| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 13-24 |
| Abstraksi Narasi | : | Nilai merupakan salah satu perwujudan kebudayaan yang sifatnya abstrak. Sebagai sesuatu yang dihargai dan di hormati karena kebaikan dan keluhurannya, nilai mempunyai kedudukan yang sentral dalam kehidupan manusia. Sekolah sebagai wiyatamandala, berfungsi sebagai masyarakat belajar. Sekolah melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagai pusat pengembangan logika, etika, estetika dan praktika . Hal ini sesuai dengan pengertian pendidikan yang bukan hanya pengajaran dengan menyampaikan pengetahuan saja, melainkan meliputi juga transformasi nilai-nilai. Tulisan ini berusaha menjawab permasalahan, bagaimana seyogyanya nilai itu kita tempatkan dalam kurikulum, dan bagaimana kita melakukan pendidikna nilai pada anak seusia Sekolah Dasar. Ada berbagai tipe dasar kurikulum yang dipakai di sekolah, Richard L. Curwin dan Geri Curwin mengemukakan ada tiga tipe dasar kurikulum, yaitu cognitive curriculum, afective curriculum, danconfluent curriculum atau humanistic curriculum. Melalui kurikulum humanistik atau integralistik, nilai dapat ditempatkan secara integral dalam kurikulum. Setiap mata pelajaran atau bidang studi dapat dipakai sebagai wahana pendidikan nilai. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan dalam pendidikan nilai. Cara-cara itu adalah cara tradisional, cara bebas, cara pemberian contoh dan cara klarifikasi nilai. Cara yang dipandang paling tepat, yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak usia Sekolah Dasar dan sesuai dengan prinsip dasar pendidikan nilai adalah cara klarifikasi nilai. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 93-104 |
| Abstraksi Narasi | : | Masianisme, yang di kalangan masyarakat Jawa dikenal dengan "ratu adil", telah banyak mewarnai gerakan sosio politik Jawa pada abad 19 dan awal abad 20. Hal ini muncul karena ketidakpuasan masyarakat terhadap situasi yang ada -- ekonomi, sosial dan politik. Dari perkembangan sejarah gerakan ini, ternyata fisik semacam itu belum cukup mampu untuk menggerakkan "gerakan mesianis` Faktor yang lebih kuat , yang mampu mewujudkan keberadaan gerakan ini ternyata adalah faktor Ideologis. Oleh karena itu, adalah wajar apabila kemudian gerakan-gerakan ini diwarnai oleh corak religius. Dan mengenai gerakan masianisme di Jawa, gerakan ini lebih banyak memperlihatkan campuran antara kultur Islam, Hindu dan Jawa Asli. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 25-34 |
| Abstraksi Narasi | : | Mengajar sudah jelas menjadi tugas pengajar atau guru, namun apakah guru benar-benar mengerti dan menghayati tugas mengajarnya, pastilah disadari merupakan sebuah pertanyaan yang rawan jawaban. Tulisan ini memandang perlu adanya telaah hakikat mengajar dan pengajaran melalui amatan khusus pada hakikat membelajaran siswa beserta contoh-contoh penggarapannya dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas. Hakikat membelajarkan siswa dalam tulisan ini mengacu ada kaitan antara kerja sadar otak siswa dan pengajaran yang diberikan gurunya. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 83-92 |
| Abstraksi Narasi | : | Proses pencarian bahan yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan sudah dilakukan oleh manusia sejak zaman batu. Setiap dijumpai kelemahan-kelemahan pada suatu bahan, manusia akan mencari alternatif-alternatif baru yang lebih memenuhi tuntutan pekerjaan, Dengan demikian , dapat dibayangkan bahwa proses pencarian bahan ini tidak akan pernah selesai sejalan dengan perkembangan peradaban manusia terutama dibidang teknologi. Bahan komposit untuk masa sekarang dan mendatang menjadi andalan manusia karena sifat-sifatnya yang dapat ditingkatkan sesuai dengan keinginan manusia sehingga akan mampu menjawab tantangan kebutuhan bahan, Bahan komposit secara garis besar dapat digolongkan kedalam tiga bagian, yaitu komposit fiber, komposit lapis, dan komposit partikel. Penelitian-penelitian dan pengujian bahan komposit selalu dilakukan terutama ditekankan pada sifat-sifatnya, yang dapat berupa kekuatan, kekakuan, tipis dan rungan, tahan terhadap suhu tinggi, dan sebagainya. Perkembangan yang paling pesat di dalam penggunaan bahan ini adalah pada teknologi kedirgantaraan karena keunggulan sifat-sifatnya yang dapat memenuhi segala tuntutan pekerjaan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 119-128 |
| Abstraksi Narasi | : | Telah dipelajari penyajian konsep valensi dalam beberapa buku teks Ilmu Kimia maupun buku-buku ilmu kimia SMTA yang beredar pada saat ini. Buku teks ilmu kimia umumnya tidak lagi memperkenalkan konsep valensi. Akan tetapi, di dalam buku-buku ilmu kimia SMTA yang beredar saat ini, dijumpai adanya kerancuan dan ketidakajegan dalam penggunaan konsep tersebut. Ditemukan pula penggunaan beberapa istilah yang sangat dekat dengan pengertian valensi, yaitu: daya ikat; muatan; tingkat valensi; nilai atom; martabat atom; valensi negatif dan valensi positif serta bilangan oksidasi. Telah ditelaah perkembangan konsep valensi dari waktu ke waktu, meliputi konsep valensi berdasarkan patokan atom; hidrogen; konsep valensi dihubungkan dengan muatan formal; elektrovalensi dan kovalensi serta konsep yang erat kaitannya dengan konsep valensi, yaitu konsep bilangan oksidasi. Dalam makalah ini dicoba untuk memilih konsep valensi atau konsep yang erat kaitannya dengan hal tersebut untuk digunakan dalam pengajaran ilmu kimia pada umumnya dan pengajaran ilmu kimia di SMTA pada khususnya. Dari kajian konsep-konsep tersebut, dipilih bilangan oksidasi sebagai pengganti konsep valensi. Hal ini berakibat perlu dirubahnya urutan penyajian ilmu kimia di SMTA, yaitu diajarkannya pengertian konsep elektronegativitas dan konsep bilangan oksidasi pada subpokok bahasan ikatan kimia pada tahap awal. |
| Nama Pengarang | : | Suyanto, I Made Sukarna, Slamet Karyono, Gunawan, Ajat Sudrajat, T. Sulistyono, Hesti Mulyani, M. Subiyati, Pardjono, Margono, Haryadi, Karim Theresih |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 1-12 |
| Abstraksi Narasi | : | Proses belajar-mengajar di kelas secara formal telah lama mengabdikan dirinya pada aspek kognitif . Sebaliknya, aspek afektif jarang disentuh dan dielaborasikan untuk kepentingan proses itu. Akibatnya, banyak peserta didik yang tahu banyak informasi dan pengetahuan tertentu, tetapi mereka ridak bisa berperilaku dan atau berunjuk kerja seperti apa yang seharusnya mereka ketahui. Bahkan tidak itu saja akibatnya. Tidak jarang kita jumpai peserta didik yang memiliki etos belajar yang begitu rendah sebagai akibat belum teraplikasikannya sistem nilai (values system) yang mereka miliki secara optimal dalam proses belajar-mengajar. Untuk menjawab tantangan tersebut pendidik perlu menggarap aspek afektif dalam kegiatan belajar mengajar. Banyak cara untuk melakukan hal tersebut. Dalam tulisan ini elaborasi aspek afektif dilakukan dengan pendekatan values clarification (klarifikasi bilai) yang bersumber pada ajaran agama, pendekatan psikologis, dan juga menggunakan pendekatan feedback system (sistem umpan balik). |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 37-56 |
| Abstraksi Narasi | : | Beberapa `issue` atau masalah yang menyangkut mutu pendidikan IPA dewasa ini, antara lain: seleksi calon guru IPA; pembentukan guru IPA ditinjau dari kompetensi personal, profesional dan sosial; peninjauan Kurikiulum IKIP/FKIP Unirvesitas dari segi relevansi dan signifikan; keterpaduan antara departemen-departemen dan instansi-instansi daerah, seperti IKIP, FKIP Universitas, Kanwil Depdikbud, yang berwenang dalam penempatan guru dan pembinaan karier guru serta kesejahteraan sosial ekonomi; kerjasama dengan IKIP/FKIP untuk Program S-2 dan S-3 Pendidikan; dan kesenjangan antara derasnya teknologi baru masuk ke Indonesia yang memerlukan pengetahuan dan kemampuan untuk mengajarkannya dan menyerapnya. Dengan mengidentifikasikan beberapa isyu tentang mutu pendidikan IPA tersebut, dapat dibahas permasalahannya dan dicari pemecahannya yang tepat, signifikan, dan relevan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan IPA. Untuk dapat memberikan saran tentang langkah dan tindakan apa yang bisa dilaksanakan dalam mengatasi masalah yang sedang dihadapi IKIP/FKIP, maka isyu-isyu bahan kebijaksanaan pendidikan tinggi di Indonesia untuk dasawarsa 1985-1995, yaitu: yang berklaitan dengan jumlah (quantity), mutu (quality), equity, relevansi, produktivitas, efisiensi, dan dinamika sistem, atau orientasi ke masa depan. Prioritas rekomendasi ditetapkan dengan kriteria berdasarkan kegunaan/manfaat (utility), urgensi, kebutuhan akan sumber daya, efek dislokasi, dan sifat umum (generality). Sebagai hasil pembahasan isyu atau masalah tersebut diatas, beberapa rekomendasi penting disajikan dalam tulisan ini. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 67-72 |
| Abstraksi Narasi | : | Disadari bahwa ketika pengajar berdiri di depan kelas, ia telah memerankan dirinya sendiri sebagai aktor. Siswa bisa dianggap sebagai publik atau penonton. Dan, kelas dianggap sebagai panggung pertunjukkan. Dengan demikian, pengajar mau tidak mau harus berakting ketika ia menyampaikan materi ajarannya. Untuk itulah, pengajar nampaknya memerlukan bekal pengetahuan prinsip dasar dramaturgi. Pengetahuan akan prinsip dasar dramaturgi ini akan menyebabkan pengajar mampu berakting dan menempatkan dirinya dengan tepat dan benar di depan kelas. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 1-11 |
| Abstraksi Narasi | : | Perkembangan pembangunan di Indonesia telah menunjukkan hasil yang nyata, dengan dimulainya industri-industri menghasilkan barang-barang ekspor. Teknologi juga telah berkembang pesat di segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Kemajuan ini akan berdampak luas pada masalah ketenagakerjaan. Pendidikan kejuruan sebagai lembaga pendidikan formal belum sepenuhnya dapat menyiapkan tenaga kerja siap pakai bagi industri dan bisnis. Pendidikan non formal yang bersifat fleksibel dan praktis, pragmatis dipilih sebagai alternatif pemecahan masalah ketenagakerjaan ini, yaitu industri dan pusdiklatnya, BLK dan kursus-kursus vakasional yang ada di masyarakat, untuk di optimasikan perannya dalam Repelita V dan VI nanti. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 73-85 |
| Abstraksi Narasi | : | Pertandingan olahraga di lingkungan Sekolah dan Perguruan Tinggi merupakan kegiatan rutin yang mempunyai nilai positif. Baik itu pertandingan olahraga antar-kelas (class-meeting), antar-sekolah (school-meeting), maupun pertandingan kejuaraan antar-pelajar dan mahasiswa secara umum yang diselenggarakan oleh POPSI dan BAPOMI atau instansi lain. Sayang bahwa pertandingan - pertandingan tersebut seringkali diatur dengan sistem yang beraneka-ragam, yang kadang-kadang menyalahi ketentuan pertandingan yang berlaku secara internasional. Akibatnya adalah timbulnya rasa tidak puas, protes-protes, kejengkelan dan bahkan perkelahian. Hasilnya menjadi tidak objektif, tidak memenuhi tuntutan bahwa "the winner atau the champion is the best player atau the best team`, sebagai selayaknya hasil dari pertandingan yang diatur secara benar. Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai sistem pertandingan yang banyak digunakan di sekolah, perguruan tinggi dan masyarakat umum, khususnya sistem untuk pertandingan cabang olahraga permainan. Sekaligus dengan harapan untuk dapat dipahami dan dilaksanakan dengan benar dan seragam. |