| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 1-8 |
| Abstraksi Narasi | : | Produksi perikanan mutlak untuk terus ditingkatkan disebabkan kebutuhan yang semakin meningkat. Salah satu masalah yang dapat menghambat peningkatan produksi adalah penyediaan benih yang kontinyu dan murah. Terdapat dua persoalan yang dapat menganggu penyediaan benih ikan budidaya yaitu (1) Ketidakmampuan induk untuk berpijah dikolam pemeliharaan dan (2) sukarnya memenuhi kebutuhan benih berjenis kelamin sama ("monosex") bagi ikan-ikan yang memiliki laju pertumbuhan yang berbeda diantara kedua jenis kelamin (jantan dan betina). Melalui pendekatan teknologi hormonal dan lingkungan maka kedua persoalan tersebut dapat diatasi. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 71-82 |
| Abstraksi Narasi | : | Ilmu pengetahuan Alam (Sains) merupakan `soko guru` teknologi. Kalau bangsa Indonesia berkeinginan dapat menguasai menggunakan dan mengembangkan teknologi untuk pembangunan di masa yang akan datang, maka penguasaan dan pengembangan IPA adalah merupakan keharusan. Harapan bahwa generasi muda di kelak kemudian hari mau dan mampu menjadi agen IPTEK untuk era tinggal landas, maka perlu dilakukan upaya agar mereka menyenangi, menguasai dan dapat mengembangkan IPA sejak dini. Sejalan dengan harapan dan konsekuensinya tersebut di atas, tulisan ini bermaksud memberikan gambaran selintas mengenai kondisi pembelajaran IPA SD di pedesaan, khususnya yang sekarang ini berkembang. Di samping itu, tulisan ini juga bermaksud menganalisis berbagai kendala yang ada yang mungkin menjadi penghambat pelaksanaan pembelajaran IPA SD di pedesaan serta alternatif upaya pemecahannya. Dari berbagai temuan dan hasil pantauan, ternyata pembelajaran IPA SD di pedesaan, khususnya yang sekarang ini berkembang. Di samping itu, tulisan ini juga bermaksud menganalisis berbagai kendala yang ada yang mungkin menjadi penghambat pelaksanaan pembelajaran IPA SD di pedesaan serta alternatif upaya pemecahannya. Dari berbagai temuan dan hasil pantauan, ternyata pembelajaran IPA SD yang berkembang di daerah-daerah pedesaan belum seperti yang diharapkan. Pembelajaran IPA SD di daerah pedesaan, pada umumnya belum mengembangkan PKP dan masih mengikuti model pembelajaran tradisional (verbal). Berbagai kendala dipandang menjadi penyebab hal ini, antara lain: kualifikasi dan distribusi guru IPA belum merata, pemasyarakatan pada kalangan guru SD mengenai IPA dan cara pembelajarannya belum memadai, adanya persepsi yang keliru mengenai IPA di kalangan siswa, tolok ukur keberhasilan belajar IPA yang kurang tepat dan beberapa kebijakan lain yang kurang mendukung. Upaya peningkatan mutu pembelajaran IPA SD di pedesaan dapat dilakukan dengan memecahkan kendala-kendala tersebut. Upaya yang dapat dilakukan antara lain adalah: peningkatan pemahaman guru terhadap IPA dan model pembelajarannya yang benar, tutorial sebaya antar guru, penggunaan dan Pengelolaan Alat-alat IPA, pemanfaatan alam sekitar sebagai obyek dan permasalahan konkret, pembelajaran IPA dengan PKP-Sains, koordinasi antar guru intern SD ataupun antara SD dalam rangka pembagian tanggung jawab mengampu (memegang) suatu bidang studi tertentu, upaya koreksi/pengusulan penggunaan alat evaluasi keberhasilan belajar IPA yang tepat. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 155-163 |
| Abstraksi Narasi | : | Perkembangan kognitif mempunyai 2 basis yang penting, yaitu pengaruh aktivitas organisme pada lingkungan di satu pihak, dan pengaruh lingkungan organisme dipihak lain. Oleh karena itu, apabila stimulasi pendidikan yang diberikan kepada anak didik dapat disesuaikan dengan kematangan fungsi-fungsi kognitifnya, maka pendidikan sebagai hasil pengaruh dari interaksi antara kedua hal tersebut akan memperoleh hasilnya yang optimal. Pendidikan Dasar 9 Tahun terdiri dari tahap pendidikan SD 6 tahun, dan pendidikan SLTP 3 tahun. Tahap-tahap pendidikan tersebut mempunyai batasan usia yang relatif sama dengan tahap-tahap perkembangan kognitif dalam teori Piaget, yaitu antara tahap pendidikan SD 6 tahun (7-12 tahun) dengan tahap operasional kongkrit (7-11/12 tahun), serta antara tahap pendidikan SLTP 3 tahun (13-15 tahun) dengan tahap operasional formal (11/12-14/15). Tahap-tahap perkembangan kognitif menurut teori Piaget ini mempunyai sifat yang konstan-universal, artinya semua manusia pasti melalui tahap-tahap perkembangan tersebut secara urut. Namun, batasan usia yang berlaku pada tiap-tiap tahap masih bersifat relatif berbeda untuk masing-masing bangsa, tergantung dari pengaruh kebudayaan setempat. Meskipun demikian, ciri-ciri perkembangan fungsi kognitif dalam teori Piaget, pada batas tertentu, dapat dijadikan alat bantu petunjuk dalam pelaksanaan Pendidikan Dasar 9 Tahun, sehingga stimulasi pendidikan sebagai faktor eksternal, dengan fungsi kematangan kognitif sebagai faktor internal, dapat berjalan seirama dan seimbang. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 91-99 |
| Abstraksi Narasi | : | Globalisasi dan modernisasi teknologi sengaja dirancang untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Banyak dampak positip yang dapat diperoleh, namun tidak sedikit dampak negatif yang dirasakan. Salah satu bentuk dampak negatif adalah terjadinya transformasi perilaku ke arah antisosial seperti meningkatnya dekadensi moral, lunturnya fair play dan sportivitas. Pembentukan perilaku dan pengendalian transformasinya menjadi tanggungjawab semua lapisan masyarakat, pendidikan mempunyai peran penting dalam usaha mencapai kedewasaan anak pada semua aspek kehidupannya. Pembentukan perilaku dan pengendalian transformasinya menjadi tanggungjawab semua mencapai kedewasaan anak pada semua aspek kehidupannya. Pendidikan jasmani sebagai sarana mencapai tujuan pendidikan, dengan program-program yang dapat dilaksanakan secara improviatif tanpa terkekang oleh norma-norma formal, memiliki tanggungjawab yang besar dan berperan strategis dalam membentuk dan mengendalikan transformasi perilaku masyarakat. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 21-28 |
| Abstraksi Narasi | : | Kenyataan tentang penataan kembali Program Studi PLS (Pendidikan Luar Sekolah) masih menjadi issue yang menarik. Hal ini disebabkan oleh perbedaan persepsi dan pendapat antara pemerintah (dalam hal ini mendikbud) sebagai pengambil kebijakan dan anggota civitas akademika sebagai pelaksana kebijakan. Mendikbud memberikan kemungkinan tentang kemandirian PLS jika Konsursium Ilmu Pendidikan (KIP) mampu meyakinkan bahwa PLS masih dibutuhkan di masyarakat mendatang. Walaupun tulisan ini belum bersifat futurustik (menjamin signifikan di masa mendatang), tetapi tulisan ini menyajikan kenyataan tentang eksistensi PLS yang mendukung kebijakan strategi pendidikan nasional. Ada empat strategi pendidikan nasional, yaitu pemerataan pendidikan, peningkatan relevansi pendidikan dan pembangunan, peningkatan kualitas, dan efisiensi pendidikan. Keempat strategi itu merupakan langkah dalam memenuhi kebijakan pendidikan untuk semua (education for all) bagi bangsa Indonesia. Dalam mendukung kebijakan strategi pendidikan nasional, PLS berperan (1) membantu memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam bidang pendidikan atau mempertinggi kesempatan pendidikan, (2) mengurangi jumlah pengangguran, (3) membantu membuka kesempatan kerja, dan (4) meningkatkan produktivitas kerja. Dengan demikian, PLS juga turut membantu keberhasilan pendidikan untuk semua. PLS dapat menjangkau (baca: membantu) bagi masyarakat yang kurang beruntung ( baca: miskin) Melihat peran PLS tersebut, eksistensi PLS masih diperlukan. Tentang pencetakan tenaga-tenaga `ahli` PLS dapat dilakukan melalui pendidikan formal maupun non-formal. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 165-174 |
| Abstraksi Narasi | : | Di penghujung abad ke-20 dan abad ke- 21, ada beberapa perkembangan yang perlu dicermati. Nilai dan prinsip kesopanan di dalam masyarakat sudah begitu longgar, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram, seolah-olah sangat tergantung pada diri masyarakat masing-masing. Hal ini nampak, manusia juga hidup begitu materialistik dan tidak jarang yang serakah, dan menganut prinsip budaya nerabas. Hal ini nampaknya memang tidak dapat dilepaskan dari sebagian dampak perkembangan IPTEK yang mendominasi kehidupan modern di zaman ini. Perkembangan IPTEK tersebut tidak dapat dilepaskan adanya Renaisance di Eropa. Pada tahapan ini berkembang kebebasan berfikir dan individualitas. Kemudia pada zaman Aufklarung,mulai meninggalkan kaidah moral dan ketauhidan, sehingga IPTEK menjadi bebas nilai. Akibatnya hasil teknologi di samping memang sangat bermanfaat, tetapi juga menimbulkan keprihatinan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam upaya pemberdayaan manusia, diarahkan untuk melahirkan manusia-manusia potensial yang mampu mengendalikan dan menerapkan teknologi secara tepat dengan mengingat pada kaidah-kaidah moral dan agama. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 11-20 |
| Abstraksi Narasi | : | Pendidikan untuk semua sudah menjadi kebutuhan dan tantangan nyata, dan di Indonesia telah pula dicanangkan program wajib belajar pendidikan dasar sembila tahun. Implementasi kedua hal tersebut merupakan sumbangan yang sangat berarti strategis terhadap pembangunan sosial yang akan saling memperkuat dengan pembangunan sektor lainnya terutama pembangunan ekonomi dan politik. Sementara itu tidak kalah pentingnya adalah dibutuhkannya sumberdaya pendidikan yang bukan saja berskala besar tetapi juga kompleks yang meliputi aspek-aspek manusia, dana, fasilitas, dan manajemen. Untuk itu salah satu alternatif pemecahannya adalah optimalisasi peranserta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Peranserta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Peranserta masyarakat sebenarnya sudah ada sejak lama, tetapi perlu perekayasaan sosial untuk mengoptimalisasikan kinerja dan hasil-hasilnya. Forum masyarakat diyakini sebagai salah satu alternatif wahana terbaik untuk mengoptimalisasikan peranserta masyarakat dengan penekanan pada sifatnya yang nonstruktural, terdiri atas representasi komponen masyarakat yang potensial. Metodologi kerja forum masyarakat pada desarnya memakai penilitian tindakan yang memungkinkan terjadi secara simultan beberapa hal termasuk: peningkatan kemampuan masyarakat dalam pemecahan problem pendidikan, penyadaran pentingnya pendidikan, penggalian dan pendayagunaan sumberdaya pendidikan untuk mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan pendidikan, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 1-10 |
| Abstraksi Narasi | : | Secara normatif pendidikan untuk semua tidak hanya berlaku bagi negara-negara yang belum maju, tetapi juga berlaku bagi negara maju. Deklarasi pendidikan untuk semua yang dilakukan oleh negara-negara berkembang berangkat dari kebutuhan mendesak bagi pengembangan sistem pendidikan yang dapat mendorong terbentuknya masyarakat belajar yang pada gilirannya akan dapat memacu proses pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya. Di negara berkembang dimana masalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan masih banyak dihadapi maka disadari pentingnya membangun strategi pendidikan yang dapat memecahkan masalah tersebut. Pendidikan untuk semua telah disepakati sebagai sarana dasar bagi pemecahan masalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Pendidikan untuk semua yang dideklarasikan oleh negara berkembang mencakup; 1. Program pemberantasan buta aksara, 2. Universitas pendidikan dasar, 3. Pendidikan kelanjutan (continuing education). Dengan adanya deklarasi pendidikan untuk semua dan pelaksanaannya maka diharapkan akan dapat dibentuk masyarakat belajar. Dalam situasi masyarakat dunia yang semakin bersaing, perubahan yang sangat cepat dalam kehidupan maka lebih mendorong kesadaran pentingnya membentuk masyarakat belajar. Pembentukan masyarakat belajar ini memerlukan perubahan sistem pendidikan dan perangkat nilai-nilai belajar yang mendukung setiap orang untuk terlibat aktivitas belajar. Pendekatan budaya dalam pembentukan masyarakat belajar mengingatkan pentingnya kebermaknaan semua program pendidikan yang dirancang bagi perorangan, kelompok masyarakat, maupun masyarakat luas. Di samping kebermaknaan belajar juga harus melaksanakan prinsip partisipasi. Pendidikan untuk semua harus tidak lepas dari prinsip pendidikan oleh semua. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 57-62 |
| Abstraksi Narasi | : | Adanya perbedaan kesempatan pada anak yang memiliki orang tua kurang beruntung masih banyak. Keberadaan mereka merupakan potensi sumber daya manusia pembangunan yang masih dalam program pendidikan, tampaknya, perlu adanya pemikiran alternatif yang menguntungkan bagi keberadaan mereka. Pendidikan profesi adalah pendidikan alternatif yang tepat. Dalam sekolah tersebut, di samping memberikan pengetahuan yang kuat, juga memperhatikan terbentuknya: kedisiplinan dalam belajar dan bekerja, kemampuan dalam memanfaatkan potensi yang ada dan kemampuan menjual hasil karya guna meningkatkan kesejahteraan mereka. Selain itu pendidikan profesi juga, hendaknya direncanakan berjenjang sejak tingkat teknisi sampai pada tingkat spesialis. Hal ini untuk mengakomodasikan anak-anak Indonesia yang ingin mencapai cita-citanya melalui pendidikan profesi. Daerah kecamatan adalah daerah yang tepat untuk keberadaan pendidikan profrsi yang andal. Dengan adannya pendidikan profesi pada setiap kecamatan, diharapkan sumberdaya manusia yang ada dapat lebih dimanfaatkan dalam pembangunan bangsa. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 111-126 |
| Abstraksi Narasi | : | Beberapa tahun silam atau bahkan gaungnya hingga sekarang masih terasa adalah adanya berbagai kritik terhadap sistem pendidikan di negara kita. Secara substansial kritikan tersebut antara lain adanya banyak pengangguran terdidik, pemborosan pendidikan, dan lain-lain yang kesemuanya bertumpu pada penyorotan terhadap `sistem` yang ada yang dipandang menurut mereka sesui diterapkan di negara kita. Tanggap akan perkembangan situasi dan tahapan negara kita menuju industrialisasi, maka pemerintah mengambil beberapa kebijakan sebagai upaya memenuhi tuntutan dunia kerja, masyarakat umum, serta mengarah pada masa-masa yang akan datang, khususnya dalam pengembangannya sumber daya manusia melalui pendidikan. Namun demikian informasi tentang kemana arah dan jiwa yang sebenarnya ada dalam sistem pendidikan kita belum banyak menjangkau kepada masyarakat, atau sebaliknya masyarakat kurang mampu menjangkau atau menterjemahkan arah dan jiwa sistem pendidikan kita. Oleh karenanya dipandang perlu adanya kupasan balik terhadap jiwa dan semangat sistem pendidikan kita yang dapat dikaitkan dengan kebutuhan manusia Indonesia, tujuan bangsa dan negara, serta adanya tuntutan perubahan jaman di masa datang. Secara konsep sistem pendidikan terdapat tiga jenis, yaitu sistem satu jalur, dua jalur, dan Komprehensif. Indonesia berdasarkan UUSPN No. 2 tahun 1989 secara tegas menerapkan sistem pendidikan dua jalur. Dalam sistem ini pendidikan kejuruan mutlak memegang peranan yang besar dalam menentukan kelangsungan bangsa ditinjau dari sumber manusianya. Dengan pendidikan kejuruan juga dipandang sangat cocok bagi negara kita dengan segala kondisi dan potensi yang ada (terutama karakteristik masyarakatnya). Berdasarkan kenyataan tersebut nampak bahwa filosofi pendidikan kejuruan yang dicetuskan oleh Charless Prosser sangat tepat sebagai landasan berlangsungnya penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, khususnya dalam pendidikan kejuruan. Makna yang terkandung dalam falsafah pendidikan kejuruan inilah yang sebagian besar masyarakat kita belum banyak mengetahui, sehingga dapat dimungkinkan timbulnya berbagai ketimpangan penyelenggaraan pendidikan, baik dilakukan oleh penyelenggara maupun pemakai hasil pendidikan. Di sinilah pentingnya pembahasan ini, sebagai salah satu sisi memberikan gambara secara konseptual dan filosofis terhadap sistem pendidikan kita yang ada sekarang ini. |