Pencarian Artikel Jurnal & Majalah

Menampilkan keseluruhan arsip dokumen (Halaman 33213 dari 34189, Total: 341888 data)

Pembinaan Sumber Daya Manusia Hubungannya Dengan Pelestarian Sumber Daya Alam

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 139-148
Abstraksi Narasi : Sebagai makhluk berbudaya, manusia bertanggung jawab terhadap Tuhannya, dalam arti menjaga kelangsungan hidup manusia dan kelestarian lingkungannya. Dalam usaha menjaga kelangsungan hidupnya, manusia selalu berhubungan dengan lingkungannya yaitu dengan usaha memanfaatkan sumber daya alam dengan disertai pengelolaan yang baik, lebih-lebih terhadap sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui supaya tidak cepat habis. Agar pengelolaan sumber daya alam terlaksana dengan baik manusia dituntut untuk memiliki pengetahuan, keahlian, dan keterampilan maka perlu adanya pembinaan terhadap sumber daya manusia sendiri, di mana sumber daya manusia di sini berfungsi sebagai pengelola dan berkewajiban melestarikan lingkungannya. Salah satu cara dalam pembinaan sumber daya manusia hubungannya dengan pelestarian sumber daya alam adalah melalui pendidikan, yaitu Pendidikan Kependudukan dann Lingkungan Hidup (PKLH), baik formal maupun nonformal. Pendekatan yang digunakan dalam pendidikan formal adalah monolitik (tingkat Perguruan Tinggi) dan integratif (tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas). Pendekatan nonformal dimulai dari keluarga, kegiatan-kegiatan dalam masyarakat, media komunikasi massa baik melalui media cetak, elektronika, ataupun media tradisional.

Mengatasi Masalah Ketenagakerjaan Dalam PJPT II sebagai Strategi untuk memperkokoh Ketahanan Nasional

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 149-160
Abstraksi Narasi : Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia menghadapi tiga masalah besar dalam pembangunannya. Ketiga permasalahan tersebut adalah masalah ketenagakerjaan, masalah pemerataan pendapatan, dan masalah pengentasan kemiskinan. Ketiga permasalahan tersebut mempunyai kaitan yang sangat erat, di samping menduduki posisi sangat strategis dalam membentuk ketahanan nasional Indonesia. Tulisan ini mencoba untuk melihat salah satu aspek saja, yaitu ketenagakerjaan dikaitkan dengan ketahanan nasional. Masalah ketenagakerjaan dalam PJPT I belum banyak terpecahkan. Pengangguran terselubung masih menumpuk di daerah pedesaan, sedangkan jumlah tenaga kerja setengah menganggur semakin memadati wilayah perkotaan. Padahal, dalam menyongsong era tinggal landas, masalah ketenagakerjaan yang kini populer dengan sebutan "sumber daya manusia" menjadi masalah ketenagakerjaan merupakan kunci dari keberhasilan PJPT II mendatang. GBHN 1993 khususnya dalam Repelita VI sebagai awal dari PJPT II mengamanatkan bahwa kebijaksanaan ketenagakerjaan lebih diarahkan pada upaya penciptaan dan perluasan lapangan kerja, peningkatan mutu tenaga kerja, serta kesejahteraan dan keselamatan tenaga kerja. Guna mewujudkan amanat GBHN tersebut hendaknya masalah ketenagakerjaan dipecahkan secara integralistik, komprehensif dan lintas sektoral, mengingat masalah ketenagakerjaan sangat terkait dengan ketahanan nasional.

Implikatur Percakapan (Sebuah Tinjauan Psikolinguistik)

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 1-27
Abstraksi Narasi : Dalam percakapan sehari-hari orang tidak selamanya mempergunakan bentuk-bentuk kebahasaan yang bermakna literal, melainkan juga memakai bentuk-bentuk lain yang bermakna tidak langsung. Walau antara bentuk kebahasaan yang dipakai dengan makna yang dimaksud tak ada kesesuaian, orang masih dapat memahami maksud pembicaraan dengan membuat implikatur-implikatur. Implikatur merupakan makna ekstra yang sengaja diinferensikan untuk menjembatani perbedaan antara bentuk yang dipakai dengan makna yang dimaksudkan dalam konteks prakmatik percakapan. Implikatur memberikan penafsiran pragmatis yang mampu melewati dan menembus batas-batas struktural linguistik. Implikatur lebih diderivasikan dari struktur logika atau sematis daripada struktur lahir kebahasaan. Untuk dapat memanfaatkan implikatur secara baik, ada semacam aturan yang perlu dipatuhi pembicara, yaitu yang disebut maksim percakapan. Ada empat macam maksim, yaitu maksim kualitas yang berkaitan dengan kebenaran informasi yang dikatakan, maksim kuantitas yang berupa tuntutan berbicara seperlunya, maksim relasional yang berkaitan dengan kerelevansian dengan sesuatu yang dituturkan, dan maksim cara yang berwujud cara mengemukakan sesuatu. Maksim cara inilah yang dalam banyak hal menentukan stile penuturan seseorang. Bentuk metafora yang memiliki keunggulan karena kemampuannya mengemukakan banyak dengan sedikit kata yang sering banyak dipergunakan dalam percakapan dapat dipahami dengan memanfaatkan jasa implikatur terutama yang berupa maksim relasional. Dampak bagi pengajaran pembuatan implikatur-implikatur karena kemampuan itu tak akan diperoleh begitu saja oleh anak.

Dualisme Ekonomi-Sosial Masyarakat dan Kesenjangan Dalam Memperoleh Pendidikan

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 29-39
Abstraksi Narasi : Kemajuan pembangunan selama Orde Baru sekarang ini telah bisa dilihat hasilnya. Salah satu indikator paling menonjol adalah tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas rata-rata negara umumnya di dunia, yaitu 7% pertahun. Tetapi hal ini kurang diimbangi dengan tingkat pemerataan yang memadai. Akibatnya adalah timbulnya kondisi ekonomi dan sosial masyarakat yang dualistis atau dikenal dengan "dualisme ekonomi-sosial masyarakat". Yaitu, munculnya "kelompok elit" secara ekonomidan sosial di satu sisi, serta "kelompok marginal" di sisi yang lain. Kondisi demikian pada kenyataannya menjadi pra-kondisi dan berkedudukan sebagai setting pendidikan yang sangat berperan dalam menciptakan kesenjangan dalam memperoleh pendidikan. Sebagian kelompok masyarakat memperoleh kesempatan lebih besar dalam mengikuti pendidikan (Perguruan Tinggi), sedang kelompok masyarakat lainnya kurang memperolehnya. Sehingga secara logis, ada pengaruh antara kondisi ekonomi-sosial masyarakat yang dualitas terhadap munculnya kesenjangan dalam memperoleh pendidikan. Oleh karenanya, upaya-upaya untuk mengatasi hal itu telah ditempuh oleh pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Dengan cara di samping memberikan peluang yang sama kepada semua warga negara untuk mengikuti pendidikan di Perguruan Tinggi, juga diberikan perlindungan bagi mereka yang secara ekonomi-sosial kurang beruntung (disadvantaged).

Cara Mengatasi Kesulitan Belajar Akibat Disfungsi Minimal Otak (DMO)

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 103-121
Abstraksi Narasi : Disfungsi Minimal Otak (DMO) yang terjadi pada anak usia sekolah dapat berwujud sebagai gejala disfasia, disleksia, disgrafia, dispraksia, diskalkulia dan gangguan atensi. Semua ini tercakup dalam Kesulitan Belajar Spesifik yang disebabkan karena adanya suatu kelainan pada fungsi dari sistem syaraf sentral. Kesulitan belajar spesifik dapat berbentuk kombinasi dari kerusakan dalam pemahaman pembentukan konsep, bahasa, ingatan, perhatian dan fungsi motorik. Untuk mengetahui kesulitan belajar anak DMO lebih sulit dibandingkan dengan mendeteksi kesulitan belajar akibat adanya gangguan penglihatan, pendengaran dan retardasi mental karena untuk mengetahui kesulitan belajar spesifik memerlukan perhatian dan cara yang teliti dan memerlukan bantuan dari ahli-ahli berbagai disiplin ilmu , seperti dokter, psikologi ataupun therapis lain. Beberapa program untuk melayani anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik meliputi, antara lain: 1. Kerjasama antara para spesialis; 2. Pemberian bimbingan dan konseling; 3. Pemberian modifikasi perilaku; 4. Program remidiasi; 5. Pelayanan khusus di sekolah; 6. Pendekatan Taktil-kinestetik dalam belajar; 7. Pendekatan VAKT secara simultan. Diharapkan guru mampu menangani anak DMO dengan cara-cara khusus untuk membantu mengatasi kesulitan belajarnya yang disandangnya.

Beberapa Permasalahan Kualitas Pendidikan MIPA dan Upaya Peningkatannya Menuju Literasi Sains dan Teknologi Untuk Semua Orang

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 123-137
Abstraksi Narasi : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) atau sering disebut sains merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempunyai andil cukup besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang manfaatnya bisa dirasakan dewasa ini. Namun, sebagian besar dari masyarakat kita masih menjadi konsumen IPTEK, oleh karena itu agar kita tidak hanya menjadi pembaca kemajuan IPTEK atau pemakainya saja, perlu ditempuh berbagai upaya untuk memperbaiki mutu pendidikan sains dan matematika yang menjadi dasar penciptaan teknologi, mulai dari pendidikan dasar sehingga semua warga negara nantinya terbuka (Jawa=melek) terhadap sains dan teknologi (scientific and technological literacy). Permasalahan kualitas pendidikan MIPA yang perlu ditingkatkan adalah dalam hal "pemahamannya". Bila cermati memang masih ada permasalahan yangn perlu dipecahkan, yaitu faktor lemahnya penguasaan materi MIPA oleh guru, kreativitas guru, konsep MIPA oleh siswa, kurikulum, laboratorium untuk menunjang keterampilan dan interpretasi siswa, serta referensi ilmiah yang menunjang topik pelajaran. Oleh sebab itu, peningkatan kualitas MIPA pada setiap peserta didik (siswa) melalui perbaikan terhadap faktor-faktor penghambat pembelajaran pendidikan MIPA, memudahkan literasi sains dan teknologi untuk semua orang di waktu yang akan datang.

Bahasa Inggris, Tumbuh Mengglobal dari Bahasa Tertindas Sampai Bahasa Kebutuhan Intelektual

Nama Pengarang : M. Subiyati, Yulipriyanto, Sutratinah Tirtonegoro, Arief Rohman, Nurgiyantoro, Burhan, Sunarso, Puji Lestari, Mujinem, Edy Supriyadi, Johannes Hartoto, Yustinus Sukarmin, Mulyono, Budiningsih, C. Asri
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 17-27
Abstraksi Narasi : Internasionalisasi suatu bahasa memakan waktu yang cukup panjang. Bahasa Inggris tidak begitu saja menjadi bahasa dunia yang fungsinya sangat penting dalam era globalisasi ini. Menurut sejarahnya bahasa Inggris pernah menjadi bahasa tertindas atau bahasa yang kurang berarti di Inggris, yakni pada masa negeri itu dijajah bangsa lain. Diperlukan waktu ratusan tahun bagi bahasa Inggris untuk berkembang menjadi sebuah bahasa internasional. Adalah suatu harapan yang wajar bahwa pada suatu saat bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara berpenduduk lebih seratus delapan puluh juta jiwa ini, akan menjadi salah satu bahasa internasional. Namun masih perlu diingat bahwa internasionalisasi suatu bahasa, tidak tergantung hanya pada jumlah penuturnya. Banyak segi lain yang perlu dikembangkan dalam waktu yang cukup panjang. Sementara itu, dalam era globalisasi ini, bahasa Inggris makin dibutuhkan sebagai sarana komunikasi dan informasi dunia. Kebutuhan ini kian terasa mendesak sehingga kaum terpelajar, merasa kurang bisa berbuat banyak tanpa berbahasa Inggris. Bahasa Inggris sendiri dapat dirasa sukar bagi orang Indonesia. Tetapi, dibandingkan dengan bahasa Eropa yang lain, bahasa asing ini merupakan bahasa asing ini merupakan bahasa yang cukup sederhana. Inilah salah satu pendorong mengapa bahasa Inggris tumbuh mengglobal menjadi salah satu kebutuhan intelektual. Pembelajarannya pun perlu disesuaikan dengan kebutuhan itu.

Transformasi Sosial Masyarakat dalam Perspektif Strukturalisme - Fungsionalisme Suatu Tinjauan Sosiologis

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 127-138
Abstraksi Narasi : Tak perlu dipungkiri bahwa sampai saat ini kemajuan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengalami perkembangan dengan pesat. Perkembangan ilmu pengetahuan tersebut dialami oleh hampir semua masyarakat di muka bumi ini, meskipun dalam kenyataannya perkembangan tersebut memerlukan proses waktu yang berbeda-beda antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Bahkan untuk masyarakat tertentu perkembangan tersebut terasa sangat lambat. Tampaknya selain kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut dapat mempermudah aktivitas manusia dalam mencapai tujuannya juga memiliki dampak negatif yang kadang-kadang sangat mempengaruhi situasi masyarakat tersebut. Satu hal yang dapat diketahui akibat kemajuan teknologi ini adalah terjadinya suatu transformasi sosial dalam masyarakat yang seringkali menimbulkan pula pola tingkah laku manusia yang menyimpang dari norma-norma masyarakat serta terjadinya perubahan pola atau gaya hidup masyarakat pada umumnya.

Seni Tradisional dalam Arus Globalisasi Ekonomi

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 17-30
Abstraksi Narasi : Tujuan semula seni tradisional diciptakan adalah untuk menghambakan diri pada siklus kehidupan,serta memberikan daya keseimbangan kosmos yang spiritualistik. Realitasnya,seni tradisional digunakan untuk upacara ritual, persembahan kepada Tuhan dan keselamatan atau kesejahteraan masyarakat. Seni yang nonmaterialistik itu harus mengahadapi gelombang besar pada era sekarang ini, yaitu arus globalisasi ekonomi. Akibatnya seni tradisional dapat menjadi barang ekonomis, barang industri, barang konsumsi, atau barang praktis. Jika seni itu sudah materialistik, tentu intensitas nilai-nilai yang terkandng didalamnya akan semakin pudar. Oleh karena itu, pengaruh globalisasi ekonomi yang mencemaskan masa depan prospek kehidupan seni tradisional, perlu diantisipasi secara teguh agar nilai-nilai luhur yang terdapat didalamnya tidak luntur dimakan arus tersebut.

Proses Belajar Pemahaman Konsep sebagai Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Fisika di SMA

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 79-85
Abstraksi Narasi : Akhir-akhir ini banyak dikeluhkan mengenai rendahnya prestasi belajar fisika di SMA. Rendahnya prestasi belajar fisika yang dicapai siswa disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain disebabkan oleh faktor tidak dipahaminya konsep-konsep fifika secara dasar oleh siswa. Selanjutnya, dalam mempelajari fisikan diperlukan berbagai kemampuan dasar yang perlu dimiliki siswa. Salah satu kemampuan yang perlu dimiliki siswa dengan baik adalah kemampuan untuk memahami fakta, konsepkonse, prinsip-prinsip dan hukum-hukum fisika secara memadai. Hal tersebut perlu dilatih dan ditanamkan kepada siswa dalam rangka untuk meningkatkan prestasi belajar fisika melalui proses belajar pemahaman konsep fisika secara benar. Proses belajar konsep akan mengacu pada proses pemahaman siswa tentang keterkaitan hubungan antarkonse fisika yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Selanjutnya, semakin baik tingkat pemahaman dan penguasaan konsep-konsep fisika maka kesalahpahaman konsep-konsep fisika dapat dihindarkan.
← Kembali ke Halaman Utama