| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 135-146 |
| Abstraksi Narasi | : | Salah satu kelemahan anak didik dalam belajar musik selama ini adalah kurangnya pengalaman mereka akan musik. Kelemahan ini banyak dipengaruhi oleh metode pengajaran guru dan kurangnya media yang diperlukan untuk memiliki pengelaman tersebut. Akibat dari pengajaran yang demikian, anak didik kurang musikal dan kurang bergairah dalam belajar musik. Sementara itu di masyarakat telah berkembang suatu sarana hiburan yang baru, yaitu karaoke. Penulis mencoba mengangkat hal tesebut untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran musik disekolah umum. Media karaoke dapat membantu mengatasi kelemahan di atas. yaitu dengan memanfaatkannya dalam kegiatan-kegiatan bernyanyi, mendengar, bergerak mengikuti musik. bermain dan membaca musik serta kreatifitas anak yang didukung oleh repertoar yang sesuai untuk mengalami musik secara langsung. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 61-70 |
| Abstraksi Narasi | : | Pada era globalisasi dan kemajuan teknologi informasi dewasa ini menuntut penyampaian informasi dalam waktu yang cepat pada jangkauan tempat yang tidak terbatas. Ini semua menuntut kualitas transmisi yang handal, untuk itu sejak tahun 1979 telah dikembangkan penggunaan serat optik menggantikan kawat transmisi. Digunakan serat optik karena serat optik mempunyai beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh kawat transmisi, yaitu antara lain bebas interferensi dari luar. bebas dari gangguan medan listrik, ringan, ukuran kecil, mampu nembawa data dalam jumlah yang besar, tidak dapat disadap oleh alat macam apa pun sehingga mampu menjamin kerahasiaan data, sejalan dengan fungsi telepon otomat yang dioperasikan komputer memungkinkan terwujudnya jaringan data yag sepenuhnya digital. Dalam komunikasi serat optik, informasi bentuk sinyak listrik sebelum dikirim diubah dahulu dalam bentuk sinyal cahaya dengan mempergunakan LED atau dioda LASER. Dengan dasar pemantulan sempurna, sinyal optik dipadukan hingga sampai pada penerima, dan pada penerima detektor optik akan mengubah sinyal optik menjasi siyal listrik kembali. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 21-32 |
| Abstraksi Narasi | : | Pertumbuhan penduduk akan membawa konsekuensi meningkatnya kebutuhan konsumsi sehari-hari dan penyediaan sarana dan prasarana, mulai dari penyediaan kebutuhan makanan, sarana pendidikan, kesehatan, pemukiman, sampai penyediaan lapangan pekerjaan. Peningkatan kebutuhan tersebut tentu membawa akibat langsung maupun tak langsung terhadap sektor lainnya. Dampak yang paling jelas adalah aksploitasi sumber daya alam yang ada. Sementara daya dukung sumber daya alam dan lingkungan terbatas potensinya, Sehingga sangat besarr pengaruhnya terhadap kondisi lingkungan secara global. Pengembangann sumber daya dan konservasi energi merupakan kegiatan yang secara tak langsung melestarikan lingkungan yang seimbang. Kita hidup dalam suatu dunia, jadi merupakan tugas kita semua untuk mengawetkan sumber daya alam dan menjaga lingkungan yang seimbang. Jangan pemborosan, dengan demikian akan membantu "sustainability". |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 83-93 |
| Abstraksi Narasi | : | Peranan kelompok elit dalam kehidupan politik sangat dominan. Dominasi mereka tidak terbatas dalam bentuk pemerintahan yang lain seperti dalam pemerintahan demokrasi misalnya, Karena dominasinya yang begitu besar, sampai-sapai ada seorang ilmuwan politik - Gaetano Mosca -- yang menyatakan bahwasanya kelompok elit ini telah mengarahkan kehidupan politik pada bentuk pemerintahan oligarkis. Pada saat yang bersamaan , dibandingkan dengan sejarah kehidupan pemerintah dalam Islam, gambaran elit politik seperti di atas juga tampak jelas. Hanya saja memang terdapat tarik menarik didamnya antara kemungkinan yang mengarah kepada pemerintahan oligarkis, disamping adanya tawaran betuk pemerintahan yang demokratis. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 47-59 |
| Abstraksi Narasi | : | Pada pintu air pembangkit listrik tenaga air umumnya dipasang penguat-penguat (girder). Tujuannya agar pintu air kuat dalam menahan tekanan air. Tekanan air yang diderita oleh pintu air cukup besar karena dipasang pada kedalaman 50 meter di bawah permukaan air. Permasalahan yang timbul adalah menentukan posisi atau letak girder pada pintu air. Secara intuisi pemasangann girder semakin ke bawah semakin rapat. Hal ini disebabkan karena semakin kebawah tekanan air semakin besar. sedangkan ukuran girder semuanya sama, Untuk menentukan posisi girder pada pintu air secara eksak diperlukan teori dan perhitungan. Untuk menentukan letak girder pada pintu air pembangkit tenaga listrik tenaga air dapat menggunakan dua macam cara. Cara yang pertama didasari oleh teori dalam mekanika terapan, Sedangkan cara yang kedua didasari oleh teori atau hukum pascal. Berdasarkan cara yang pertama permasalahan dapat diformulasikan dalam bentuk persamaan nonlinier simultan. Persamaan ini diselesaikan dengan cara berulang atau iterasi dari Newton. Sedangkan berdasarkan cara yang kedua , permasalahan dapat diformulasikan dalam bentuk rumus yang lebih sederhana. Dengan rumus tersebut permasalahan dapat diselesaikan dengan operasi aljabar biasa, Penyelesaian dengan cara yang pertama disebut Numerik dan dengan cara yang kedua disebut cara Analitik. Cara yang kedua ini digunakan untuk mengkaji hasil perhitungan dari cara yang pertama. Studi kasus diambil dalam menentukan posisi girder pada pintu air pusat Listrik Tenaga air (PLTA) Cirata Jabar. Pintu air menggunakan 9 buah girder. Lebar pintu air 6,7 meter, tinggi 8,37 meter, dipasang pada kedalaman 45,6 meter hingga 53,97 meter. Diperhitungkan tekanan air yang girdernya 348,98 ton. Formulasi persamaan nonlinier simultan melibatkan matriks berdimensi 7 x 7. Penyelesaiannya cukup sulit dan harus menggunakan komputer. NEWJEC (The Japan Engineering Consultant) dan H. Moerdianto telah menyelesaikan persamaan tersebut secara Numerik. Penyelesaiaan masalah dengan cara Analitik ternyata lebih singkat, mudah dan murah. Hasil yang diperoleh ternyata dari kedua cara tersebut ternyata tidak jauh berbeda. Ditinjau letak girder selisih rata-ratanya adalah 6,12 x 10 pangkat -6 meter, Ditinjau dari tekanan yang harus diderita selisih rata-ratanya adalah 9,8 x 10 pangkat -5. Dengankajian ini disarankan agar cara yang kedua digunakan untuk menentukan posisi girder pada pintu air dari PLTA yag akan dibangun. |
| Nama Pengarang | : | Mujinem, Pradoto, Ajat Sudrajat, Djoko Laras BT, Surjono, Herman Dwi, Suwarta Zebua, Mumpuniarti, Suyitno Al., Dylmoon Hidayat, IGP Suryadarma, Slamet Suyanto, B. Suhartini, Woerjati Soekarno |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 33-46 |
| Abstraksi Narasi | : | Dalam usaha menggali nilai-nilai, gagasan-gagasan vital maupun keyakinan suatu masyarakt, folkfor lisan (ungkapan tradisional) tidak mungkin diabaikan begitu saja. Melalui ungkapan tersebut orang dapat mengambil nilai-nilai pendidikan. Salah satu sifat orang Jawa dalam usaha mendidik atau menyampaikan gagasan-gagasannya kepada orang lain tidak "terus terang"melainkan menggunakan simbol atau lambang budaya. Salah satunya adalah menggunakan ungkapan tradisional. Dalam kehidupan orang Jawa ungkapan tradisional berfungsi sebagai sistem proyeksi, alat pengesahan pranatas dan lembaga kebudayaan, alat pendidikan, dan alat pengawas dan pemaksa agar norma-norma masyarakat selalu dipatuhi oleh anggota masyarakatnya. Secara umum ungkapan tradisional itu mengandung nasihat, harapan, sanksi, anjuran, teguran, dan kritik. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 1-12 |
| Abstraksi Narasi | : | Pada tahun 1994 nanti, pemerintah akan memberlakukan program wajib belajar 9 tahun, yaitu pendidikan dasar minimal yang harus dialami oleh setiap warga negara program pemerataan kesempatan belajar ini dimaksudkan agar setiap warga negara Indonesia menjadi anggota masyarakat yang tahu akan kewajiban dan haknya, memiliki ketrampilan untuk mengatasi kesulitan dan meningkatkan kualitas hidupnya. Program ini sangat esensial terutama bagi masyarakat tidak mampu yag sebagian besar tinggal dipedesaan karena anak-anak usia sekolah yang tidak memperoleh kesempatan menikmati pendidikan SD dan SLTP sebagian besar berasal dari masyarakat ini. Mengingat kondisi sosial ekonomi masyarakat pedesaan yang kurang begitu menguntungkan, yaitu seperti kemiskinan, rendahnya kesadaran tentang pendidikan, kondisi lingkungan dan lain-lainnya, maka pelaksanaan wajib belajar 9 tahun hendaknya direncanakan dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi tersebut sehingga program wajib belajar dapat terlaksana dengan baik dan memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Disamping itu, sistem pendidikan (wajar 9 tahun) yang hendak diterapkan dendaknya sejalan dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat karena pendidikan bagi masyarakat desa harus menyajikan model yang hidup, berfaedah, diperlukan dan cocok dengan situasi kebudayaan pedesaan setempat, baik lokal maupun regional. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 13-21 |
| Abstraksi Narasi | : | Hakikat pembangunan nasional bangsa Indonesia adalah untuk mengejar pencapaian kualitas hidup yang tinggi, mencakup kualitas lingkungan tempat bermukim maupun kualitas sumber daya manusia diarahkan pada peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengelola sumber daya alam tanpa meninggalkan aspek keserasian, keselarasan, dan keseimbangan ekosistem. Untuk mendapatkan sumber daya manusia demikian, yaitu yang mampu berinteraksi positif dengan lingkungannya, dapat ditempuh melalui jalur-jalur pendidikan. Terdapat dua jalur pendidikan yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan tersebut, yaitu jalur pendidikan yang luar sekolah (nonformal) dan jalur pendidikan persekolah (formal). |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 161-177 |
| Abstraksi Narasi | : | Jumlah penduduk berkelamin wanita saat ini sudah tercatat melebihi pria. Namun, keterlibatan mereka dalam pembangunan ekonomi masih tetap lebih rendah dibandingkan dengan pria. Mengingat bahwa desakan kebutuhan pembangunan, tampaknya peran wanita dalam pembangunan ekonomi terasa perlu untuk ditingkatkan. Peningkatan peran tenaga kerja wanita di Indonesia baik dalam percaturan Produk Nasional Bruto (PDB) maupun tingkat partisipasi mereka dalam pembangunan ekonomi itu bertambah; sehingga diharapkan pada tahun 1998 kelak tingkat partisipasi angkatan kerja wanita ini mencapai 50,9% sesuai dengan proporsi jumlah wanita terhadap pria yang ada selama ini. Ada beberapa kendala yan menghambat upaya untuk mencapai hal tersebut sebab adanya perbedaan perlakuan terutama di sektor swasta terhadap tenaga kerja wanita dan pria. Disamping itu, ada pula kendala lain yang dapat dialokasikannya untuk bekerja diluar rumah itu "relatif" rendah. Perihal jam kerja bagi angkatan kerja wanita kerja ini memang agak merepotkan. Sesuai dengan kodratnya sebagai wanita, maka ia harus melahirkan anak dan bertugas sebagai ibu rumah tangga. Oleh karenanya, ada sejumlah angkatan kerja wanita yang memilih jam kerja pendek selama mereka bekerja di luar rumah karena pertimbangan-pertimbangan di atas. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 75-87 |
| Abstraksi Narasi | : | Kalimat ambiguitas adalah kalimat yang memiliki makna ganda, mempunyai dua pengertian, dan bersifat taksa (moeliono, 1989:27). Kalimat ambiguitas itu memiliki fenomena satu struktur lahir, tetapi pada hakikatnya mamiliki dua atau lebih struktur batin, Fenomena kalimat ambiguitas tersebut baru dapat dijelaskan setelah muncul Tata Bahasa Generatif Transformasi yang dipelopori oleh Chomsky (1957). Salah satu perkembangan lebih lanjut dari Tata Bahasa Transformasi adalah Semantik Generatif. Semantik Generatif muncul untuk meyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terdapat pada Teori Standar dan Teori Standar yang diperluas yang ditulis Chomsky. Sematik Generatif mendeskripsikan suatu kalimat dengan meninjau struktur batin yang lebih dalam yang disebut struktur logika yang mengandung representatif semantik. Struktur logika yang menunjukkan tentang isi yang akan dikatakan, sedangkan struktur lahir menunjukkan bagaimana isi itu dinyatakan, Kalimat yang berbeda memilik struktur logika yang berbeda pula. Dengan demikian, kalimat ambiguitas yang bermakna ganda memiliki struktur logika yang ganda pula, Jumlah struktur logika dalam kalimat ambiguitas tergantung pada jumlah kegandaan makna yang dikandungnya, Penguraian struktur logika kalimat ambiguitas menggunakan pemarkah frasa ada struktur batin. |