Pencarian Artikel Jurnal & Majalah

Menampilkan keseluruhan arsip dokumen (Halaman 33240 dari 34189, Total: 341888 data)

Teknik Tanam-Gilir Pada Lahan Pertanian Miskin Air

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 125-135
Abstraksi Narasi : Hasil pertanian merupakan penghasilan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Kecilnya hasil pertanian dapat mendorong terciptanya masyarakat miskin. Lahan kering merupakan salah satu faktor penyebab kecilnya hasil pertanian. Daerah Gunungkidul merupakan salah satu contoh daerah kering, yang banyak terdapat desa miskin. Kondisi tanah berbukit kapur dan sedikit air, memerlukan penanganan khusu agar hasil pertaniannya meningkat. Dengan demikian dapat menekan adanya desa miskin. Salah satu alternatif optimalisasi fungsi lahan adalah dengan meningkatkan optimalisasi pemanfaatan air di musim hujan dengan teknik tanam gilir dalam sistem tupangsari. Dalam teknik ini pemilihan jenis tanaman dan waktu tanam diupayakan memanfaatkan lereng bukit kapur dengan tanaman penahan erosi, pelapuk batuan, sekaligus produktif.

Sosialisasi Etos Kerja Modern Dalam Pengentasan Kemiskinan

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 71-80
Abstraksi Narasi : Usaha pengentasan kemiskinan telah dicanangkan oleh pemerintah dengan program Inpres Desa Tertinggal. Program ini berusaha untuk mengatasi masalah kemiskinan yang terutama menjadi ciri negara berkembang. Untu program pengentasan kemiskinan ini pemerintah telah mengeluarkan dana yang besar yang dialokasikan ke desa-desa miskin (tertinggal) dalam bentuk mpdal kerja. Untuk keberhasilan program IDT tersebut harus juga diperhatikan masalah etos kerja masyarakat Indonesia terutama yang tinggal di daerah tertinggal. Etos kerja masyarakat Indonesia di desa masih banyak berorientasi pada etos kerja petani. Dalam era industrialisasi maka etos kerja modern perlu dilakukan aga membudaya di dalam masyarakat. Sosialisasi etos kerja modern didaerah tertinggal dapat dilakukan oleh pemerintah dan didukung partisapasi masyarakat. Sasaran pertama adalah individu-individu yang termasuk di dalam kelompok kerja (pokja) desa tertinggal.

Perang Melawan Kemiskinan Dalam Karya Sastra Tinjauan Aspek Permasalahan Dalam Novel Burung-burung Rantau Karya Y.B. Mangunwijaya

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 195-210
Abstraksi Narasi : Kemiskinan merupakan problem yang harus diatasi oleh setiap bangsa yang sedang membangun. Hal ini karena keberhasilan pembangunan suatu bangsa sering dilihat dari seberapa jauh kondisi kemiskinannya dapat diatasi. Bagi bangsa Indonesia perang melawan kemiskinan merupakan program yang digalakkan dalam rencana Pembangunan Nasional Jangka Panjang dua puluh lima tahun pertama (1969-1994). Berbagai usaha ditempuh untuk melawan kemiskinan, baik dalam usaha konkret melalui aktivitas Departemen Sosial, Inpres Desa Tertinggal, Lembaga Swadaya Masyarakat, maupun usaha konseptual dalam seminar strategi pemberantasan kemiskinan. Perang melawan kemiskinan di Indonesia juga digambarkan dalam karya sastra Indonesia. Salah satu karya sastra yang mengangkat masalah kemiskinan dan contoh upaya penanggulannya adalah novel Burung-burung Rantau karya Y.B. Mangunwijaya. Dalam novel Burung-burung Rantau antara lain digambarkan keadaan masyarakat miskin yang hidup di kawasan tak layak huni di lembah Sungai Ciliwung, Jakarta dan di India, dengan menampilkan tokoh-tokoh yang berupaya mengentaskan mereka dari lembah kemiskinan. Tokoh Marineti, digambarkan sebagai anak seorang Letnan Jendral yang berjuang membina pendidikan anak-anak miskin-miskin di lembah Ciliwung, sementara Gandhi di India bekerja keras melakukan penelitian dan percobaan bioteknologi padi gogo berkualitas unggul untuk memerangi kemiskinan bangsanya dan umat manusia bangsa lain. Digambarkannya masalah kemiskinan dan contoh penanganannya dalam novel tersebut menunjukkan bahwa karya sastra tidak lahir dari kekosongan, baik dalam hubungannya dengan realitas sosial budaya, maupun pengarangnya.

Peranan Teknologi Tepat Guna Dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan Di Desa-desa Tertinggal

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 105-114
Abstraksi Narasi : Pada saat mengahiri PJP I, Bangsa Indonesia bersepakat untuk menetapkan PJP II sebagai tahap tinggal landas menuju negara industri. Berpijak dari pengalaman selama melakukan industrialisasi pada PJP I yang lalu, ternyata belum bisa melibatkan masyarakat lapisan bawah. Hal ini terbukti dengan kecilnya sektor industri dalam menyerap angkatan kerja yaitu baru sekitar 11,4% dari 78,5118 juta angkatan kerja. Padahal kontribusi sektor industri manufaktur pada Produk Domestik Bruto (PDB) telah mencapai 22% di tahun 1992. Dengan demikian walaupun kenaikan pendapatan dari sektor industri manufaktur cukup tinggi belum mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk. Sementara itu sektor pertanian masih memikul beban terberat dalam menampung angkatan kerja yaitu 53,7%. Karena kecilnya mutasi angkatan kerja dari sektor pertanian ke sektor-sektor yang lain tidak sebanding dengan ekstensifikasi lahan menyebabkan guremisasi tidak terhindarkan. Dan hal ini berakibat semakin miskinnya masyarakat petani di daerah pedesaan. Oleh karena itu dibutuhkan strategi kebijakan yang tepat dalam mengatasi kemiskinan di desa-desa tertinggal, dimana jumlahnya 20.633 atau 1/3 dari jumlah desa yang ada. Pendekatan yang tepat untuk mengatasi permasalahan di atas adalah dengan melakukan industrialisasi di pedesaan. Di mana modal, managemen dan teknologi dibawa ke pedesaan untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk-produk yang bernilai tinggi. Salah satu kendala dari industrialisasi di pedesaan ini adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia atau tenaga kerja yang tersedia di pedesaan. Hal ini menuntut industrialisasi di pedesaan harus menerapkan bentuk teknologi yang tepat guna, sehingga masyarakat setempat dapat berperan aktif di dalamnya. Dalam hal penyebaran dan pengembangan bentuk-bentuk teknologi tepat guna ini, peran dari perguruan tinggi sangat dibutuhkan. Dengan pola pendekatan semacam ini diharapkan masyarakat petani dapat menikmati nilai tambah dari hasil pertanian mereka. Pada giliran selanjutnya mampu mengentaskan kemiskinan mereka dan mensejajarkan desa-desa mereka dengan desa-desa yang telah lebih dahulu maju.

Peningkatan Penerapan Agro-Bisnis Sebagai Sumber Belajar Biologi Di Sekolah Lanjutan

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 137-145
Abstraksi Narasi : Dunia pendidikan memiliki peranan sangat penting dalam pengentasan kemiskinan yang berkaitan dengan pengangguran. Salah satu peran tersebut adalah melalui penerapan kurikulum yang memiliki manfaat ganda yakni sebagai media pembelajaran dan bekal ketrampilan. Obyek persoalan biologi sangat luas dan banyak terdapat disekitar kita. Akan tetapi untuk dapat dijadikan sebagai sumber belajar biologi harus memperhatikan syarat-syarat tertentu. Juga akan memiliki nilai tambah jika kurikulum tersebut memperhatikan potensi dan keunggulan suatu daerah. Agro-bisnis sebagai salah satu pola pertanian terpadu yang dapat memberikan banyak manfaat dan harapan bagi kesejahteraan masyarakat petani dapat diangkat menjadi sumber belajar biologi di sekolah lanjutan. Tentunya setelah melewati penelitian-penelitian kemudian seleksi dan organisasi untuk sumber belajar biologi. Peningkatan penelitian penerapan agro-bisnis sebagai sumber belajar di Sekolah lanjutan akan diperoleh konsep biologi yang benar dan dapat sebagai alternatif dalam pengentasan kemiskinan khususnya masalah pengangguran terdidik.

Pengangguran Terdidik dan Beberapa Permasalahannya

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 49-59
Abstraksi Narasi : Keberhasilan pembangunan pendidikan di Indonesia telah secara nyata mampu meningkatkan pendidikan formal angkatan kerja Indonesia. Ini dapat diketahui dari semakin menurunnya angkatan kerja berpendidikan SD dan tidak tamat SD, yang diikuti dengan peningkatan angkatan kerja berpendidikan SMTA, dan Akademi atau Universitas. Peningkatan angkatan kerja dengan pendidikan formal tinggi, ternyata tidak dapat sepenuhnya diikuti oleh penyerapan angkatan kerja dengan pengetahuan dan ketrampilan tinggi, akibatnya sebagian angkatan kerja dengan pengetahuan dan ketrampilan tinggi, akibatnya sebagian angkatan kerja tersebut menjadi penganggur berpendidikan formal tinggi (penganggur terdidik). Jumlah penganggur terdidik ini dari tahun ke tahun menunjukkan angka yang terus meningkat. Pada tahun 1990, penganggur berpendidikan SMTA sebesar 41,12%, berpendidikan Akademi sebesar 3,28%, dan berpendidikan Universitas sebesar 3,58%. Penganggur terdidik yang jumlahnya menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat, apabila tidak segera dapat ditanggulangi akan menimbulkan berbagai masalah, misalnya terjadinya kerawanan sosial, terganggunya stabilitas politik, dan pemborosan sumber daya manusia.

Pendidikan Berorientasi Dunia Kerja: Prospek dan Masalahnya

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 1-10
Abstraksi Narasi : Pendidikan berorientasi dunia kerja sangat relevan dengan kebutuhan akan sumber daya manusia di Indonesia saat ini dan juga masa yang akan datang. Jika pendidkan berjalan begitu saja tanpa mengorientasikan dirinya pada dunia kerja, pengangguran terdidik akan semakin membengkak. Dari segi model perencanaan, pendidikan yang berorientasi pada dunia kerja dapat dirancang sesuai dengan pendekatan needs for national development dan employment generation. Pendekatan perencanaan itu masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan. Model perencanaan manapun yang diambil harus melahirkan sistem dan praktek pendidikan yang mampu membentuk unggulan komperatif dan unggulan kompetitif secara global pada semua peserta didik agar mereka, sebagai sumber daya manusia, dapat bersaing dalam pasar global kerja.

Pendidikan Bahasa Inggris Ilmiah Berorientasi Dunia Kerja Akademik

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 219-227
Abstraksi Narasi : Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) memacu kemajuan pembangunan di segala bidang. Penyerapan Iptek sendiri akan lebih mudah dicapai bila dilakukan dengan bermodalkan kemampuan berbahasa Inggris. Bahasa Inggris memungkinkan keberhasilan usaha mencerdaskan bangsa Indonesia. Bangsa yang cerdas akan mampu mengentaskan kemiskinan dengan pikiran dan caranya sendiri. Bahasa Inggris yang dimaksud disini adalah bahasa Inggris ilmiah penunjang penyerapan Iptek. Macam bahasa Inggris itu disebutkan English for Special Purpose khususnya English for Science and Technology (EST). Dunia kerja akademik hampir selalu bergelut dengan pengkajian dan penimbaan Iptek yang sangat diperlukan dalam pembangunan yang sudah, sedang, dan akan terus digalakkan, terutama pada PJP II Indonesia sekarang ini. Dalam era globalisasi yang makin nyata, kaitan erat antara EST dengan dunia kerja akademik tak perlu diragukan. Dengan tetap memegang teguh bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi bangsa Indonesia, mempercepat penguasaan Iptek yang makin canggih. Pendidikan bahasa Inggris ilmiah berorientasi kepada dunia kerja akademik menjadi penting demi pemenuhan kebutuhan sarana penyerapan Iptek. Dalam taraf dan volume yang proposional, pendidikan EST dapat dimulai di sekolah menengah, khususnya SMA kelas III yang kebanyakan terarah pada dunia studi Iptek. Mahasiswa calon pemegang profesi guru bahasa Inggris pun perlu dipersiapkan ke araf serupa.

Pendekatan Terpadu Pengembangan Sumber Daya Manusia di Indonesia

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 23-38
Abstraksi Narasi : Sunber daya manusia merupakan modal dasar pembangunan dan pelaku pembangunan. Sumber daya manusia dapat dilihat dari segi kuantitas dan kualitas. Kuatitas SDM dapat digambarkan dari aspek demografi, sedang kualitas SDM dapat dicerminkan dari aspek sosial ekonomi. Sasaran PJPT II adalah meningkatkan kualitas SDM. Arah pengembangan SDM harus memperhatikan potensi manusiawi menuju sumber daya manusia yang memiliki kemampuan, dan penggunaan secara produktif. Pendekatan terpadu dalam pengembangan SDM mencakup proses interaktif antara demografi dan sistem sosial ekonomik, artinya sesuai dengan program, kebijakan, pengembangan strategi peluang kerja, dan perencanaan tenaga kerja dalam perencanaan pembangunan. Ada tidga masalah pokok yang perlu dicermati pada pendekatan yang terpadu yaitu masalah ketersediaan SDM, produktivitas kerja dan tenaga kerja. Pola integrasi pengendalian SDM dan pengembangan SDM ke dalam penggunaan SDM perlu diterapkan dalam pendekatan ini. Ketersediaan SDM dapat dipahami dengan melihat keseimbangan antara permintaan dan pasokan tenaga kerja. Produktivitas kerja dapat dicapai dengan menciptakan budaya kerja untuk menjadikan individu menjadi manusia-manusia produktif. Sistem lingkungan kerja dan sistem masyarakat ikut menentukan produktivitas kerja yang akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Sektor Pendidikan, Ketenagakerjaan, Industri, Pertanian, Informal, Kesehatan, Perdagangan, Pariwisata, Perhubungan dan Telekomunikasi dan sektor lainnya merupakan faktor pendukung pengembangan SDM di Indonesia. Keberhasilan dalam melakukan pendekatan terpadu dalam merencanakan pengembangan SDM, memberikan sumbangan yang sangat penting dalam mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia. Karena salah satu penyebab kemiskinan adalah masih rendahnya kualitas sumber daya manusianya.

Pemanfaatan Listrik Tenaga Surya Untuk Memajukan Daerah Terpencil

Nama Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : -
Volume / Nomor Edisi : -
Nomor Halaman : 115-123
Abstraksi Narasi : Daerah-daerah terpencil di Indonesia memiliki potensi sinar matahari (surya) yang besar. Dengan menggunakan modul fotovoltaik. Potensi tersebut dapat diubah menjadi tenaga listrik. Agar tenaga listrik yang dihasilkan dapat dinikmati secara terus-menerus meskipun mendung, hujan maupun malam maka diperlukan peralatan tambahan berupa aki dan alat pengatur. Rangkaian peralatan tersebut membentuk suatu unit Listrik Tenaga Surya (LTS). Keuntungan sistem LTS antara lain perawatannya relatif sederhana dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Hadirnya LTS di daerah terpencil memberikan peluang bagi masyarakat untuk menikmati siaran televisi, penerangan rumah, penunjang kegiatan laboratorium sekolah, puskesmas dan tempat ibadah. Di samping itu dapat memberi peluang bagi masyarakat untuk berwiraswasta dengan memanfaatkan tenaga listrik misalnya penetasan telur, pengaduk adonan roti, pemarut kelapa dan usaha penjualan jasa lainnya. Hal tersebut pada gilirannya akan dapat memajukan dan memakmurkan masyarakat daerah terpencil.
← Kembali ke Halaman Utama