| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 47-57 |
| Abstraksi Narasi | : | Bahasa sebagai fenomena sosial yang merupakan hubungan segitiga (trimarta) bahasa-masyarakat-kebudayaan akan berubah selama ia masih berfungsi. Apalagi seperti bahasa Jawa yang berada bersama bahasa Indonesia akan saling mempengaruhi dan menimbulkan perubahan. Tingkat tutur bahasa Jawa yang semula berlabel ngoko-madya-krama menjadi berubah sistemnya karena kehadiran arus perubahan, baik dari atas maupun bawah. Madya menjadi tingkat tutur yang populer dan kolokial karena tidak rumit sehingga mudah dikuasai oleh banyak orang dan tidak digunakan dalam situasi formal. Analisa tingkat ini merupakan kajian sosiolinguistik yang berupaya membuat deskripsi singkat tentang perubahanj tata krama bahasa Jawa lewat repertoirenya. Salah satu kesimpulan adalah adanya penguasaan yang kurang atau tingkat tutur krama standar dan makin lemahnya perhatian dan penguasaan varian ini oleh generasi muda (priyayi dan lainnya) menyebabkan perubahan varian ini makin berlanjut. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 139-154 |
| Abstraksi Narasi | : | Anak merupakan generasi penerus dan merupakan tumpuan masa depan bagi bangsa dan negara. Dengan digalakkannya sumber daya manusia saat ini, maka anakpun merupakan salah satu sasaran dari SDM. Agar anak dapat tumbuh dan kembang dengan normal maka peranan gizi sangatah diperlukan dan harus diperhatikan. Dengan terpenuhinya kebutuhan gizi, seperti karbohidrat sebagai sumber energi (tenaga), protein sebagai zat pembangun dan vitamin/mineral sebagai zat pengukur, akan membantu mencegah terjadinya penyakit, yang berakibat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Susunan gizi yang tepat akan memacu pertumbuhan dan perkembangan, makanan yang baik adalah makanan yang disesuaikan dengan tingkat umur dan jenis aktivitasnya. Dengan terpenuhinya kebutuhan gizi, maka diharapkan unsur-unsur pemeliharaan pertumbuhan, perbaikan tubuh yang rusak/aus atau hilang, reproduksi, kerja fisik dan Specific Dynamic Action (SDA) akan baik pula. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 1-15 |
| Abstraksi Narasi | : | Bangsa Indonesia memiliki corak arsitektur yang beraneka ragam dan bercirikan kedaerahan, Arsitektur bangunan masyarakat Jawa dikenal adanya beberapa macam, dari bentuk yang sangat sederhana, seperti panggang-pe sampai yang paling sempurna, yaitu bentuk Joglo. Istilah arsitektur yang digunakan untuk bangunan Jawa sebenarnya tidak tepat benar bila dibanding dengan pengertian arsitektur yang dipakai di negara barat, Arsitektur menurut pengertian barat semata-mata menekankan pada aspek fisik semata. Sedangkan pada bangunan tradisional Jawa tidak hanya aspek fisik semata, melainkan menuntut keabsahan terhadap alam nyata maupun alam yang lebih tinggi. Ciri fisik arsitektur Jawa antara lain memiliki identitas kedaerahan yang kuat, bahan mudah didapat, mudah dipindahkan, ruang mudah dimodifikasi, bercirikan bangunan tropis, akrab dengan lingkungan dan berkesan ramah. Ciri yang lain, sulit mendapatkan ruang yang luas tanpa tiang didalamnya, jika menggunakan kayu yang berkualitas baik bangunan menjadi mahal, banyak ruang yang kurang fungsional, membutuhkan tanah yang relatif luas, menghadapnya bangunan tidak mesti teratur mengikuti keyakinan pemiliknya. Arsitektur tradisional ini sebenarnya masih banyak dibanggakan terbukti masih banyaknya bangunan baru yang ungkapan fisiknya (terutama bentuk atap) bercirikan arsitektur tradisional. Namun, jarang atau bahkan hampir tidak ada bangunan baru di kota yang menggunakan arsitektur tradisional Jawa sepenuhnya, Berbagai pertimbangan yang menyebabkan arsitektur tradisional Jawa ini banyak mengalami perubahan diperkirakan adanya kecenderungan perubahan tata nilai dan sosial budaya masyarakat, keterbatasan lahan, pengembangan teknologi bangunan, pertimbangan efisiensi dan pengaruh arsitektur luar. Perubahan ini tidak mugkin dibendung karena secara alami pasti akan terjadi. Yang penting adalah kelebihan yang dimiliki arsitektur tradisional perlu dipertimbangkan, dan segala kelemahan yang ada wajar jika harus mengalami perubahan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 59-67 |
| Abstraksi Narasi | : | Pemerintah Indonesia mulai Pelita VI pada Pembangunan Jangka Panjang (PJP) II mencanangkan program nasional untuk mengentaskan kemiskinan, yaitu masyarakat yang masih hidup kekurangan dengan mengkonsumsi makanan kurang dari 18000 kalori. Banyak langkah yang ditempuh untuk mengentaskan kemiskinan antara lain dengan memberikan dana Inpres Desa Tertinggal, bimbingan usaha, industri kecil, dan lain-lain. Juga tidak kalah pentingnya adalah dengan memberikan penyuluhan tentang cara mengatur menu makanan yang sehat agar kebutuhan gizi dan kalori terpenuhi. Setiap tubuh memerlukan gizi dan kalori yang cukup, yang meliputi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. Untuk memenuhi kebutuhan gizi maka setiap kali makan harus dengan menu yang sehat yaitu menu yang meliputi, nasi, sayur, lauk-pauk, buah-buahan dan susu atau air. Untuk memenuhi kebutuhan menu yang sehat tidak harus dengan biaya yang banyak dan dengan harga yang mahal, tetapi dengan bahan makanan yang sederhana dan dengan biaya yang murah pun dapat memenuhi kebutuhan gizi dan kalori bagi tubuh. Bahan-bahan yang murah banyak terdapat di desa bahkan mudah untuk diusahakan sendiri dengan bercocok tanam sendiri atau dengan beternak dirmah, Untuk itu diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dari masyarakat miskin, Juga dengan bantuan dari berbagai pihak yang terkait. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 69-78 |
| Abstraksi Narasi | : | Kurikulum Ekonomi SMA 1994 memerlukan pengembangan secara profesional oleh para guru. Hal ini harus dilakukan karena Kurikulum Ekonomi SMA 1994 dirancang dengan model yang tidak rinci. Konsekuensi perencanaan kurikulum yang demikian menuntut agar guru ekonomi memiliki kreativitas yang tinggi dalam mengembangkan agar Kurikulum Ekonomi 1994 dapat diimplemantasikan kedalam proses belajar mengajar yang memiliki makna bagi siswa SMA, Untuk dapat berbuat demikian guru perlu memiliki sikap profesional yang dinamik, antisipatif dan proaktif. Sikap-sikap tersebut dapat dimiliki para guru jika mereka mampu memahami Kurikulum Ekonomi SMA 1994 dalam arti yang luas, baik sebagai produk, program , pengalaman belajar maupun sebagai hasil belajar ekonomi yang diinginkan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 155-165 |
| Abstraksi Narasi | : | Hampir semua orang Indonesia mengenal dan pernah makan kunyit (Curcuma Longa L). Para remaja putri yang sedang menstruasi sering dianjurkan untuk minum kunyit oleh ibu ataupun neneknya. Tetapi akhir-akhir ini kebiasaan baik tersebut jarang dilakukan lagi. Kunyit mengandung kurkumin, demetoksikurkumin dan bisdemeroksikurkumin. Kurkumin dan bisdemetoksikurkumin terbukti mempunyai aktivitas sebagai anti-inflamasi, yaitu dengan menghambat oedema pada telapak jari kaki tikus yang disuntik karagenin dan menghambat enzim sikloosigenase. Prostaglandin merupakan senyawa yang dihasilkan dari asam arakidonat dengan adanya enzim siklooksigenenase. Prostaglandin merupakan salah satu penyebab timbulnya rasa nyeri pada waktu menstruasi. Senyawa yang dapat menghambat terbentuknya prostaglandin yang berarti juga menghambat timbulnya rasa nyeri. Dengan demikian, kebiasaan minum kunyit pada waktu menstruasi perlu diteruskan karena dapat untuk menghilangkan rasa nyeri pada waktu menstruasi. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 113-126 |
| Abstraksi Narasi | : | Dengan pembangunan, kita betekat untuk dapat mengentaskan kemiskinan yang masih dialami oleh sekitar 25,9 juta jiwa penduduk Indonesia. Banyak cara telah dilakukan untuk arah tersebut, dan salah satu diantaranya dengan mengembangkan koperasi. Keharusan untuk mengembangkan koperasi, selain karena ia sesuai (secara ekonomis) dengan kondisi masyarakat kita juga karena telah dimanfaatkan oleh pasal 33 UUD 1945. Sebenarnya usaha pengenalan dan pengambangan koperasi sudah mulai dirintis sejak jaman penjajahan . Dan setelah Indonesia merdeka, pemerintah menaruh perhatian secara intens terhadap kehidupan koperasi, Banyak pembinaan, bimbingan dan permodalan diberikan kepada koperasi, Selain itu, juga banyak diterbitkan berbagai bentuk peraturan perundang-undangan untuk memberikan iklim yang kondusif terhadap perkembangan koperasi supaya koperasi bisa tumbuh subur dan berperan sebagai urat nadi dan soko guru, perekonomian basional. Namun, hasinya masih belum sesuai dengan yang diharapkan karena menghadapi banyak kendala di lapangan. Untuk mengembangkan koperasi tanah air, kiranya juga bermanfaat kalau kita meneropong kehidupan dan mengambil pelajaran dari koperasi di Indonesia yang jalan hidupnya sering mengalami hambatan. Kegagalan yang kita alami, bisa pula diatasi kalau ada "political will" yang meggerakkannya secara pantas, disamping peningkatan keterampilan teknis berkoperasi secara sepadan, sembari belajar dari kegagalan di masa lalu dan bercermin dari pengalaman negara lain. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 87-98 |
| Abstraksi Narasi | : | Modul pembantu pendidikan merupakan produk pedagogik yang siap pakai pada suatu sistem belajar berbantuan komputer untuk mencapai pedagogik tersebut secara persis, Keberhasilan mencapai sasaran belajar yang tepat, sangat bergantung pada strategi mengajar yang digunakan dalam modul pembantu pendidikan, Terdapat beberapa strategi mengajar yang digunakan dalam modul pembantu pendidikan Permasalahannya adalah strategi mengajar apa saja yang dapat digunakan dalam modul pembantu pendidikan agar pengalihan informasi dapat berjalan dengan baik dan dapat diterima oleh siswa? Dengan mengetahui strategi mengajar dalam modul pembantu pendidikan dapat disusun suatu modul pembantu pendidikan menggunakan strategi mengajar yang sesuai sehingga pengalihan informasi dapat berlangsung dengan baik dan diterima baik oleh siswa. Modul pembantu pendidikan yang disusun dengan baik dapat diguakan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi pendidikan. |
| Nama Pengarang | : | Margono, Muhammad Fauzan, Maratun Nafiah, Nurhadi, Nurfina Az. N, Suyanto, Suyanta, Pangat, Endang Rini Sukamti, Supardo, Susilo, Yusman Wiyatmo, Sutiyono, S. Wisni Septiarti |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 99-112 |
| Abstraksi Narasi | : | Keberhasilan suatu Proses Belajar Mengajar dipengaruhi banyak faktor yang secara umum dibedakan menjadi faktor endogen dan eksogen, Apabila kedua faktor tersebut yang dapat dideskripsikan menjadi lebih banyak lagi, saling mendukung, maka tujuan untuk mengadakan perubahan perilaku pada peserta didik (bersifat kognitif maupun psikomotori) sesuai dengan yang dikehendaki dapat tercapai. Dosen sebagai salah satu konponen penting dalam proses pembelajaran , tepat apabila senantiasa berupaya meningkatkan kualitas perkuliahannya, Banyak cara dapat dilakukan, Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan menerapkan stategi dan metode mengajar yang tepat. Dengan memahami pengertian, peranan serta macam strategi dan metode mengajar juga pengelompokan materi kuliah Sejarah Olahraga; tentunya pemilihan strategi dan metode mengajar dapat dilakukan dengan tepat. Model garis regresif; merupakan strategi yang lazim digunakan dalam mengajar Sejarah. Sedangkan metode yang sering digunakan dalam mengajar sejarah adalah metode reseptif, diskusi discovery/inquiry, dan pengajaran diluar kelas. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 13-23 |
| Abstraksi Narasi | : | Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu terlibat dengan teknologi dan lingkungannya. Di satu sisi teknologi akan membawa keuntungan bagi manusia karena akan memberikan kemudahan-kemudahan dalam mencapai tujuannya, Tetapi disisi yang lain, teknologi bisa membawa akibat yang kurang menguntungkan bagi kehidupan manusia karena bisa menimbulkan pencemaran lingkungan. Kemajuan teknologi yang tercerminkan dari pembangunan industri/ pabrik di segala bidang, pembangunan pembangkit tenaga, penggunaan berbagai alat transportasi dan komputer sangat membantu manusia dalam menyelesaikan tugasnya, Namun, akibat lain yang muncul, misalnya adanya pencemaran sumber-sumber kehidupan (air dan udara) dapat merugikan bagi kehidupan manusia dan ekologinya. Hal ini jelas merupakan permasalahan yang harus dicari pemecahannya, Usaha-usaha yang bisa dilakukan untuk menanggulangi atau paling tidak membatasi dampak negatif penggunaan teknologi tersebut, antara lain melalui (1) jalur legalitas, (2) jalur institusi, (3) jalur teknis/operasional, (4) pengontrolan penggunaan teknologi, dan (5) pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. |