| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 139-149 |
| Abstraksi Narasi | : | Sistem Periodik Unsur adalah suatu bentuk pengelompokan unsur-unsur secara sistematis, berdasarkan kemiripan sifat unsur-unsur tersebut sehingga mudah untuk dipelajari. Suatu unsur dalam Sistem Periodik Unsur kedudukannya dinyatakan dengan menyebutkan blok, golongan serta periodenya. Sampai saat ini unsur La dan Ac dalam Sistem Periodik Unsur Lu dan Lr lebih sesuai untuk diletakkan pada golongan IIIB di bawah unsur Sc dan Y. Sifat-sifat tersebut, antara lain: jari-jari atom, potensial ionisasi, titik leleh, keelektronegatifan, struktur kristal, dan sifat super konduktivitasnya. Sedangkan La dan Lc lebih cepat bila ditempatkan sebagai anggota pertama dari deret Lantanida dan Aktinida. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 45-57 |
| Abstraksi Narasi | : | Kemiskinan merupakan masalah dunia yang selalu aktual, sebab di setiap negara sedang berkembang mempunyai masalah tersebut dan tidak dengan segera bisa terpecahkan. Jumlah penduduk miskin di Indonesia masih 25,9 juta jiwa atau13,67 persen dari seluruh penduduk Indonesia pada akhir tahun 1993. Dari jumlah tersebut, 17,2 juta jiwa berada dipedesaan. Untuk membantu mereka dalam mengentaskan diri dari kemiskinan mutlak diperlukan pembangunan, dan salah satu diantaranya adalah pembangunan pertanian. Pemabngunan pertanian tersebut meliputi pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Pembangunan pertanian haruslah diarahkan untuk dapat meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani dan nelayan, dan sekaligus memperluas lapangan pekerjaan dan kesempatan berusaha. Artinya, jangan sampai hasil pembangunan tersebut hanya dinikamati oleh para pelepas uang dan tengkulak yang selalu menguasai tata niaga dan "perekonomian` di pedesaan. Dalam menunjang pembangunan pertanian, pemerintah perlu melakukan campur tangan. Pemerintah perlu menyediakan fasilitas umum (social overhead capital0 yang dirasa berat kalau disediakan oleh para petani sendiri. Selain itu, perlu digalakkan penelitian dan pengembangan serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian agar produktivitas pertanian meningkat. Peran Koperasi Unit Desa (KUD) juga perlu diintensifikasi dalam membina usaha pertanian supaya hasil pembangunan pertanian bisa betul-betul meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 117-125 |
| Abstraksi Narasi | : | Kepentingan untuk memelihara lingkungan sering berbenturan dengan kebutuhan untuk membangun. Pengaturan tata ruang penggunaan lahan dapat dipakai untuk menengahi konflik antara dua kepentingan tersebut. Dengan demikian pembangunan yang berkesinambungan (sustainable development) dapat berjalan. Beberapa aspek yang perlu diperhitungkan dalam pengaturan tata ruang antara lain aspek topografi, hidrologi, geologi, tanah, vegetasi dan kesesuainnya terhadap berbagai jenis penggunaan lahan. Masing-maisng aspek tersebut perlu ditinjau kesesuaiannya terhadap berbagai jenis penggunaan lahan. Dalam studi kelayakan, kesesuaian tersebut dapat dituangkan dalam bentuk peta-peta kesesuaian untuk kemudian dibuat peta kesesuaian gabungan yang mencakup semua aspek. Hasil studi kelayakan ini dapat digunakan untuk penyusunan rencana tata ruang penggunaan lahan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 79-91 |
| Abstraksi Narasi | : | Hampir di semua negara termasuk negara berkembang pada beberapa dekade terakhir ini aktif melaksanakan pembangunan. Pembangunan yang dilakukan di beberapa negara tersebut dapat berbeda satu dengan lainnya. Hal tersebut tentunya sangat tergantung pada model pembangunan yang dianut oleh masing-masing negara. Dinamika pergeseran model-model pembangunan yang diterapkan dalam suatu negara pendukungnya. Ketepatan penerapan sistem administrasi sangat membantu dalam pencapaian tujuan pembangunan yang berdasarkan suatu model tertentu. Berdasarkan pendekatan teoritik ini, digunakan untuk mengevaluasi implementasi pembangunan di Indonesia. Hasil telaah terhadap kasus program INpres Dati II, menunjukkan berdasarkan pendekatan tujuan yang ingin dicapai, model yang ingin diterapkan Indonesia adalah model II yang diperlukan adalah sistem administrasi yang lebih menekankan pada peningkatan `pelayanan publik` dan partisipasi daerah dalam penyusunan dan implementasi rencana. Implementasi program menunjukkan sistem administrasi model I. Hal tersebut terlihat dari struktur , proses pelaksanaan dan pengelolaannya yang masih bersifat sentralistis, birokratis dan penuh regulasi. Peningkatan kemampuan sistem administrasi untuk melaksanakan fungsi regulatif dan penyelenggaraan model pembangunan ini membutuhkan usaha ke arah pembentukan kebijakan deregulasi, debirokratisasi, desentrelisasi dan privatisasi. |
| Nama Pengarang | : | I Ketut Sunarya, F. Winarni, Sunar Rochmadi, Nurhadi, Heru Pratomo Al, Supahar, Jumadi, Isana SYL, Suwarno, MArzuki, Busono, Mardiati, Sukidjo, Dimyati |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 93-101 |
| Abstraksi Narasi | : | Pola kehidupan masyarakat yang tumbuh dan berkembang berusaha menyesuaikan diri dengan konstelasi modern sejalan dengan era globalisasi dewasa ini. Kebutuhan akan sesuatu produk semakin meningkat, kebutuhan masyarakat semakin kompleks yang cenderung sebagai masyarakat konsumtif praktis. Cenderung orang menuntut suatu produk yang enak dilihat maupun dipakai dengan pengeluaran anggaran yang sangat terbatas, yakni suatu produk yang sering disebut dengan barang murah meriah. Salah satu produk yang tidak lepas dari pendapat di atas adalah kerajinan. Pada dasarnya kelahiran kerajinan terkonsep dari suatu kebutuhan baik untuk kebutuhan diri sendiri si pembuat atau kebutuhan lingkungannya, sampai pada dewasa ini peranan kerajinan merupakan salah satu andalan penambah devisa negara selain non migas. Terbentuknya kerajinan tidak bisa lepas dari keprigelan tangan, ketekunan (sabar), namun pada perkembangan dewasa ini keprigelan tangan dan ketekunan perajin sedikit demi sedikit sudah diganti dengan mesin, seperti mesin bubut, mesin pelobang, (jigsaw) bahkan sampai pada mesin ukir. Semakin berkembangnya masyarakat tuntutan akan gaya ragam kerajinan sebagai suatu kebutuhan semakin meningkat. Maka keterbatasan mesin sebagai alat untuk menciptakan kerajinan yang berbentuk, baru (motif baru) merupakan tanggung jawab Empu atau Kriyawan. Empu atau Kriyawan sebagai perancang kerajinan (desainer) yang dibantu oleh Perajin harus tanggap terhadap perkembangan zaman, selain itu tanggungjawab melestarikan seni tradisional yang bersifat adhilihung jangan ditinggalkan. Keberadaan Empu atau Kriyawan dan Perajin sangat diperlukan untuk setiap menjadi pelari beranting tanggung jawab atas warisan kerajinan yang bersifat adhiluhung. Tanggung jawab sebagai pelestari dan mengembangkan gayaragam kerajinan berorientasi zaman. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 65-76 |
| Abstraksi Narasi | : | Kondisi pengajaran di SD hingga kini masih kurang menekankan pada pengajaran sebagai proses. Kegiatan pengajaran masih sering disajikan hanya dalam bentul pemberian informasi kurang didukung dengan penggunaan media dan sumber-sumber lain. Sehingga informasi-informasi yang disajikan guru, yang ada dalam buku-buku paket dan yang tercantum dalam kurikulum, tidak banyak artinya bagi kehidupan. Dalam proses belajar mengajar, siswa harus secara aktif ada upaya untuk berbuat atas dasar kemampuan dan keyakinannya sendiri. Karena, belajar baru akan terjadi jika individu berinteraksi dengan lingkungan atau sumber belajar. Untuk itu tugas guru sebagai pemberi ilmu sudah harus bergeser kepada peran baru yang lebih kondusif bagi siswa, yaitu dapat memilih dan mengkombinasikan metode mengajarnya dengan sumber-sumber belajar atau media pengajaran yang ada. Untuk keperluan itu guru dapat membuat sendiri paket media pengajaran dari bahan-bahan dan alat-alat sederhana yang murah harganya dan mudah diperoleh. Sebagaimana dikemukakan oleh para ahli pengajaran bahwa efektivitas media dalam sistem pengajaran tidak terletak pada media apa yang digunakan, tetapi bagaimana media tersebut digunakan. Maka intensitas penggunaan media sangatlah penting. Intensitas penggunaan media dapat dilihat dari aspek kuantitas maupun kualitasnya. Dari aspek kuantitas penggunaan media, ukurannya adalah keseringan atau frekuensi media digunakan dalam kegiatan pengajaran. Sedangkan dari aspek kualitas penggunaan media, dapat dilihat dari bobot penggunaanya, yaitu ketepatan dan bermaknaan media bagi kepentingan belajar murid. Kualitas penggunaan media dapat dilihat dari; 1) strategi penggunaan media dalam kegiatan pengajaran, dibagi ke dalam 3 bagian, yaitu persiapan sebelum menggunakan media, kegiatan pengajaran, dibagi ke dalam 3 bagian, yaitu persiapan sebelum menggunakan media, kegiatan selama menggunakan media, dan kegiatan tindak lanjut. 2) pengklasifikasian media pengajaran untuk keperluan mempreskripsikan strategi penyampaian pengajaran, meliputi (a) tingkat kecermatan representatif media, (b) tingkat interaktif yang mampu ditimbulkan media, (c) tingkat kemampuan khusus yang dimiliki media, (d) tingkat motivasi yang mampu ditimbulkan media, dan (e) tingkat biaya yang diperlukan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 41-52 |
| Abstraksi Narasi | : | Keutuhan sebuah wacana ditentukan oleh beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut sebagian besar cenderung berorientasi pada segi semantis; yaitu pada `sistem pertalian makna` antarbagian (proposisi) wacana itu sendiri. Salah satu bentuk sistem pertalian makna yang dikaji dalam makalah ini ialah aspek inferensi. Sistem pertalian makna inferensi - dalam wacana Jawa - mampu mempertalikan makna-makna dalam suatu kesatuan yang integralistik dan koherensif. Meskipun sistem pertaliannya bersifat deep structure, dari dalam, akan tetapi hubungan dan keterkaitan antarmakna dapat ditangkap dan dipahami keberadaannya. Dengan adanya bangunan inferensi, maka sebuah wacana akan terbentuk menjadi konstruksi semantis yang utuh dan koherensif. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 91-102 |
| Abstraksi Narasi | : | Mendaki gunung merupakan "kegiatan menantang maut" yang banyak diminati oleh kaum muda, terutama yang berjiwa petualangan. Tujuan yang inginndicapai berbeda-beda, satu dengan lainnya. Ada yang melakukan untuk sekedar menikmati keindahan alam, tetapi ada juga yang melakukan untuk "menyatu" dengan alam. Sudah banyak korban berjatuhan: cedera, cacat, meninggal, dan bahkan ada yang tidak diketahui rimbanya sampai kini. Disinyalir, salah satu penyebabnya adalah lemahnya kondisi fisik pendaki. Untuk menghindari terjadinya kecelakaan sekaligus mencapai sukses, ada empat syarat yang dianjurkan bagi mereka yang akan melakukan pendakian, yaitu; memiliki kondisi fisik dan mental yang baik, mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi, ada perencanaan yang matang, dan didukung perlengkapan yang memadai. Latihan fisik yang diseyogyakan bagi para pendaki gunung adalah latihan aerobik, yaitu latihan yang dapat mengembangkan daya tahan kardiorespirasi, dan latihan kekuatan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 77-90 |
| Abstraksi Narasi | : | Fungsi utama program ini adalah untuk memperkaya kehidupan seseorang dengan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk ambil bagian dalam suatu kegiatan hingga memungkinkan orang tersebut dapat menemukan tempat dan cara penyaluran untuk mengungkapkan segala keinginan, perasaan (uneg-uneg), dan potensi yang dimiliki sehingga memperoleh kepuasan. Mengenai kepuasan itu sendiri dapat diperoleh melalui kegiatan petualangan, kegiatan petualangan, kegiatan berkelompok/berkawan penguasaan ketrampilan tertentu, karena dapat menikmati keindahan, dan karena daya ciptanya berkembang. Kesemuanya itu merupakan bekal menuju ke arah pencapaian kesejahteraan umat manusia. Melalui program rekreasi ini seseorang dibantu untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan menumbuhkan minat kuat untuk dapat memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan yang konstruktif, menjadi warga negara yang baik, percaya diri, dan harga diri. Yang penting untuk disimak di sini adalah bahwa rekreasi itu sendiri pada dasarnya lebih merupakan pengalaman yang berharga atau bernilai yang didapat melalui program rekreasi yang diorganisasi daripada merupakan bentuk suatu kegiatan tertentu. Program rekreasi tersebut dapat diorganisasi atau direncanakan oleh sekolah, universitas, badan-badan rekreasi masyarakat, dan/atau sejenisnya. Termasuk kegiatan rekreasi di sini ialah bermain, olahraga, kesenian (seni lukis, seni musik, seni drama, seni kerajinan, dan seni yang lain) kegiatan sosial, studi tour, outing, petualangan, berkemah dan kegiatan-kegiatan lain. Selanjutnya, program rekreasi yang komprehensif hendaknya dapat memberikan kesempatan yang luas kepada semua peserta dan untuk segala usia, segala macam latar belakang, dan minat untuk berpartisipasi. Untuk itu semua maka hendaknya kegiatan tersebut dibawah bimbingan seorang pembina rekreasi/instruktur, atau yang memiliki latar belakang yang memadai di bidang rekreasi serta didukung oleh keadaan yang kondusif untuk dapat memperoleh kesenangan, kebahagiaan/kepuasan, dan kemanfaatan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 53-63 |
| Abstraksi Narasi | : | Untuk menguasai pemrograman komputer dengan baik diperlukan kemampuan dasar-dasar pemrograman, alur logika berpikir rasional dan sistematis, kemampuan memahami dan menentukan masalah, serta kemampuan mengaplikasikan kaidah-kaidah bahasa pemrograman untuk merancang dan membuat program guna memecahkan suatu masalah. Penggunaan metode klasikal, individual serta pengajaran berbantuan komputer yang selama ini digunakan dipandang kurang tepat karena tidak sesuai dengan karakteristik materi pemrograman komputer. Oleh karena itu, perlu dikembangkan metode pembelajaran pemrograman komputer yang paling tepat agar hasil pembelajaran dapat dicapai secara optimal. Metode kooperatif merupakan metode yang paling sesuai dan efektif untuk mengajarkan materi pemrograman komputer karena pada proses pembelajaran metode ini mahasiswa mampu meningkatkan penemuan dan pengembangan strategi kognitif pada kualitas yang tinggi, berpikir analisis sisntesis dan mengarah pada pemecahan masalah. Prinsip-prinsip metode kooperatif antara lain: menekankan adanya kerjasama dan keberhasilan bersama, terdiri atas kelompok-kelompok kecil (3 s.d.5 mahasiswa perkelompok), aktivitas belajar lebih berpusat pada mahasiswa, dosen berfungsi sebagai fasilitator dan motivator, diskusi untuk mengemukakan informasi baru, menjelaskan dan menyatukan pemikiran-pemikiran rasional yang mengarah pada pemecahan masalah. Berbagai keuntungan penggunaan metode kooperatif di antaranya adalah: mampu meningkatkan aktivitas dan kreativitas mahasiswa, lebih termotivasi secara instrinsik, mempunyai self-esteem lebih baik dan secara personal lebih terampil serta mempunyai apresiasi yang lebih tinggi terhadapa materi yang dipelajari. |