| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 27-40 |
| Abstraksi Narasi | : | Drama (lakon) merupakan suatu cara sastra yang sengaja ditulis orang untuk dipergelarkan. Drama merupakan hidup yang dilukiskan dengan gerak, menyuguhkan cerita dengan gerak. Pendidikan nasional yang berupaya mewujudkan tujuan nasional mempunyai tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, Drama (sandiwara, teater) sangat baik disajikan kepada siswa-siswa karena didalamnya terkandung nilai-nilai kependidikan yang sangat luas dan tinggi, Sesuai dengan prinsip bahwa drama (sandiwara) memberikan pengajaran dengan perlambang, maka nillai-nilai kependidikan tersebut dapat mencapai sasarannya dengan tanpa disadari. Berhubung siswa umumnya baru mampu melihat karya drama dari sisi kenyataan lahirnya, menjadi tugas para pembina (guru drama untuk mengajak sisawa berdiskusi begitu suatu pementasan drama usai. Dengan diskusi yang tujuan utamanya membahas pekerti dan watak tokoh-tokoh yang hidup dalam lakon, siswa akan berhasil masuk secara lebih dalam lagi. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 1-14 |
| Abstraksi Narasi | : | Pendidikan rekreasi merupakan program pendidikan nonformal yang menyediakan kesempatan atau peluang kepada setiap peserta kegiatan untuk mengembangkan ketrampilan jasmani, sikap sosial, mental atau kebiasaan, dan ketrampilan intelektual secara harmonis dan yang pada gilirannya membentuk kepribadian atau tingkah laku seseorang dengan memberikan pengalaman-pengalaman langsung di lapangan melalui kegiatan outdoor education/schools, study tour, field trip, outdoor adventures, dan kegiatan rekreasi fisik dan nonfisik lainnya, seperti olahraga rekreatif, permainan termasuk permainan tradisional, kesenian dan lain-lain. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 41-50 |
| Abstraksi Narasi | : | Gerhardt (1843) adalah ahli kimia perintis penulisan rumus molekul senyawa organik. Penulisan rumus molekul didasarkan pada data analisis unsur (jenis dan prosentase) dan massa molekul. Metode analisis berkembang dengan baik pada tahun 1811 sampai 1831. Ahli-ahli kimia seperti Liebig, Dumas, Thenard, Gay-Lussac, dan Berzelius mempunyai andil besar dalam mengembangkan metode analisis tersebut. Pregl (1912) dan Zimmermann (1940-an) berusaha memperbaharui metode-metode yang pernah mereka lakukan. Derajad ketidak-jenuhan suatu molekul dapat dihitung dengan cara menjumlahkan ring dan ikatsan-ikatan rangkap. Peranan derajat ketidakjenuhan pada penentuan struktur molekul senyawa organik belum banyak diketahui orang. Dengan diketahuinya derajat ketidakjenuhan, dilengkapi dengan data massa molekul serta pengetahuan tentang valensi unsur, dapat ditentukan struktur molekul senyawa organik. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 71-82 |
| Abstraksi Narasi | : | Delinquency adalah tindak kriminal yang banyak dilakukan oleh remaja. Pada umunmnya delinquency tersebut merupakan produk dari konstitusi detektif mental dan emosi (Kartini Karkono, 1986:149). Defektifnya yang menonjol adalah kurang selektifnya pemilihan aktivitas untuk pengisian waktu luang bagi remaja sehingga timbul ketidakseimbangan mental yang berakibat terjadinya frustasi, Tulisan ini merusaha memberikan alternatif yang baik dalam memilih aktivitas untuk pengsisian waktu luang bagi remaja, dalam usaha menghindarkan frustasi yang sering terjadi dalam kehidupannya. Hal ini mungkin mermanfaat bagi orang tua, guru, pembina , pelatih atau anggota masyarakat yang lain untuk membimbing remaja, terutama dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 59-70 |
| Abstraksi Narasi | : | Tujuan pengajaran bahasa Jawa agar siswa dapat berbahasa Jawa sesuai dengan tata krama, secara lisan atau tulisan, melalui berbagai fungsi bahasa. Untuk mencapai tujuan itu, maka siswa diberikan pelajaran ragam bahasa . Ragam bahasa yang berkaitan dengan tata krama disebut unggah-ungguh berbahasa. Penggunaan unggah-ungguh bahasa Jawa terikat oleh faktor-faktor sosiolinguistik, yaitu pemeran serta, audien, tujuan, tempat dan waktu , konteks kebudayaan dan psikologis, jalur dan peristiwa berbahasa. Dalam pengajarannya, faktor-faktor ini kurang mendapat perhatian. Padahal, faktor-faktor itu ikut menentukan dalam kegiatan berbahasa,. Oleh karena itu, faktor-faktor sosiolinguistik seharusnya mendapatkan perhatian dalam pengajaran ungah-ungguh bahasa Jawa. |
| Nama Pengarang | : | Josep Ilmoe Hs, Sutrisna Wibawa, Irianto, Djoko Pekik, AK Prodjosantoso, J Hartoto, Sumaryadi, Muh. Farozin, Widarto, Putu Sudira |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 15-26 |
| Abstraksi Narasi | : | Manusia adalah satu-satunya makhluk di dunia ini yang dapat berpikir tetapi apabila pikiran-pikiran itu berjalan demikian saja karena asosiasi tanpa pengarahan dan pengontrolan yang sadar, pikiran-pikiran semacam itu hanyalah perbuatan manusia (an act a man, actus hominis) bukannya perbuatan manusiawi (human act, actus humanus), yaitu perbuatan yang dikuasai oleh manusia. yang secara sadar di bawah pengontrolannya dan dengan sengaja dikehendakinya, si pelaku bertanggung jawab atas perbuatan tersebut. Salah satu manifestasi actus humanus adalah perilaku prososial, yaitu perilaku yang memberikan keuntungan bagi orang lain, memiliki akibat positif, yang bermanfaat bagi kesejahteraan fisik, psikis orang lain. Faktor situasional akan mengantarkan seseorang ke dalam dinamika perilaku prososial. Interaksi, yang dalam pelaksanaannya orang tua memperlakukan anaknya secara demokratis, menjelaskan permasalahannya, mendiskusikan perilaku yang dikehendaki di samping melalui pendidikan formal dengan cara pendekatan kognitif, tentu akan membantu mengkualifikasikan perilaku yang dikehendaki. Penanaman disiplin yang baik melalui keluarga dan sekolah , lambat laun berpengaruh dalam kematangan peran serta akan menumbuhkan perilaku prososial di mana si pelaku diharapkan memiliki pertimbangan sosial yang baik. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 2-15 |
| Abstraksi Narasi | : | - |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 75-84 |
| Abstraksi Narasi | : | - |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 91-105 |
| Abstraksi Narasi | : | - |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 50-59 |
| Abstraksi Narasi | : | - |