| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 49-55 |
| Abstraksi Narasi | : | Jauh sebelum isu `pendidikan untuk semua` dilontarkan pada skala internasional, pada dasarnya bangsa Indonesia telah memiliki sesuatu tekad bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pengajaran sebagaimana tercantum dalam pasal 31 UUD 1945. Persoalannya sekarang adalah `bagaimana mewujudkan tekad tersebut seiring dengan upaya optimalisasi pengembangan sumber daya manusia. Program wajib belajar bagi setiap warga negara dapat dikatakan sebagai bukti bahwa pemerintah sangat peduli dan bertanggung jawab terhadap pendidikan bagi setiap warga negaranya. Namun demikian, bukan berarti bahwa adanya program tersebut secara mutlak mampu menjangkau secara merata bagi setiap warga untuk memperoleh pendidikan. Banyak kendala yang menghadang untuk mewujudkan program tersebut dan kendala-kendala dominan (menurut sebagian pengamat) yang menyebabkan belum terealisir program tersebut adalah; kemiskinan, letak geografi antar daerah yang sulit dijangkau, adanya masyarakat yang masih sulit diajak berpikiran modern. Teknologi pendidikan melalui produks-produks telah diyakini oleh banyak pihak sebagai salah satu alternatif untuk meminimalkan kendala-kendala diatas. Oleh karena itu, agar kontribusinya terhadap optimalisasi pelaksanaan program wajib belajar tercapai, beberapa hal yang perlu dilakukan adalah; (1) memantapkan konsepsi teknologi pendidikan sebagai suatu pendekatan yang sistemik dalam memecahkan masalah pendidikan yang tidak sekedar berurusan dengan peralatan pembelajaran, (2) walaupun produk-produk teknologi pendidikan mampu mengatasi batas jarak dan waktu akan tetapi kehadirannya tetap membutuhkan keberadaan unsur manusiawi, karena tanpa ada unsur manusiawinya diperkirakan pendidikan akan banyak kehilangan nilai-nilai yang semestinya dikembangkan tetapi tak mampu dijangkau produk teknologi pendidikan, (3) kalangan teknologi pendidikan perlu selalu menciptakan model dan metode pembelajaran yang efektif dan bersifat massal, dan (4) teknologi pendidikan hendaknya dapat menjadi perancang dan pengembang pengajaran serta sebagai idealizer artinya mampu menciptakan ide-ide pembelajaran yang bervariasi menurut kondisi dan kesempatan peserta didik |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 83-89 |
| Abstraksi Narasi | : | Pendidikan kimia mulai diajarkan secara eksplisit di SMU. Sejak berlakunya Kurikulum 1994 SMU, maka pelajaran kimia di SMU diajarkan di kelas I dan II secara umum dan di kelas III Program IPA secara khusus. Dengan diajarkannya kimia selama dua tahun diharapkan pengetahuan siswa terhadap kimia secara umum menjadi bertambah. Hal ini seiring dengan lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta industri yang makin pesat. Pengetahuan mengenai kimia perlu diberikan secara umum untuk lebih mendekatkan masyarakat kepada kimia, karena kehidupan hampir tak bisa lepas dari bahan-bahan kimia dan proses-proses kimia. Hal ini sesuai dengan anggapan bahwa kimia penting untuk semua. Guna mendukung pemasyarakatan kimia untuk semua, di dalam GBPP menurut Kurikulum 1994 SMU telah banyak memuat pokok bahasan yang berisi pengetahuan kimia yang bersifat umum dan banyak dijumpai di sekitar kita. Dengan demikian siswa akan lebih mudah dan cepat memahami peranan kimia dalam kehidupan sehari-hari, dalam rangka mewujudkan pentingnya kimia untuk semua. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 147-154 |
| Abstraksi Narasi | : | Dari hasil perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan banyak kebutuhan manusia baik untuk orang dewasa ataupun untuk anak-anak terpenuhi. Akhir-akhir ini banyak ditawarkan jenis permainan dan alat permainan yang merupakan hasil teknologi modern. Akibatnya banyak jenis dikenal dengan sebutan permainan anak tradisional mulai banyak dilupakan. Padahal jenis permainan tersebut banyak mempunyai nilai lebih, di antaranya memiliki nuilai matematis. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 101-109 |
| Abstraksi Narasi | : | Mahasiswa berprestasi tinggi merupakan sumber daya manusia yang memiliki peranan strategis dalam pembangunan. Namun dari berpuluh-puluh ribu mahasiswa yang memasuki perguruan tinggi di Indonesia setiap tahunnya, hanya sebagian kecil saja yang akhirnya lulus dengan prestasi yang tinggi. Mahasiswa yang tidak sukses atau prestasi yang dicapainya tidak tinggi akan mengalami kerugian seperti pemborosan biaya, tenaga dan waktu serta peluang yang kecil untuk bekerja pada instansi yang mapan. Penyebab utama mahasiswa berprestasi adalah kebiasaan studi yang baik. Kebiasaan studi adalah langkah rutin yang dilaksanakan secara teratur dalam rangka mempelajari dan mendalami perkuliahan. Akibat dari kebiasaan studi diantaranya menimbulkan reaksi spontan dan otomatis, meningkatkan efisiensi, konsistensi, berdaya keamanan (will power) serta mempercepat konsentrasi. Langkah kebiasaan studi yang dilaksanakan mahasiswa berprestasi tinggi, seperti yang disarankan pula oleh Otis D. froe dan Maurince serta B. Litfvak, sebaiknya diambil teladan bagi seluruh mahasiswa atau pelajar. Dengan menerapkan keteladanan tersebut diharap dapat memperlancar prestasi belajarnya. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 63-69 |
| Abstraksi Narasi | : | Berbagai kemajuan di bidang pendidikan yang dicapai negara berkembang seperti Indonesia, sebenarnya belum memadai jika dibanding dengan negara-negara maju. Mengacu pada konsep pendidikan untuk semua, kesempatan belajar diupayakan makin terbuka luas. Tidak sekedar jangkauan kuantitas, tetapi mutu pendidikan perlu ditingkatkan. Salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan adalah memperhatikan kebutuhan zat gizi spesifik untuk kecerdasan otak anak subyek didik dalam pendidikan. Keadaan gizi anak tidak terlepas dari keadaan gizi ibu sewaktu hamil. Konsep diversifikasi, kombinasi dan interaksi zat-zat gizi, sangat membantu pemenuhan gizi terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah. Sementara itu, wanita di pedesaan dengan berbagai keterbatasannya dan saat ini tercatat berjumlah besar, sebenarnya cukup berpotensi dan mampu berperan dalam pembangunan pendidikan. Namun, berbagai kendala seperti keadaan gizi yang berhubungan dengan fungsi reproduksi dan diskriminasi, keterbatasan waktu karena mengerjakan pekerjaan rumah tangga, serta budaya yang kurang mendorong wanita di pedesaan untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya. Oleh karena itu perlu ditingkatkan perannya dalam dunia pendidikan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 135-145 |
| Abstraksi Narasi | : | Gerakan wajib belajar dimaksudkan untuk mewujudkan pemerataan memperoleh pendidikan. Realisasinya dirasa mendesak dalam memasuki PJP II ini, karena untuk mengimbangi lajunya pembangunan semakin dituntut peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Apalagi dibandingkan dengan pendidikan negara-negara Asia lainnya Indonesia telah ketinggalan sekitar 15-20 tahun. Wajib belajar pada hakekatnya untuk memenuhi hak asasi setiap warganegara untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan prinsip pendidikan untuk semua. Tujuannya ialah agar setiap warganegara memperoleh pengetahuan dan kemampuan dasar yang diperlukan untuk berperan serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Wajib belajar di Indonesia dirintis sejak tahun 1950-an. Pada 1984 dicanangkan gerakan wajib belajar secara nasional bagi pendidikan dasar 6 tahun dan dilanjutkan pada tahun 1994 untuk pendidikan dasar 9 tahun. Insiatif dan penanggungjawab utama wajib belajar adalah Pemerintah. Tantangan yang harus dihadapi berkaitan dengan beban dan daya tampung, prasarana dan sarana, kualitas, kulifikasi guru, lokasi geografis dan pendanaan tidaklah ringan. Maka diharapkan partisipasi seluruh masyarakat. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 29-36 |
| Abstraksi Narasi | : | Program wajib belajar Pendidikan Dasar 9 tahun merupakan perwujudan amanat pembukaan UUD 1945 dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa serta pasal 31 UUD 1945 yang menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. Keberhasilan wajib belajar tersebut sangat tergantung pada faktor-faktor penunjang antara lain tenaga kependidikan, dana, saran dan prasarana. Salah satu sarana mendasar dan mutlak perlu adalah buku-buku yang memadai baik jumlah maupun mutunya. Pihak swasta (penerbit) seyogya menjadi mitra kerja pemerintah dalam pengadaan buku-buku yang baik mutunya sesuai dengan kebutuhan siswa dan masyarakat. Diharapkan, kemitraan tersebut dapat mewujudkan siswa dan masyarakat gemar membaca, menulis dan belajar, guna mempersiapkan masa depan bangsa yang cerdas dan sejahtera. Upaya membudidayakan gemar membaca, menulis dan belajar syogianya dilakukan sejak usia dini ( pendidikan dasar ). Kemahiran membaca, menulis, dan berhitung akan menentukan kemampuan berpikir seseorang. Pendapat hubungan timbal balik antara kemampuan berbahasa (baca tulis) dengan kemampuan berpikir/bernalar (berhitung). |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 211-218 |
| Abstraksi Narasi | : | Membicarakan pengembangan sumber daya manusia berarti berasumsi bahwa manusia memiliki sumber daya atau potensi, dan karenanya perlu terus dikembangkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Melalui kajian filosofis diharapkan dapat terhindar dari upaya memahami manusia secara sepotong-potong, disamping dapat diperoleh gambaran yang lebih menyeluruh tentang sumber daya atau potensi yang dimiliki oleh manusia. Dengan demikian diharapkan dapat mempermudah upaya-upaya untuk mengembangkannya. Untuk mengembangkan atau meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berkualitas hanya akan muncul dari pendidikan yang berkualitas pula. Hal ini sesuai dengn amanat GBHN 1993, yang menempatkan pengembangan atau peningkatanan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu prioritas pembangunan lima tahun keenam. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 81- 92 |
| Abstraksi Narasi | : | Pada tahun 1993 penduduk yang tergolong miskin di Indonesia berjumlah 25,9 juta orang (13,67%). Dari jumlah tersebut sebagian besar berada di pedesaan dan menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Maka dari itu pendekatan sistem usaha tani terpadu dapat menjadi suatu alternatif dalam mengupayakan pengentasan kemiskinan, karena sistem usaha tani terpadu akan mampu meningkatkan pendapatan petani dan penyerapan tenaga kerja di pedesaan yang selanjutnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani khususnya dan masyarakat pedesaan pada umumnya. Keberhasilan sistem usaha tani terpadu upaya untuk mengentaskan kemiskinan dapat tercapai jika didukung oleh semua pihak dan dapat diupayakan keberlanjutannya. Di samping itu keberhasilan sistem usaha tani terpadu juga erat kaitannya dengan pendekatan agrobisnis, karena untuk mencapai tujuan tersebut tidak terlepas dari aspek produksi, aspek pemasaran, aspek permodalan dan aspek kelembagaan yang dapat menjamin keberhasilan usaha tani. Dengan sistem usaha tani terpadu akan mampu meningkatkan usaha tani yang lebih aman resiko, yaitu melalui diversifikasi usaha tani, di mana semua ini merupakan kunci dalam meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat pedesaan, khususnya bagi masyarakat miskin. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 155-168 |
| Abstraksi Narasi | : | Indonesia sebagai negara berkembang memiliki permasalahan kemiskinan seperti halnya yang dialami negara-negara berkembang lainnya. Apalagi mengingat bangsa Indonesia termasuk bangsa yang heterogen, baik adat, suku, warna daerah, bahasa, agama, dan budayanya. Melihat kondisi ini pengentasan kemiskinan tidak bisa hanya didekati dari sudut pandang ekonomi, tetapi juga harus ditinjau dari sudut pandang lain, seperti sosial-budaya dan politik. Pada tulisan ini penulis mencoba memfokuskan diri pada sudut pandang sosial-budaya, khususnya nilai-nilai budaya (tradisi subkultural) yang menjadi acuan hidup dan kehidupan masyarakat dalam novel-novel Indonesia yang menghambat pembangunan, khususnya dalam soal pengentasan kemiskinan. Dengan kata lain, tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui tradisi subkultural yang dianut masyarakat didalam novel-novel Indonesia yang membawa masyarakatnya, baik individu maupun kelompok, pada kemiskinan dan keterbelakangan yang berkepanjangan. Adapun novel-novel Indonesia yang menjadi obyek kajiannya, karena novel sebagai bagian dari karya sastra dijadikan cermin realitas sosial-budaya masyarakatnya. Cerminan ini harus disikapi melalui tataran imajiner. Novel-novel Indonesia ini sebagai populasi. Sampelnya adalah `Orang Buangan` karya Haryadi S. Hartowardojo. `Kemarau` karya AA. Navis, `Trilogi Dukuh Paruk` yang terdiri tiga novel (`Ronggeng Dukuh Paruk`, `Lintang Kemukus Dini Hari`, dan `Jendral Bianglala`) karya Ahmad Tobari, `Bekisar Merah` juga karya Ahmad Tobari. Alasan pengambilan sampel tersebut adalah karena novel-novel tersebutlah yang langsung berbicara tentang tradisi subkultural dan kemiskinan sepanjang penulis ketahui. Dengan demikian, pengambilan sampel ini dilakukan melalui purposive sampling. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa tradisi subkultur merupakan suatu kekuatan abstrak yang hidup dalam alam pikiran warga masyarakat pedesaan yang digambarkan di dalam novel-novel tersebut. Kekuatan ini telah mendarah daging, sehingga memiliki pengaruh besar terhadap kelakuan manusia. Namun, karena keabstrakannya itulah (tanpa didasarkan rasionalitas serta harus diterima apa adanya), tradisi subkultural kebanyakan malah membawa masyarakatnya pada kemiskinan dan keterbelakangan yang berkepanjangan. Tradisi subkultural tersebut meliputi kepercayaan pada tahayul yang begitu kuat; penyelarasan dengan alam tanpa mau memanfaatkan alam secara aktif; pengkultusan terhadap individu, sehingga tidak mau menghargai pendapat orang lain; selalu memegang teguh tradisi turun-temurun sekalipun merugikan sikap `nrimo` sebelum berupaya secara maksimal: pola pikir irasional: sikap curiga tanpa dasar yang kuat: kurangnya orientasi hidup ke masa depan: dan pemahaman keagamaan yang sempit. sehingga agama malah menjadi penghambat kehidupan. |