Pencarian Artikel Jurnal & Majalah

Menampilkan keseluruhan arsip dokumen (Halaman 33222 dari 34189, Total: 341888 data)

Kedudukan dan Fungsi Tembang dalam Sebuah Garapan Tari

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 117-128
Abstraksi Narasi : Tembang sebagai warisan bangsa, dalam perkembangannya telah menempuh perjalanan sejarah yang cukup panjang. Bahkan dalam kehidupan masyarakat, peranan yang penting antara lain sebagai hiburan dan sebagai media pendidikan. Sebagai hiburan biasanya seni tembang ditampilkan dalam acara Macapatan, Klenengan (Uyon-uyon), Iringan Wayang Kulit, Wayang Wong, dan sebagainya. Sebagai media pendidikan, seni tembang dapat dijumpai dalam naskah-naskah bahasa sastra Jawa, misalnya dalam serat Wedhatama, Serat Centhini, dan sebagainya. Dalam kaitannya dengan garapan dramataru, tembang mempunyai kedudukan dan fungsi yang penting. Fungsi tersebut dapat bersifat mutlak dan dapat juga sebagai perlengkapan. Dikatakan mutlak apabila kehadiran tembang tersebut dalam drama tari sebagai pendukung atau pemberi suasana dan memperjelas cerita bila dilihat dari isi kalimat (syairnya). Kedudukan tembang dapat dikatakan sebagai pelengkap apabila kehadiran tembang tersebut tidak mempengaruhi garapan dari (dramatari), tetapi hanya sebagai pendamping musik (gamelan) dalam mengiringi garapan tari. Karena tembang mempunyai peranan yang penting dalam garapan tari, penata tari (koreografer) hendaknya memahami dan mengetahui iringan tari, khususnya tembang sehingga maksud garapan akan mudah tercapai terutama bagi garapan tari yang berpijak pada tari tradisi.

Dasar-dasar Matematika dari Peluang Genotif dan Perbandingan Fenotif

Nama Pengarang : Atmini Dhoruri, Endang Listyani, Woro Sri Soeprihati, Wawan S. Suherman, P. Sarjiman, Sodiq A. Kuntoro, Khaerudin Kurniawan, Jaedun, Amat, Dylmoon Hidayat, dkk, Suyanto, Edy Supriyadi, Zamtinah, Aliyah Rasyid, Sukardi
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 31-42
Abstraksi Narasi : Gen dapat dianggap sebagai faktor mendasar yang menentukan keturunan. Secara formal matematis gen ditetapkan sebagai unsur yang tak terdefinisikan. Dalam suatu chromosom yang diploid tiap gen terdiri dari sepasang alela m dan f dimana m adalah alela yang diwarisi dari induk jantan dan f adalah alela yang diwarisi dari induk betina . Misalkan suatu gen terdiri dari alela A dan a, maka gen tersebut dapat berbentuk AA, Aa atau aa. Jika U =[AA,Aa,aa] didefinisikan bahwa reproduksi adalah fungsi r : U x U -----> R pangkat 3, Jadi r(u1, u2) = (r1(u1, u2), r2(u1, u2), r3(u1, u2)) dengan r1, r2, r3 berturut-turut adalah peluang dari keturunan bergenotif AA, Aa, dan aa. Misalkan kedua induk masing-masing bergenotif AA dan aa maka diperoleh r(AA, Aa)=(1/2, 1/2, 0). Dalam perbandingan fenotif untuk sistem genetik dengan 1, 2, 3,..., n gen menunjukkan bahwa bilangan dalam perbandingan dari setiap kelas fenotif adalah 3 pangkat n-x, dimana n= banyaknya gen dalam sistem dan x = banyaknya sifat resesif dalam kelas fenotif. Selanjutnya, diperoleh bahwa jumlah perbandingan fenotif untuk sebarang sistem gen adalah 4 pangkat n, dimana n adalah banyaknya gen dalam sistem. Kelas-kelas fenotif jika dikelompokkan menunjukkan bahwa koefisien grupnya adalah merupakan bilangan-bilangan dalam Segitiga Pascal dan jumlah dari perbandingan fenotif-nya merupakan keadaan khusus dari perluasan binomial (p+q) pangkat n dimana p=3 dan q=1.

Zat Warna Berbahaya pada Produk Makanan dan Minuman

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 103-113
Abstraksi Narasi : Warna telah menjadi suatu bagian yang berpengaruh dalam produk makanan dan minuman. Warna pada makanan dan minuman sangat mempengaruhi selera seseorang, dan mempunyai peran penting karena berpengaruh terhadap penerimaan oleh konsumen. Konsumen akan cenderung menerima makanan olahan yang mempunyai warna sesuai dengan warna alami, maka pihak produsen berusaha manarik selera konsumen dengan pemberian warna pada makanan dan minuman olahan. Dengan meningkatnya kebutuhan akan berbagai sediaan makanan dan minuman, maka konsumsi zat warna juga meningkat baik dalam jumlah maupun jenisnya. Disamping, zat warna alami telah dapat disintesis zat warna buatan. Munculnya zat warna sintetis yang digunakan pada produk makanan dan minuman ternyata menimbulkan permasalahan tersendiri, yaitu menimbulkan gangguan kesulitan kesehatan pada konsumen.

Teori Medan Makna dan Kebermaknaannya dalam Pengajaran Kosakata pada Siswa Kelas I Sekolah Dasar

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 71-82
Abstraksi Narasi : Pengajaran kosa kata sebagai salah satu aspek dalam pengajaran bahasa Indonesia, selama ini kurang mendapatkan perhatian. Fenomena ini tampak dari kurangnya buku-buku yang membicarakan pengajaran kosakata termasuk strategi pengajarannya. Dalam upaya mengatasi maslah itu, penulis mencoba memeperkenalkan teori medan makna dan menguraikannya pada siswa kelas 1 sekolah dasar. Pendekatan medan makna memandang bahasa sebagai satu keseluruhan yang tertata dan dipenggal atas banguan yang saling berhubungan. Pada dasarnya, ada tiga langkah yang perlu diperhatikan untuk menerapkan teori medan makna pada pengajaran kosakata, yaitu (1) mengasosialisasikan pokok bahasan dengan beberapa kata yang menjadi cakupannya atau yang berhubungan secara maknawi melalui berbagai kegiatan atau permainan yang mengasyikan, (2) menganalisis makna dari kata-kata itu untuk mencermati perbedannya, (3) menggunkan kata-kata itu dalam kegiatan berkomunikasi. Selanjutnya, secara teoritis dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan teori medan makna akan apat diperoleh banyak keuntungan, misalnya, (1) memperluas wawasan siswa tentang ruang lingkup suatu kata, (2) meningkatkan pemahaman terhadap makna suatu kata, (3) meningkatkan kecermatan dalam pemilihan suatu kata, (4) meningkatkan kemampuan pengasosiasian suatu kata, (5) meningkatkan daya kritis dan penalaran, (6) menjadikan pengajaran kosakata lebih komunikatif dan bermakna.

Posisi Media Instruksional Sebagai Komponen Sistem Pengajaran Sekolah

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 115-124
Abstraksi Narasi : Pemanfaatan media instruksioanal dalam proses belajar-mengajar telah mengalami perkembangan cukup berarti, dari hanya sekedar sebagai alat peraga hingga pembawa dan penyebar informasi, serta pada fase perkembangan terakhir menjadi variabel pemicu meningkatkan motivasi belajar. Peranannya sebagai pembentuk aspek kognitif, efektif dan psikomotorik telah banyak terbukti melalui penelitian empirik. Namun demikian, hingga saat ini media instruksional masih belum ditempatkan sebagai salah satu komponen sistem pengajaran sekolah sehingga pemanfaatannya belum secara optimal dalam aktivitas belajar-mengajar yang dewasa ini sering disebut-sebut sebagai salah satu penyebab utama rendahnya kreativitas siswa, boleh jadi salah satu faktor penyebabnya adalah belum dimanfaatkannya media instruksional tersebut secara optimal. Oleh karena itu, menempatkan posisi media instruksional sebagai komponen sistem pengajaran sekolah diharapkan merupakan tawaran alternatif permasalahan tersebut. Tulisan ini berusaha memberikan pertanggungjawaban secara logis, mengapa media instruksional patut dipertimbangkan untuk menjadi salah satu komponen sistem pengajaran sekolah dalam upaya optimalisasi pencapaian tujuan belajar.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Jepang

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 33-46
Abstraksi Narasi : Dewasa ini Jepang semakin canggih dalam pengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Jepang juga sukses sebagai suatu negara industri. Keberhasilanya yang mengagumkan ini mampu menarik perhatian beberapa negara lain untuk mengetahui rahasia dibalik kemajuan IPTEK dan proses modernisasinya. Uraian ini bertujuan memberikan gambaran sekilas tentang perkembangan IPTEK di Jepang yang telah penulis dapat selama mengikuti program International Association of Traffic and Safety Sciences (IATSS) Forum ke-16 yang diselenggarakan di Suzuka, Mie, Jepang. Hal-hal yang dipaparkan meliputi: pendahuluan, sejarah modernisasi Jepang, perkembangan pendidikan, faktor-faktor pendukung, kreasi dan pengembangan dasar-dasar untuk industrialisasi, badan-badan penelitian IPTEK, rencana-rencana di masa depan dan kontribusi Jepang (khususnya bidang teknik dan ekonomi) dalam menghadapi era globalisasi emisi gas rumah kaca, perlindungan lapisan ozon, pusat teknologi lingkungan bumi, pelestarian hutan tropis, bantuan lingkungan kepada negara-negara yang sedang berkembang serta kesimpulan.

Peranan Riset di Perguruan TInggi dalam Menyongsong Era Tinggal Landas

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 1-20
Abstraksi Narasi : -

Peranan Eter dan Morfin dalam Anestasi

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 61-70
Abstraksi Narasi : Eter dan morfin merupakan senyawa organik yang mempunyai titik didih rendah sehingga mudah menguap dan mempunyai daya larut yang lebih baik terhadap jaringan sel tubuh. Kedua senyawa ini digunakan dalam proses anestesi yang dimaksudkan untuk patirasa pasien yang akan mejalani pembedahan, anestesi ini dapat dilakukan secara lokal maupun keseluruhan, tergantung pada pembedahan yang akan dilakukan. Kedua senyawa tersebut mempunyai kelemahan terhadap pasien yang dianestesi, eter menimbulkan kecanduan, oleh karena itu, metode anestesi selalu berkembang untuk mencari efek samping sekecil mungkin yang ditimbulkan oleh penggunaan senyawa kimia tersebut.

Pembetulan Kesalahan dalam Pengajaran Bahasa Kedua

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 125-136
Abstraksi Narasi : Kaum behavioris mamandang kesalahan berbahasa merupakan suatu cela yang harus dihindari dan segera dibetulkan bila kesalahan itu terjadi. Kaum Nativis sebaliknya, memandang kesalahan berbahasa merupakan hal wajar terjadi dan merupakan bukti adanya proses belajar dalam diri pembelajar. Pembetulan kesalahan dalam pembelajaran bahasa kedua (B2) juga masih sangat bervariasi. Hal ini disebabkan dasar teori dan cara pandang terhadap adanya kesalahan berbahasa tiap-tiap aliran (kaum nativisme dan behaviorarisme) berbeda sehingga timbul isu apakah pembetulan kesalahan benar-benar membantu pemerolehan B2. Makalah ini berusaha menjawab isu tersebut. Pembetulan kesalahan akan dapat membantu perolehan B2 bila (a) dilakukan secara selektif, (b) tidak perlu ajeg dan sistematis, (c) interaksi merupakan aktivitas instruksional yang bersifat pembelajaran; (d) terdapat variasi penggunaan teknik langsung dan tidak langsung; (e) terdapat variasi giliran subjek pembetulan kesalahan ;(f) nomor a-e mempertimbangkan waktu yang tepat dan kemampuan pembelajar.

Pakeliran Bentuk Baru Kehadiran dan Perkembangan Kehidupannya

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 149-157
Abstraksi Narasi : Berbagai kesenian yang dianggap sebagai bentuk baru tidak jarang hanya merupakan pengembangan dari yang sudah ada. Pada dasarnya, kesenian bentuk apa pun termasuk yang sudah mapan dan sudah diakui eksistensinya oleh masyarakat, tidak mucul sekaligus sempurna, melainkan mengalami berbagai pengembangan sehingga suatu saat hadir menjadi bentuk baru. Kesenian bentuk baru tersebut, pada awal kehadirannya biasa mendapatkan raksi pro dan kontra dari masyarakat. Landasan umum diatas akan digunakan untuk menyoroti kehadiran pakeliran padat dan perkembangan kehidupan di masyarakat sekarang ini. Kesimpulan yang diperoleh, pakeliran padat adalah bentuk pengembangan pakeliran semalam, hingga kehadirannya tidak perlu ditolak. Disisi lain, perkembangan pakeliran padat ditengah-tengah masyarakat semakin tumbuh subur karena mampu menyesuikan diri dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat sekarang.
← Kembali ke Halaman Utama