang bersangkutan. Tersedianya jumlah penduduk yang banyak merupakan pasar potensial. Namun demikian, perkembangan ekonomi pedesaan dirasakan masih sangat lambat, walaupun telah tersedia berbagai sarana dan prasarana perhubungan dan komunikasi. Jika dibandingkan dengan perkembangan ekonomi perkotaan, perkembangan ekonomi pedesaan tertinggal jauh. Adanya perbedaan laju perkembangan ekonomi daerah pedesaan dan perkotaan diduga disebabkan oleh beberapa faktor. Di satu pihak, di daerah perkotaan lebih berkembang kekuatan "spread effect" dan sebaliknya kekuatan "backwash effect" lebih berkembang di daerah pedesaan. Di lain pihak, disebabkan kurangnya kesempatan masyarakat pedesaan untuk berpartisipasi dalam pembangunan karena kurangnya pengusahaan asset produksi, rendahnya nilai tukar komoditi serta rendahnya sumber daya manusia di pedesaan. Keadaan ini jika dibiarkan akan mengakibatkan ketidak-merataan ekonomi regional ataupun gap antara perkembangan ekonomi perkotaan pedesaan perlu lebih dikembangkan ekonomi kota dan desa, sehingga mengalirnya modal ke kota dan urbanisasi dapat dikurangi. Untuk itu, diperlukan kebijaksanaan yang mendasar untuk meningkatkan pemilikan asset produksi masyarakat pedesaan, peningkatan pemanfaatan teknologi, memberikan bantuan pemasaran dan pengadaan bahan baku serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan.

Upaya Merangsang Kreativitas Anak Berbakat

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 33-44
Abstraksi Narasi : Penanganan anak berbakat (gifted and talentad) supaya daya kreativitasnya meningkat dan berkembang belum secara nyata diadakan di Indonesia dan baru dalam taraf penjajagan secara insidental. Utami Munandar telah menerbitkan buku "Pemanduan Anak Berbakat" sebagai hasil penelitiannya pada tahun 1982. Menurut Utami Munandar antara intekegensia dan kreativitas terdapat hubungan yang positif. Renzulli (1986) mengemukakan bahwa keberhasilan penciptaan sesuatu yang produktif (creative productive accomplishment) adalah interaksi antara 3 macam kepribadian, yaitu: kemampuan di atas rerata-rerata (above average ability), bertanggung jawab atas penyelesaian suatu tugas (task commitment), dan kreativitas (credibility). Penulis berhasrat menyumbang sekelumit gagasan mengenai upaya merangsang kreativitas bagi anak berbakat dengan mengadakan perangsangan secara dini, dengan cara-cara yang dianjurkan oleh para pakar, antara lain Crabbe (1986). Torrance (1976) mengadakan kompilasi dari semua pendapat dari berbagai pakar dan menghasilkan 48 ciri-ciri yang mendasari kreativitas tersebut tidaklah praktis untuk dipergunakan dan dipadatkan lagi menjadi kelompok ciri-ciri yang sifatnya merupakan sikap (attitudinal) dan ciri-ciri yang sifatnya merupakan kemampuan (abilities). Akhirnya terbentuk sebuah poligon bersudut 7 yang didalamnya terdapat lingkaran berkerucut 7 yang didalamnya berisi 7 macam sikap. Di antara berkerucut-kerucut yang berjumlah 7 terdapat terdapat ruangan-ruangan sebanyak 7 buah yang berisi 7 macam kemampuan. Penulis ingin mengajukan pelatihan-pelatihan yang merangsang timbulanya kreativitas di antara para siswa di SD berdasarkan 7 komponen sifat yang berupa sikap dan 7 komponen sifat yang berupa kemampuan dengan didahului dengan pelatihan yang dapat mengungkapkan konsep jati diri yang positip (positive self consept). Penulis tidak akan mengemukakan semua contoh pelatihan , tetapi hanya mengambil: 1) pelatihan konsep jati diri yang positif, 20 pelatihan keterbukaan untuk menerima ide-ide (openess to ideas), 3) pelatihan untuk kepekaan (perceptiveness), 4) pelatihan untuk kemandirian (independece), dan 5) pelatihan untuk keaselian (originality). Akhirnya penulis mengajukan 13 macam saran untuk merangsang kreativitas seperti yang tertera pada halaman-halaman terkahir dari naskah ini.

Studi Awal tentang Gagasan Islamisasi Ilmu-Ilmu Sosial

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 69-78
Abstraksi Narasi : Gagasan Islamisasi Ilmu-ilmu sosial merupakan isu sentral dikalangan sarjana muslim setelah memperhatikan perkembangan ilmu-ilmu sosial Barat yang jauh dari nilai-nilai Ilahi yang tidak cocok diterapkan dan digunakan oleh umat Islam. Gagasan tersebut dimotori oleh Ismail Razi Al-Faruqi yang kemudian diikuti dan dikembangkan oleh sarjana-sarjana Muslim lainnya Syed Muhammad al-Naquib Alatas, Ziauddin Sardar, dan lain-lainnya. Isalamisasi ilmu-ilmu sosial ini bisa diupayakan dengan menghilangkan unsur-unsur dan konsep-konsep pokok yang membentuk ilmu-ilmu sosial yang dirumuskan tidak atas dasar pengetahuan yang diwahyukan Allah ataupun kepercayaan agama. Setelah melewati proses tersebut maka harus diupayakan konsep-konsep pokok keislaman ke dalam ilmu-ilmu sosial tersebut sehingga terbentuk ilmu-ilmu yang benar-benar yang sesuai dengan fitrah manusia. Konsep-konsep yang dimaksud misalnya konsep din (agama), hikmah (kebijaksanan), `adl (keadilan), dan sebagainya. Masih banyak problem yang dalam rangka menerapkan gagasan Islamisasi ilmu-ilmu sosial ini, seperti belum adanya kesepakatan yang bulat dikalangan para sarjana Muslim sendiri. Menerapkan konsep-konsep ilmu sosial Islam pada bagian-bagian yang sulit dipecahkan hingga sekarang.

Pragmatik Komunikatif Dalam Pembelajaran Bahasa

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 1-13
Abstraksi Narasi : -

Penggunaan Alat Bantu Komputer Dalam Pengajaran Kimia Sebagai Suatu Usaha Peningkatan Mutu Pendidikan

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 21-31
Abstraksi Narasi : Untuk mempelajari materi kimia dengan mikro atau fundamental seringkali ditemui banyak kendala karena keterbatasan indera manusia. Untuk itu diperlukan suatu alat bantu yang mampu mengurangi atau bahkan mengatasi keterbatasan yang ada pada manusia. Alat bantu komputer ternyata dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang materi yang dirasa sulit untuk diterima bila hanya menggunakan indera manusia, contohnya: gerak partikel dalam ruang satu dimensi, model atom Bohr, model atom Bohr Soomerfeld, proses terjadinya reaksi kimia, dan masih banyak yang lain. Untuk dapat menggunakan komputer sebagai alat bantu dalam pengajaran kimia diperlukan seorang yang menguasai ilmu kimia secara ` mendarah daging` serta programer yang mampu membuat programer yang mampu membuat program yang relevan.

Pengembangan Terpadu Aspek Pengetahuan-Ketrampilan-Sikap Dalam Proses Belajar-Mengajar Fisika Di SMA

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 15-20
Abstraksi Narasi : Proses belajar-mengajar Fisika yang hanya menekankan pada salah satu aspek kemampuan siswa, tidak cukup untuk mengembangkan seluruh potensi siswa. Oleh karena itu diperlukan suatu pengembangan aspek pengetahuan-ketrampilan-sikap secara terpadu. Kendala dalam melaksanakan model ini antara lain terbatasnya waktu dalam kaitan dengan banyaknya materi dalam kurikulum, serta erfokusnya EBTANAS dan UMPTN pada aspek pengetahuan saja.

Pengelolaan Limbah Zat Radioaktif: Suatu Antisipasi Bahaya Radiasi

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 127-138
Abstraksi Narasi : Tujuan utama pengelolaan limbah zat radioaktif ialah membuat dosis radioaktif yang diterima manusia dan lingkungannya dari limbah tersebut serendah mungkin, sehingga dalam setiap keadaan dosis maksimum tahunan yang diperkenankan. Semua zat radioaktif dan radiasi mengandung bahaya luar dan dalam. Yang dimaksud radiasi disini ialah radiasi peng-ion seperti sinar-X, radiasi alva. dan partikel bermuatan. Akibat radiasi neutron timbul radiasi peng-ion. Bahaya luar diakibatkan oleh pemaparan luar (external exposure), sedang bahaya dalam diakibatkan oleh pemaparan dari dalam (internal exposure). Ada empat prinsip.teknik yang dapat diterapkan dalam pengelolaan limbah zat radioaktif, yaitu: dengan pengenceran dan dispersi untuk limbah dengan aktivitas rendah, penundaan dan peluruhan untuk limbah berumur pendek, pemampatan untuk limbah dengan aktivitas sedang dan tinggi, dan pewadahan (countainmet). Sistem pengelolaan kadang-kadang juga terdiri dari kombinasi dari keempat prinsip/teknik tersebut. Untuk menetapkan beberapa besar konsentrasi dari berbagai radionuklida yang dapat dibuang dengan aman dan tidak membahayakan umat manusia dan lingkungannya, maka harus dievaluasi kapasitas penampungan dari lingkungan tersebut untuk menerima radioaktivitas dengan menggunakan pendekatan `jalur kritis` yakni jalan yang paling efektif bagi radionuklida kepada manusia dalam situasi dan kondisi tertentu yang menyebabkan kerusakan akibat radiasi. Ini memberikan suatu penentuan konsep tentang dosis radiasi dan pemeparan maksimum yang diperkenankan (maximum permissible radition dose)
← Kembali ke Halaman Utama