| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 5-17 |
| Abstraksi Narasi | : | Seni dan ilmu- dua diantara cabang-cabang pengetahuan- mempunyai landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Seni dan ilmu timbul karena kebutuhan manusia. Peradaban mendatang akan lebih diwarnai oleh ilmu dan teknologi, sehingga manusia akan semakin merasakan kebutuhan akan keindahan. Keindahan itu akan diperolehnya melalui seni. Dala perkembangannya, seni dan ilmu akan saling berpengaruh. Karya-karya seni memanfaatkan kemajuan teknologi/penemuan-penemuan baru dalam keilmuan, ilmu dengan segala karakteristiknya memberikan sumbangan positif bagi pekembangan seni. Karya-karya seni secara tidak langsung memperkenalkan hasil teknologi kepada masyarakat luas. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 68-77 |
| Abstraksi Narasi | : | Pada umumnya bayangan atau gambaran orang mengenai pondok pesantren adalah sebagai suatu kompleks yang terdiri dari sekumpulan rumah-rumah kecil yang disebut pondok yang terletak di sekitar sebuah mesjid. Mesjid dan serambinya merupakan tempat para santri belajar mengaji dan ilmu agama lainnya, sedangkan pondok merupakan tanpat para santri tinggal dan menginap selama mengikuti pelajaran, Para santri dididik oleh seorang Kiai yang bertindak sekaligus sebagai pimpinan tunggal pesantren dan merupakan figur ulama yang bukan akademisi. Para santri mempelajari "Kitab-kitab Kuning" dengan cara sorogan dan atau bandungan dalam bimbingan Kiai. Gambaran serupa itu tidak sepenuhnya berlaku di Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Buntalan, Klaten. Ia mempunyai kekhasan sendiri, dibandingkan pesantren-pesantren lainnya, baik dari sudut tempat belajar, bahan pelajaran, proses belajar-mengajar, karakteristik santrinya, maupun figur Kiainya sendiri. Bahkan dari pesantren kategori Modern lainnya pun, pondok pesantren ini mempunyai karakteristik berbeda. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 18-33 |
| Abstraksi Narasi | : | Besarnya angkatan kerja dan terbatasnya daya tampung sekolah formal menempatkan pendidikan non-formal sebagai alternatif yang banyak memberi harapan. Kebijakan pendidikan non-formal, terutama program yang memberikan latihan kerja akan menolong para angkatan kerja yang jumlahnya sementara ini masih membengkak meski jika dilihat dari persentasenya telah mulai menurun. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 41-55 |
| Abstraksi Narasi | : | Arus perjalanan manusia antar ruang menjadi semakin meningkat jumlahnya sejak abad ke-19. Hal ini erat hubungannya dengan perkembangan teknologi modern. Dari perjalanan manusia yang beragam tujuannya itu satu diantaranya adalah pariwisata. Mobilitas semacam ini jelas mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Objek pariwisata dapat berupa bentang alam seperti pegunungan yang indah, laut dan lain-lain, bentang budi daya seperti seperti hutan wisata, bendungan dan lain-lain. Aspek budaya misalnya adat dan upacara sakral, dapat menjadi daya tarik wisatawan. Potensi objek wisata tersebut masih perlu dikembangkan, dan terkait dengan kepentingan tersebut adalah pengelola pariwisata yang meliputi pengelola fasilitas dan jasa, masyarakat setempat dan Pemda. Pengembangan kepariwisataan di Indonesia, apabila dibandingkan dengan apa yang telah dicapai oleh sejumlah negara Asia yang lain masih perlu mendapatkan penanganan yang serius, demi peningkatan devisa yang saat ini amat diperlukan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 56-67 |
| Abstraksi Narasi | : | Suatu kenyataan, bahwa masih ada pegawai yang datang terlambat di tempat kerja, pulang belum jam kantor, sering meninggalkan tempat yang tidak jelas tujuannya, banyak waktu yang tersita untuk membaca surat kabar, dan kurang mentaati peraturan lembaga, merupakan bukti belum adanya rasa disiplin pegawai. Menumbuhkan rasa disiplin pada setiap pegawai adalah penting, sebab dengan menumbuhkan rasa disiplin pegawai, berarti memberi bantuan kepada pegawai itu untukn mengambangkan sikap yang tidak baik terhadap tugas dan kewajibannya. Disiplin mempunyai hubungan yang erat dengan moral atau semangat kerja pegawai, dalam arti apabila disiplin tinggi, semangat kerjanya pun tinggi, dan sebaliknya apabila disiplin rendah, semangat kerjanya pun biasanya rendah. Timbulnya rasa disiplin tergantung pada pimpinan. Oleh karena itu, peranan pemimpin dalam menumbuhkan rasa disiplin pegawai tidak dapat dielakkan lagi. Pemimpin memegang peranan yang sangat penting. Pemimpin yang disiplin tentu akan diikuti oleh bawahannya atau dengan kata lain, tanpa dipaksa pegawai itu akan self-discipline atau disiplin dengan sendirinya. Bagaimana menciptakan iklim yang dapat menumbuhkan rasa disiplin pegawai, akan dikemukakan dalam uraian di bawah ini. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 90-102 |
| Abstraksi Narasi | : | Setiap bangsa mempunyai tujuan nasional. Dalam proses mencapai tujuan nasionalnya bangsa tersebut menghadapi hakekat ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dalam segala bentuk dan manifestasinya baik secara langsung maupun tiadk langsung, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar. Agar dapat mengatasi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan tersebut, suatu bangsa mempunyai ketahanan Nasional yang kuat. Pembinaan ketahanan Nasional suatu bangsa mempunyai dua sasaran, yang meningkatkan keuletan dan ketangguhan di satu pihak, sedang di lain fihak membina hakekat ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan. Ketahanan nasional meliputi segala aspe kehidupan nasional suatu bangsa, antara lain aspek Sosial Budaya, Pembina dan Peningkatan Ketahanan Nasional dalam aspek Sosial-Budaya antara lain dapat menempuh jalur mahasiswa, sebagai generasi muda terpilih yang mempunyai ciri khas yang dominan dan menonjolkan dalam berperan serta dalam pembagunan nasional untuk mencapai Tujuan Nasional. Pembinaan tersebut lewat jalur formal dan informal dengan memberikan pengarahan yang tepat dan terus menerus. |
| Nama Pengarang | : | Djohar, Wardji Reksohutomo, Ngadiran, Soemantri Wardoyo, A. Daliman, Sukirin, Sumaryadi, FX. Sugiyanto |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 78-89 |
| Abstraksi Narasi | : | Kelakuan bertelur penyu hijau yang disajikan merupakan cuplikan data observasi lapangan di pantai Sukamade (2, 1979; 3, 1979), dimaksudkan sebagi model pemanfaatan sumber belajar untuk kegiatan belajar kelakuan hewan. Beberapa kejadian yang dapat diungkapkan dari hasil observasi tersebut, adalah penyu hidup dilaut dan bertelur di darat; lintasan jalan penyu ke darat saat bertelur berbeda dengan jalan kembali ke laut; penyu mempunyai pola tetap dalam mebuat sarang dan lobang samaran, penyu mampu memilih tempat bertelur yang memenuhi persyaratan untuk penetasan telur; saat observasi tampak penyu sensitif terhadap cahaya, suara dan bayangan bergerak; bayi yang baru lahir segera meninggalkan sarang menuju ke laut. Berdasarkan gejala yang tampak, kajian terhadap kelakuan peyu hijau bertelur mempunyai potensi sebagai sumber belajar kelakuan hewan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 83-94 |
| Abstraksi Narasi | : | Personal Computer (PC) tidak lagi menjadi barang asing di masyarakat. Di lingkungan kampus PC menjadi kebutuhan bagi dosen karena PC memberi sumbangan yang berarti dalam menyelesaikan tugas-tugas sebagai dosen. Sebagai peralatan canggih PC digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas suatu jenis pekerjaan. Berhadapan dengan PC yang menggunakan Video Display Unit (VDU) dalam waktu relatif lama ternyata megakibatkan keluhan-keluhan seperti ketegangan otot mata, rasa pegal pada leher dan bahu. Keluhan-keluhan seperti ketegangan otot mata, rasa pegal pada leher dan bahu harus dihindari sebelum gejala-gejala yang lebih serius seperti katarak mata terjadi. Dengan menempatkan PC pada tempat kerja (meja dan kursi); lingkungan kerja yang memenuhi syarat, keluhan-keluhan di atas dapat dicegah. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 51-58 |
| Abstraksi Narasi | : | Pada semester VII mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FPTK YOGYAKARTA diwajibkan mengambil mata kuliah Teknologi Terapan. Kegiatan perkuliahan meliputi usulan proyek, membuat karya tulis, seminar, praktik. Mata kuliah Teknologi Terapan diberikan dengan harapan untuk meningkatkan pemahaman dan penalaran terhadap bidang studi yang terkait. Disamping itu, juga untuk memberikan bekal tambahan jika akan berwiraswasta, dengan kreativitas, menumbuhkan sikap inovatif dan mengantisipasi kebutuhan lapangan. Dalam pelaksanaan kuliah praktik banyak mengalami hambatan antara lain masalah waktu praktik, bobot SKS yang sedikit, biaya, relevansi materi kuliah, dan kesulitan pada saat uji kelayakan produk. Dalam tulisan ini akan dipaparkan beberapa alternatif pemecahan masalah, guna mengatasi hambatan yang ada. Untuk mengatasi sempitnya waktu yang tersedia, dilakukan dengan membuat suatu program yang terencana, terjadual, terkontrol. Sedangkan masalah dana ditanggulangi dengan menjalin kerjasama dengan pihak lain. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 95-104 |
| Abstraksi Narasi | : | Naskah ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang suatu kemungkinan pembelajaran keterampilan-keterampilan pokok dalam layanan konseling, yang pembelajarannya bersifat mikro. Konseling mikro sebagai salah satu mata kuliah dalam progream studi Bimbingan dan Konseling memberikan pengalaman belajar terutama dalam praktik konseling. Keterampilan-keterampilan konseling yang dimikrokan adalah attending skills, open Invitation to talk, paraphrasing, Indentifyings and emotions, reflekting feelings, confrontation, summarizing. Pembelajaran keterampilan-keterampilan konseling bersifat laboratoris, dan mengikuti empat tahap, yaitu : persiapan, pelaksanaan praktik, umpan balik dan penilaian. Untuk mengatasi kesulitan penyusunan persiapan dan pelaksanaan praktik adalah dengan cara menyusun persiapan praktik berdasarkan rekaman yang dilaksanakan sebelum praktik,. Fasilitas yang mendukung kelancaran pelaksanaan konseling mikro adalah tenaga pembimbing konseling , tenaga teknisi, ruangan konseling, kursi-meja, alat tulis menulis, alat elektronika, dan pedoman pelaksanaan. |