| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 23-38 |
| Abstraksi Narasi | : | Sunber daya manusia merupakan modal dasar pembangunan dan pelaku pembangunan. Sumber daya manusia dapat dilihat dari segi kuantitas dan kualitas. Kuatitas SDM dapat digambarkan dari aspek demografi, sedang kualitas SDM dapat dicerminkan dari aspek sosial ekonomi. Sasaran PJPT II adalah meningkatkan kualitas SDM. Arah pengembangan SDM harus memperhatikan potensi manusiawi menuju sumber daya manusia yang memiliki kemampuan, dan penggunaan secara produktif. Pendekatan terpadu dalam pengembangan SDM mencakup proses interaktif antara demografi dan sistem sosial ekonomik, artinya sesuai dengan program, kebijakan, pengembangan strategi peluang kerja, dan perencanaan tenaga kerja dalam perencanaan pembangunan. Ada tidga masalah pokok yang perlu dicermati pada pendekatan yang terpadu yaitu masalah ketersediaan SDM, produktivitas kerja dan tenaga kerja. Pola integrasi pengendalian SDM dan pengembangan SDM ke dalam penggunaan SDM perlu diterapkan dalam pendekatan ini. Ketersediaan SDM dapat dipahami dengan melihat keseimbangan antara permintaan dan pasokan tenaga kerja. Produktivitas kerja dapat dicapai dengan menciptakan budaya kerja untuk menjadikan individu menjadi manusia-manusia produktif. Sistem lingkungan kerja dan sistem masyarakat ikut menentukan produktivitas kerja yang akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Sektor Pendidikan, Ketenagakerjaan, Industri, Pertanian, Informal, Kesehatan, Perdagangan, Pariwisata, Perhubungan dan Telekomunikasi dan sektor lainnya merupakan faktor pendukung pengembangan SDM di Indonesia. Keberhasilan dalam melakukan pendekatan terpadu dalam merencanakan pengembangan SDM, memberikan sumbangan yang sangat penting dalam mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia. Karena salah satu penyebab kemiskinan adalah masih rendahnya kualitas sumber daya manusianya. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 115-123 |
| Abstraksi Narasi | : | Daerah-daerah terpencil di Indonesia memiliki potensi sinar matahari (surya) yang besar. Dengan menggunakan modul fotovoltaik. Potensi tersebut dapat diubah menjadi tenaga listrik. Agar tenaga listrik yang dihasilkan dapat dinikmati secara terus-menerus meskipun mendung, hujan maupun malam maka diperlukan peralatan tambahan berupa aki dan alat pengatur. Rangkaian peralatan tersebut membentuk suatu unit Listrik Tenaga Surya (LTS). Keuntungan sistem LTS antara lain perawatannya relatif sederhana dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Hadirnya LTS di daerah terpencil memberikan peluang bagi masyarakat untuk menikmati siaran televisi, penerangan rumah, penunjang kegiatan laboratorium sekolah, puskesmas dan tempat ibadah. Di samping itu dapat memberi peluang bagi masyarakat untuk berwiraswasta dengan memanfaatkan tenaga listrik misalnya penetasan telur, pengaduk adonan roti, pemarut kelapa dan usaha penjualan jasa lainnya. Hal tersebut pada gilirannya akan dapat memajukan dan memakmurkan masyarakat daerah terpencil. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 93-103 |
| Abstraksi Narasi | : | Bangsa Indonesia yang telah menyelesaikan Program Pembangunan Jangka Panjang Pertama (PJP I) dan kini memasuki program PJP II yaitu tahap era tinggal landas, masih dihadapkan pada jumlah penduduk miskin yang cukup besar yaitu sekitar 27.2 juta atau 15% dari jumlah penduduk Indonesia. Upaya-upaya untuk mengentaskan penduduk dari kemiskinan memperoleh sambutan menggembirakan dari seluruh lapisan masyarakat. Bahkan pemerintah dalam Repelita VI telah memancangkan program khusus yaitu Inpres Desa Tertinggal (IDT) untuk pengentasan kemiskinan di 20.633 desa miskin. Pendekatan lain yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat adalah melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khusus IPTEK PEDESAAN, sehingga keterbatasan faktor produksi yang menjadi penyebab kemiskinan dapat diatasi. Bioteknologi sebagai bagian dari IPTEK dewasa ini dianggap dapat membantu memecahkan masalah kemiskinan. Bioteknologi telah berperan dalam pengentasan kemiskinan penduduk pedesaan di negara-negara Cina, India, yang sebagian besar penduduknya hidup di pedesaan. Penerapan bioteknologi di Indonesia seperti dalam bidang kesehatan, pertanian dan perkebunan, bioindustri, telah ikut memberi andil dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat walapun belum merata dirasakan oleh penduduk secara menyeluruh. Beberapa contoh bioteknologi yang dapat diterapkan di daerah pedesaan diantaranya makanan hasil fermentasi tradisional, budidaya jamur, nata dan coco, yoghurt dan kefir, biofertilizer, dan kompos. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 181-193 |
| Abstraksi Narasi | : | Kemiskinan adalah persoalan mendasar kehidupan manusia. Persoalan yang kadang-kadang sampai memuncak ke tingkat tidak menyenangkan. Bahkan seringkali menimbulkan permasalahan-permasalahan rumit yang membutuhkan pemecahan. Sebab-musabab terjadinya tragedi kemiskinan dapat dipengaruhi oleh sistem nilai yang dipergunakan oleh masyarakat yang bersangkutan. Maka, untuk pengentasan masalah tersebut dibutuhkan sistem nilai lain yang dapat memberikan arah dan mengubah cara hidup mereka. Sastra lisan (folklore), khususnya genre parikan dapat menjadi salah satu alternatif wahana manifestasi nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai yang terkandung dalam parikan, ternyata dapat dimanfaatkan sebagai wahana pengentasan kemiskinan. Nilai tersebut menyangkut masalah fungsi dan cara. Fungsi parikan dalam hal ini meliputi: (1) sebagai pengungkapan rasa miskin, (2) sebagai ungkapan tekanan batin, (3) sebagai ungkapan gagasan dan keyakinan, (4) sebagai kontrol sosial, (5) sebagai ungkapan minta tolong, dan (6) sebagai sindiran. Cara pengentasan kemiskinan yang terpantul dalam parikan, yakni dengan jalan: (1) ABRI masuk desa, (2) perlu bapak angkat, (3) bertekad transmigrasi, (4) pemanfaatan koperasi, (5) agar giat membangun, (6) emansipasi wanita, (7) berantas kebodohan, dan (8) mau kerja sembarang. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 169-179 |
| Abstraksi Narasi | : | Dewasa ini perkembangan fungsi dan manfaat olahraga, tidak hanya terbatas untuk kesehatan, rekreasi dan pendidikan semata, tetapi memiliki dimensi begitu luas. Olahraga memberikan kesempatan dan nilai kepada setiap orang untuk melakukan mobilitas sosial dalam struktur kehidupan masyarakat. Di negara-negara maju olahraga dapat dijadikan sebagai jalur peningkatan status sosial ekonomi masyarkatnya. Hasil penelitian Reeve (Rusli Luttab, 1991:16) menjelaskan bahwa olahraga dan rekreasi menjadi faktor penting dalam ekonomi Amerika. Di Indonesia kondisi ini belum dapat diwujudkan, karena kegiatan olahraga belum merupakan kegiatan bisnis yang menghasilkan banyak dana. Selain itu struktur dan sistem imbalan di masyarakat kita masih belum menunjang keberadaan para olahragawan, pelatih dan juga mereka yang melibatkan diri didalamnya. Ada dua faktor yang diduga menghambat jalur olahraga sebagai wahana peningkatan status sosial ekonomi masyarakat. Pertama belum terciptanya lingkungan olahraga yang terpadu dan kedua adanya iklim birokrat yang muncul di lingkungan kita dewasa ini. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 61-69 |
| Abstraksi Narasi | : | Model pendidikan merupakan suatu keterkaitan antara kegiatan pendidikan dengan kegiatan masyarakat sebagai konsumen output pendidikan. Suatu model pendidikan diterapkan dapat dipengaruhi oleh kuat lemahnya masyarakat sebagai pengguna jasa output pendidikan. Model pendidikan yang berorientasi pada kepentingan ekonomi, kegiatan pendidikan selalu dikaitkan dengan produksi. Oleh karenanya keberhasilan pendidikan yang dilaksanakan diukur oleh potensi produksi yang dimiliki output pendidikan yang dihasilkan. Model pendidikan ini ternyata kurang menguntungkan pada masyarakat (desa) yang jauh dari kota pusat industri. Sebab pada negara yang belum maju dan dengan jumlah penduduk yang besar menimbulkan masalah baru yang berupa pengangguran dan pengentasan masyarakat desa dari kemiskinan relatif lamban. Dengan permalasahan penggangguran dan kemiskinan yang diakibatkan oleh penerapan model pendidikan yang didominasi kepentingan ekonomi tersebut perlu dikurangi dan beralih kepada model pendidikan yang mampu mengikis pengangguran dan mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. Model pendidikan yang dimaksudkan adalah pendidikan kedesaan, yaitu pendidikan yang menggarap dan mengembangkan masyarakat desa, pendidikan yang berbasis dan berorientasi pada masyarakat desa. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 11-21 |
| Abstraksi Narasi | : | "The individual ho grows up in the slum cultur has a strong feeling of fatalism, helpeness, dependence and inferioity....." Oscar Lewis. Hasil perenungan dengan didukung beberapa literatur yang tertuang dalam penulisan ini pada asasnya adalah sebuah studi tentang kondisi, aktivitas dengan segala permasalahannya (termasuk permasalahan pendidikan) beberapa kelompok masyarakat rawan yang utamanya bermukim di daerah perkotaan, umumnya tersembunyi dari penglihatan dan perhatian para pembuat kebijakan serta para perencana pembangunan, kelompok-kelompok marginal ini agaknya terabaikan. bahkan cenderung teranggap sebagai beban. Namun begitu bukan berarti mengabaikan keberadaannya. Salah satu upaya tersebut adalah melalui pendidikan khusus, di luar sistem persekolahan formal. Sistem pendidikan khusus tersebut utamanya dilakukan dengan mengklasifikasikan kelompok tersebut baik menurut umur, bakat atau minat yang barangkali dimilikinya. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 147-154 |
| Abstraksi Narasi | : | Kejahatan akhir-akhir ini menjadi masalah hangat yang dibicarakan setiap orang. Tidak sedikit yang menuding, kemiskinan material sebagai biang keladinya. Tetapi dalam kenyataan, banyak sekali kasus dari tindak kejahatan yang pelakunya justru orang-orang kaya, sehingga tidak bertaut sama sekali dengan kemiskinan tersebut. Untuk itu, perlu dilihat dari sisi lain, serta bagaimana cara yang dapat ditempuh untuk mengatasinya. Tulisan ini berupaya menyoroti kejahatan dari sisi spiritualitas yang difokuskan pada spirit iman, serta pengetahuannya. Kesimpulan yang diperoleh, kejahatan merupakan potret dari kemiskinan manusia terhadap iman. Adapun pengentasannya, dengan cara memperkaya iman melalui mujahadah, da`wah dan menciptakan suasana iman. Cara teresebut merupakan kerja praktis. Artinya, terjun secara langsung melakukan tindak kebajikan sesuai dengan norma, susila, dan agama melalui mujahadah, daw`wah, dan menciptakan suasana iman. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 203-210 |
| Abstraksi Narasi | : | Ada dimensi psikologis yang perlu dicermati dalam upaya pengentasan kemiskinan. Dimensi psikologis ini menjadi perlu mendapat penanganan serius sebab penelitian telah membuktikan bahwa kesulitan-kesulitan sosial termasuk kesulitan kaum miskin untuk mengembangkan dirinya ternyata ditemukan pula sepada aspek psikis, misalnya sikap malas, takut, jalan pintas, keluh kesah, kurang mampu bersaing dan kurang kreatif. Yang kesemua sikap ini bisa sebagai akibat mental disorder dan atau karena belum/tidak dikembangkan secara serasi. Sehingga sebagai langkah awal upaya pengentasan kemiskinan perlu di bina terlebih dahulu potensi psikisnya. Dan cara-cara yang bisa ditempuh bisa melalui jalur pendidikan formal, pembentukan kelompok-kelompok kajian bimbingan karir, dan cara yang murah dan efektif ialah dengan upaya pemahaman ibadah agar bisa diaktualisasikan dalam fungsi kehidupan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 39-48 |
| Abstraksi Narasi | : | - |