| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 93-103 |
| Abstraksi Narasi | : | Bangsa Indonesia yang telah menyelesaikan Program Pembangunan Jangka Panjang Pertama (PJP I) dan kini memasuki program PJP II yaitu tahap era tinggal landas, masih dihadapkan pada jumlah penduduk miskin yang cukup besar yaitu sekitar 27.2 juta atau 15% dari jumlah penduduk Indonesia. Upaya-upaya untuk mengentaskan penduduk dari kemiskinan memperoleh sambutan menggembirakan dari seluruh lapisan masyarakat. Bahkan pemerintah dalam Repelita VI telah memancangkan program khusus yaitu Inpres Desa Tertinggal (IDT) untuk pengentasan kemiskinan di 20.633 desa miskin. Pendekatan lain yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat adalah melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khusus IPTEK PEDESAAN, sehingga keterbatasan faktor produksi yang menjadi penyebab kemiskinan dapat diatasi. Bioteknologi sebagai bagian dari IPTEK dewasa ini dianggap dapat membantu memecahkan masalah kemiskinan. Bioteknologi telah berperan dalam pengentasan kemiskinan penduduk pedesaan di negara-negara Cina, India, yang sebagian besar penduduknya hidup di pedesaan. Penerapan bioteknologi di Indonesia seperti dalam bidang kesehatan, pertanian dan perkebunan, bioindustri, telah ikut memberi andil dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat walapun belum merata dirasakan oleh penduduk secara menyeluruh. Beberapa contoh bioteknologi yang dapat diterapkan di daerah pedesaan diantaranya makanan hasil fermentasi tradisional, budidaya jamur, nata dan coco, yoghurt dan kefir, biofertilizer, dan kompos. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 181-193 |
| Abstraksi Narasi | : | Kemiskinan adalah persoalan mendasar kehidupan manusia. Persoalan yang kadang-kadang sampai memuncak ke tingkat tidak menyenangkan. Bahkan seringkali menimbulkan permasalahan-permasalahan rumit yang membutuhkan pemecahan. Sebab-musabab terjadinya tragedi kemiskinan dapat dipengaruhi oleh sistem nilai yang dipergunakan oleh masyarakat yang bersangkutan. Maka, untuk pengentasan masalah tersebut dibutuhkan sistem nilai lain yang dapat memberikan arah dan mengubah cara hidup mereka. Sastra lisan (folklore), khususnya genre parikan dapat menjadi salah satu alternatif wahana manifestasi nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai yang terkandung dalam parikan, ternyata dapat dimanfaatkan sebagai wahana pengentasan kemiskinan. Nilai tersebut menyangkut masalah fungsi dan cara. Fungsi parikan dalam hal ini meliputi: (1) sebagai pengungkapan rasa miskin, (2) sebagai ungkapan tekanan batin, (3) sebagai ungkapan gagasan dan keyakinan, (4) sebagai kontrol sosial, (5) sebagai ungkapan minta tolong, dan (6) sebagai sindiran. Cara pengentasan kemiskinan yang terpantul dalam parikan, yakni dengan jalan: (1) ABRI masuk desa, (2) perlu bapak angkat, (3) bertekad transmigrasi, (4) pemanfaatan koperasi, (5) agar giat membangun, (6) emansipasi wanita, (7) berantas kebodohan, dan (8) mau kerja sembarang. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 169-179 |
| Abstraksi Narasi | : | Dewasa ini perkembangan fungsi dan manfaat olahraga, tidak hanya terbatas untuk kesehatan, rekreasi dan pendidikan semata, tetapi memiliki dimensi begitu luas. Olahraga memberikan kesempatan dan nilai kepada setiap orang untuk melakukan mobilitas sosial dalam struktur kehidupan masyarakat. Di negara-negara maju olahraga dapat dijadikan sebagai jalur peningkatan status sosial ekonomi masyarkatnya. Hasil penelitian Reeve (Rusli Luttab, 1991:16) menjelaskan bahwa olahraga dan rekreasi menjadi faktor penting dalam ekonomi Amerika. Di Indonesia kondisi ini belum dapat diwujudkan, karena kegiatan olahraga belum merupakan kegiatan bisnis yang menghasilkan banyak dana. Selain itu struktur dan sistem imbalan di masyarakat kita masih belum menunjang keberadaan para olahragawan, pelatih dan juga mereka yang melibatkan diri didalamnya. Ada dua faktor yang diduga menghambat jalur olahraga sebagai wahana peningkatan status sosial ekonomi masyarakat. Pertama belum terciptanya lingkungan olahraga yang terpadu dan kedua adanya iklim birokrat yang muncul di lingkungan kita dewasa ini. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 61-69 |
| Abstraksi Narasi | : | Model pendidikan merupakan suatu keterkaitan antara kegiatan pendidikan dengan kegiatan masyarakat sebagai konsumen output pendidikan. Suatu model pendidikan diterapkan dapat dipengaruhi oleh kuat lemahnya masyarakat sebagai pengguna jasa output pendidikan. Model pendidikan yang berorientasi pada kepentingan ekonomi, kegiatan pendidikan selalu dikaitkan dengan produksi. Oleh karenanya keberhasilan pendidikan yang dilaksanakan diukur oleh potensi produksi yang dimiliki output pendidikan yang dihasilkan. Model pendidikan ini ternyata kurang menguntungkan pada masyarakat (desa) yang jauh dari kota pusat industri. Sebab pada negara yang belum maju dan dengan jumlah penduduk yang besar menimbulkan masalah baru yang berupa pengangguran dan pengentasan masyarakat desa dari kemiskinan relatif lamban. Dengan permalasahan penggangguran dan kemiskinan yang diakibatkan oleh penerapan model pendidikan yang didominasi kepentingan ekonomi tersebut perlu dikurangi dan beralih kepada model pendidikan yang mampu mengikis pengangguran dan mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. Model pendidikan yang dimaksudkan adalah pendidikan kedesaan, yaitu pendidikan yang menggarap dan mengembangkan masyarakat desa, pendidikan yang berbasis dan berorientasi pada masyarakat desa. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 11-21 |
| Abstraksi Narasi | : | "The individual ho grows up in the slum cultur has a strong feeling of fatalism, helpeness, dependence and inferioity....." Oscar Lewis. Hasil perenungan dengan didukung beberapa literatur yang tertuang dalam penulisan ini pada asasnya adalah sebuah studi tentang kondisi, aktivitas dengan segala permasalahannya (termasuk permasalahan pendidikan) beberapa kelompok masyarakat rawan yang utamanya bermukim di daerah perkotaan, umumnya tersembunyi dari penglihatan dan perhatian para pembuat kebijakan serta para perencana pembangunan, kelompok-kelompok marginal ini agaknya terabaikan. bahkan cenderung teranggap sebagai beban. Namun begitu bukan berarti mengabaikan keberadaannya. Salah satu upaya tersebut adalah melalui pendidikan khusus, di luar sistem persekolahan formal. Sistem pendidikan khusus tersebut utamanya dilakukan dengan mengklasifikasikan kelompok tersebut baik menurut umur, bakat atau minat yang barangkali dimilikinya. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 147-154 |
| Abstraksi Narasi | : | Kejahatan akhir-akhir ini menjadi masalah hangat yang dibicarakan setiap orang. Tidak sedikit yang menuding, kemiskinan material sebagai biang keladinya. Tetapi dalam kenyataan, banyak sekali kasus dari tindak kejahatan yang pelakunya justru orang-orang kaya, sehingga tidak bertaut sama sekali dengan kemiskinan tersebut. Untuk itu, perlu dilihat dari sisi lain, serta bagaimana cara yang dapat ditempuh untuk mengatasinya. Tulisan ini berupaya menyoroti kejahatan dari sisi spiritualitas yang difokuskan pada spirit iman, serta pengetahuannya. Kesimpulan yang diperoleh, kejahatan merupakan potret dari kemiskinan manusia terhadap iman. Adapun pengentasannya, dengan cara memperkaya iman melalui mujahadah, da`wah dan menciptakan suasana iman. Cara teresebut merupakan kerja praktis. Artinya, terjun secara langsung melakukan tindak kebajikan sesuai dengan norma, susila, dan agama melalui mujahadah, daw`wah, dan menciptakan suasana iman. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 203-210 |
| Abstraksi Narasi | : | Ada dimensi psikologis yang perlu dicermati dalam upaya pengentasan kemiskinan. Dimensi psikologis ini menjadi perlu mendapat penanganan serius sebab penelitian telah membuktikan bahwa kesulitan-kesulitan sosial termasuk kesulitan kaum miskin untuk mengembangkan dirinya ternyata ditemukan pula sepada aspek psikis, misalnya sikap malas, takut, jalan pintas, keluh kesah, kurang mampu bersaing dan kurang kreatif. Yang kesemua sikap ini bisa sebagai akibat mental disorder dan atau karena belum/tidak dikembangkan secara serasi. Sehingga sebagai langkah awal upaya pengentasan kemiskinan perlu di bina terlebih dahulu potensi psikisnya. Dan cara-cara yang bisa ditempuh bisa melalui jalur pendidikan formal, pembentukan kelompok-kelompok kajian bimbingan karir, dan cara yang murah dan efektif ialah dengan upaya pemahaman ibadah agar bisa diaktualisasikan dalam fungsi kehidupan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 39-48 |
| Abstraksi Narasi | : | - |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 139-146 |
| Abstraksi Narasi | : | Bahan pangan yang layak dkonsumsi mempunyai beberapa kriteria tertentu yang terpenting adalah: bebas dari bahan kimia beracun, bebas dari jasad renik patogen, bebas dari kontaminan, bebas dari pemalsuan, mempunyai nilai gizi tinggi, enak dan menarik serta tersedia dalam jumlah cukup. Kriteria tersebut merupakan kriteria untuk pemenuhan suatu kebutuhan bahan pangan. Pestisida banyak digunakan dibidang pertanian untuk memberantas atau mencegah hama dan penyakit tanaman sertaa hasil panennya, sehingga secara langsung maupun tidak langsung bahan pangan akan terkontaminasi oleh residu pestisida yang ditinggalkannya. Pestisida yang paling banyak digunakan adalah golongan organoklor, organofosfat dan karbamat. Upaya untuk mengurangi residu pestisida dapat dicapai dengan penanganan di lapangan dan pasca panen. Penanganan di lapangan meliputi; pemilihan jenis insektisida, dosis dan penggunaan secara tepat serta pengurangan frekuensi penyemprotan. Sedangkan penangan pansca panen terhadap bahan pangan sebelum dikonsumsi adalah: pencucian dengan air sampai bersih, perendaman dalam air panas dan pemasakan. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | - |
| Volume / Nomor Edisi | : | - |
| Nomor Halaman | : | 57-66 |
| Abstraksi Narasi | : | Arus globalisasi khususnya ekonomi dan perdagangan yang semakin menguat setelah diberlakukannya liberalisasi dunia tahun 2020, akan mendorong terjadinya kompetisi yang sangat tinggi dalam perekonomian global. Kompetisi ini terjadi terutama dalam hal mutu produk, tingkat efisiensi berproduksi, serta nilai kenyamanannya dalam penggunaan produk tersebut. Karena, kondisi demikian menuntut seperangkat daya dukung yang harus ada, berupa sarana infrastruktur ekonomi politik serta kualitas sumber daya manusia yang baik. Yakni kualitas sumberdaya manusia yang tidak saja meguasai ipteks dan kemampuan profesional di bidangnya, tetapi juga memiliki wawasan dan visi keunggulan. Kebutuhan akan sumber daya manusia dengan segenap kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya, memerlukan suatu formal pendidikan ke arah model pendidikan sekolah yang efektif, lebih jauh lagi sekolah unggul. Keunggulan ini mencakup: (a) Kemampuan unggul para lulusan yang dihasilkan, (b) sistem kelembagaan yang unggul pula, meliputi: struktur organisasi dan manajemen sekolah, iklim kelas dan sekolah, variasi dan keluasaan program pembelajaran, serta (c) peran serta atau dukungan orang tua murid dan masyarakat yang optimal. Dalam rangka untuk menghilangkan kesan elitis sekaligus untuk mereduksi munculnya pemerataan mutu sekolah. Sehingga konsep "unggul" (excellent) akan dimaknakan sebagai keunggulan yang diukur dengan kriteria tertentu, bukan lagi didasarkan atas kelebihannya dibanding sekolah-sekolah lain yang ada. Jadi ukurannya adalah "normatif" bukan lagi "relatif". Kesemuanya ini pada akhirnya secara komulatif akan menghasilkan lulusan yang secara strategis mendukung bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan tahun 2020. |