| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 12 (No. 64) |
| Nomor Halaman | : | 143-175 |
| Abstraksi Narasi | : | This paper tries to trace the contribution of Aceh in the development of Islamic law in Indonesia. So far the study on the early development of Islamic law is rarely carried out. The condition might be influenced by Scholars` statement that the school of thought that spread widely in Aceh was Shafi`yyah. The statement seems to be agreed since no study tries to trace the contribution of Aceh in the development of Islamic law in Indonesia. In this paper, the writer try to prove that Shafi`iyyah was not the only school spread in Aceh, but there was Shi`ite Islamic law in Aceh. After a deep study, begun with the discription of Islamic Law, then followed by the arrival of Islam in Aceh, the writer comes to a conclusion that Shi`i school came to Aceh before Shafi`i. Shafi`i school can and developed after the demolishment of Shi`i. This oppinion is supported by the traditions of Aceh that still go on. This is also supported by the lineage of Perlak Sultans. Meanwhile, the writer is involved in the polemic on the existence of Shi`ite in Indonesia. The polemic was raised by Azyumardi Azra with his statement that there was no Shi`it`s influence in Aceh. let alone in Nusantara during 9th century. Azra`s opinion could be caused by his fear of local historiography. He said that local historiography is difficult to encounter other sources and historical development. In this paper, the writer encounters Azra`s opinion using the book "Tazbira Tabagat Sultan as-Salatin. The explains clearly the date of crowning Perlak`s Sultans. Furthermore, the writer found that perlaks Sultans were the decendants of Shi`ites. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 12 (No. 64) |
| Nomor Halaman | : | 39-62 |
| Abstraksi Narasi | : | Persatuan Islam, secara umum dikenal sebagai organisasi yang cukup berpengaruh dalam tulisan keislaman di Indonesia pada awal abad kedua puluh. Meskipun tidak banyak menaruh perhatian dalam bidang politik, namun ide-idenya yang modern dan fundamentalistis serta ideologinya yang murni mampu dianggap sebagai warisan yang penting dalam membentuk identitas Islam di Asia Tenggara. Organisasi yang dilahirkan oleh sekelompok cendekiawan Muslim di Bandung pada tahun 1923 mempunyai sistem pengajaran yang berbeda dari sistem yang banyak berlaku pada saat itu. Jika para ulama tradisionalis (kyai) menerapkan sistem pengajaran dengan pendekatan guru-murid, maka Persis menggunakan sistem klasikal. Berkaitan dengan materi yang diajarkan, 75% adalah pelajaran agama dan 25% untuk pelajaran umum, khususnya dikelas-kelas dasar, adapun untuk kelas-kelas diatasnya perbandingannya adalah 50 : 50. Sebagai organisasi Islam Persis mempunyai prinsip "memajukan Islam dengan berdasar pada al-Qur`an dan al-Hadis". para tokohnya menganggap diri mereka sebagai ulama baru yang berusaha membersihkan agama dari segala bid`ah, serta mengadaptasikan prinsip-prinsip agama pada kondisi kontemporer. Untuk menyebarkan ajaran-ajarannya digunakan majalah disamping sarana-sarana yang lain. Ada empat majalah yang diterbitkan antara tahun 1929-1941 yaitu: Pembela Islam, al-Lisan, al-Fatwa dan al-Taqwa. Gerakan yang telah dilakukan Persis ini dapat disejajarkan dengan apa yang telah dilakukan oleh para pembaharu yang lain semisal al-Afghani, abduh dan Rasyid Rida. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 12 (No. 64) |
| Nomor Halaman | : | 1-23 |
| Abstraksi Narasi | : | Makalah ini menyoroti perkembangan politik Islam di Indonesia akhir-akhir ini. Untuk itu, penulis menguraikan asal mula masuknya Islam ke Indonesia menurut berbagai versi. Selain itu, doktrin teologi Sunni dan struktur sosial di Indonesia juga ikut mempengaruhi pemikiran politik Islam Indonesia. Dalam masyarakat Sunni, ulama berfungsi hanya sebagai patron nasehat dan teladannya meskipun perlu diikuti tetapi bukan dipandang sebagai kewajiban agama. Indonesia mengalami tepaan gelombang berbagai ideologi politik. Pada abad ke-19, memang bendera Islam menjadi inspirasi perjuangan bangsa Indonesia melawan para penguasa kafir. Namun, muncul ideologi nasionalisme yang memicu perdebatan dan pertentangan antara umat Islam "santri" dan "abangan". Di era Orde Lama, ideologi komunis mengalami puncak kejayaan yang kemudian hancur lebur seiring dengan kemunculan Orde Baru yang kemudian juga memarjinalkan ideologi politik Islam. Dengan runtuhnya rezim Soeharto, kebebasan dibuka kembali sehingga muncul romantisme untuk menghidupkan kembali partai-partai yang pernah aktif dimasa Orde Lama termasuk partai-partai Islam. Umat Islam yang berusaha menghidupkan kembali politik Islam pada pemilu 1955 mempunyai resiko dan bisa kontra-produktif. Masyarakat MuslimIndonesia telah berubah. Mereka kini berpendidikan lebih baik dan memahami hubungan antara Islam dan Nasionalisme dengan lebih kritis dan realitistis. Pada pemilu 7 Juni 1999, partai-partai Islam tidak mendapat suara mayoritas. Karena itu, pandangan lama bahwa umat Islam akan lebih baik jika dilayani oleh partai-partai Islam nampaknya telah runtuh. Setidaknya pada pemilu terakhir ini, kenyataan dan afiliasi agama tidak lagi menjadi pertimbangan utama pemilihan suatu partai. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 12 (No. 64) |
| Nomor Halaman | : | 120-142 |
| Abstraksi Narasi | : | The death of Jesus Christ and his raise have been sensitive and debatable themes of discussion among followers of Christianity and Islam. This is because both bible and Al-Qur`an do provide several verses mentioning the disputed affairs. Al-Qur`an considers Jesus as a respactable prophet and is endowed special quality. This special view of Islam, however, does not transfer him from his humanity to devinity. Jesus is a human and God`s messenger. Al-Qur`an also speaks about Jesus` death though in aquite ambigious manner. According to the writer, when Al-Qur`an explains about above matter it does not speak about historical event concerning his death. Rather, it shows God`s superiority over the Jew`s plan and claim on their success to crucivy Jesus. With regard to Jesus` raise, Al-Qur`an says, according to the writer`s interpretation, that its raise must be understood as the same idea as the victory of the Muslims over the unbelievers in Badar Battle. If does not mean that Jesus phisically raise and bring salvation to mankind. The victory gained by Jesus and Muhammad signifies God`s approval to believers. |
| Nama Pengarang | : | Sholeh, Muhammad |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 12 (No. 64) |
| Nomor Halaman | : | 24-38 |
| Abstraksi Narasi | : | "Civil Society" merupakan istilah yang sampai sekarang masih hangat diperdebatkan. Ada reaksi antara civil society dengan demokrasi, dalam hal ini berkaitan dengan pengertian demokrasi itu sendiri. Dalam hal ini, disamping uraian tentang apa "civil society" itu, yang lebih menarik adalah bantahan penulis terhadap tesis bahwa Islam tidak sesuai bahkan bertentangan dengan ide-ide demokrasi, dalam hal ini dengan civil society. Demokrasi hanya cocok untuk masyarakat Barat atau negara-negara Eropa dengan koloninya. Menurut penulis, pendapat ini muncul karena pandangan mereka yang monolitik dalam memahami Islam. Hal ini disebabkab oleh keterbatasan pengetahuan mereka tentang hakekat Islam yang sebenarnya. Sementara dalam pandangan penulis Islam adalah agama yang polyinterpretable. Dan yang pasti tidak ada diktum yang sah dan logis bahwa Islam bertentangan dengan sistem politik modern (demokrasi). Lalu bagaimana affinitas nilai-nilai Islam dengan ide tentang Civil Society. Dan bagaimana dengan Indonesia dengan situasi politiknya sendiri? Inilah hal-hal yang juga dicoba diuraikan dalam makalah ini. |
| Nama Pengarang | : | Sholeh, Muhammad |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 12 (No. 64) |
| Nomor Halaman | : | 203-217 |
| Abstraksi Narasi | : | There have been many Indonesia vocabularies coming from Arabic. They have developed morphologically and semantically whose meanings are different from the real meanings in Arabic. For Indonesian teachers, this fact creates difficulties in teaching Arabic, especially in reading comprehension and translations. This article is intended by the writer to explain how to understand Indonesian words absorbed from Arabic by using a contrastive approach, i.e. a linguistic approach aims at explaining the similarities and differences between two or more languages or dialect in phonologic, morphologic and semantic aspects. By using this approach, the writer tries to find a method to make the Arabic teaching and translations easy. By using a contrastive approach, the writer concludes that the semantic problems faced by Indonesian teachers lie in the fact that they should understand Arabic worlds from three aspects of meanings: basic material, morphological structure and context. By understanding the similarities and differences between Indonesian and Arabic vocabularies, the writer categorizes their meanings into three levels, the Arabic teaching, vocabularies and translations should be approached, in addition to understanding its internal and external context. |
| Nama Pengarang | : | Sugeng Sugiyono,Ahmad Satary Ismail,Effendy, Bahtiar,Syafa`atun Elmirzana,Syafa'atun Elmirzana,M. Atho Mudzhar,Howard M. Federspiel,Kamaruzzaman,Umar, Nasaruddin,Ismail, Faisal,Khuluq, Lathiful,Azra, Azyumardi,Sholeh, Muhammad |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 12 (No. 64) |
| Nomor Halaman | : | 218-244 |
| Abstraksi Narasi | : | Along with the rise of Feminism movement and the more growing conscious of gender inequality in the life of community, there also arises serious attenttion to the discourses regarded as having gender bias both in the usage of language terminology and structure. Arabic, like English and other languages, is regarded as very sexist language and tends to put feminine as second sex. Such controversial scholar as Nasr Hamid Abu Zaid shows that Arabic woman names such as Fatimatu, Ibrahimu and Zainabu are the same as `ajam (dumb) terms which cannot be changed (tasbrif or tanwin). Consequently, this terms lost their dynamism. This perspective is one of those which carry the sectarian ideology which degrades more and more the image of women. This writing describes new discourse that does not use "feminine language" (lugah unusah) in language discourse and transforms the "powerless language" into powerful language both in its terms abd structures so that it will be more egalitarian (nonsexist) and no bias language bias means that the language projects the image of men as being successful; whereas women as being unsuccessful. Meanwhile, Arabic has also feminine terms which describe the glory and greatness such as insaniyah, `adalah, `aulamah and malaikah. Although Arabic is sexist, al-Qur`an implements it so sophisticatedly that tends to be neutral. For example, there are many masculine verbs (af`al) in the Qur`an which are transformed into feminine. |
| Nama Pengarang | : | Siti Syamsiyatun |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 12 (No. 62) |
| Nomor Halaman | : | 33-53 |
| Abstraksi Narasi | : | Tulisan ini mencoba mengelaborasi muhaddathun yang dipahami dalam lingkungan Shi`i dan Sunni. Muhaddathun sesungguhnya merupakan konsep yang tidak dapat dipisahkan dari konsep tentang nubuwwah (kenabian, prophethood) dan risalah (kerasulan, messengership). Dua karya, yaitu Kitab al-Usul min al-Kulayni dan Kitab Sirat al-Awliya` oleh Mohammad bin Ali bin al-Hsan al Tirmidhi yang merupakan seorang teosof Sunni awal, menjadi sumber utama dalam makalah ini. Kedua karya tersebut meneyepakati bahwa muhaddathun menunjuk kepada awliya` (saints, friends of God), yang mendengar ucapan ilahiah dan mendapat inspirasi dari-Nya, walaupun tanpa melihat malaikat. Muhaddathun diberkati dengan kualitas dan kemampuan khusus (keramat) serta pengetahuan ilahiah (divine knowledge ma`rifah) sehingga mereka dapat melaksanakan tugas mereka untuk menjaga hukum Tuhan dan Sunnah NAbi. Namun demikian, Shi`i dan Sunni, sebagaimana disebutkan dalam dua buku diatas, berbeda pendapat mengenai "siapa" sebenarnya yang disebut muhaddathun tersebut. Kaum Shi`i berpendapat bahwa istilah muhaddathun tidak harus selalu merujuk kepada Imam kaum Shi`i, tetapi mereka adalah para awliya` (walaya holders). |
| Nama Pengarang | : | Yusuf Rahman |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 12 (No. 62) |
| Nomor Halaman | : | 1-13 |
| Abstraksi Narasi | : | Hermeneutika Henry Corbin tumbuh dari pemahamannya atas filsafat Barat, khususnya pemikiran metafisika Heidegger. Tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, Corbin lebih tertarik kepada filsafat Timur dan metranformasikan hermeneutika Heidegger ke dalam hermeneutika spiritual. Postulat pertama dari "interpretasi spiritual" (spiritual interpretation, hermeneutique esoterique, atau ta`wil) ini adalah kepercayaan bahwa dalam segala sesuatu yang nyata (zahir) terdapat sesuatu yang tersembunyi dan bersifat spiritual (batin). Begitu pula, agama memiliki dua aspek, yaitu zahir dan batin. Corbin menegaskan bahwa untuk melacak makna yang benar dan tersembunyi dari agama ini hanya dapat dilakukan dengan cara ta`wil. Penting untuk digaris bawahi bahwa interpretasi spiritual bukan merupakan interpretasi alegoris. Dalam pemahaman Corbin, alegori merupakan representasi artifisial dari abstraksi-abstraksi yang dapat diekspresikan dengan cara-cara lain. Sedangan simbol merupakan satu-satunya ekspresi yang mungki bagi yang disimbolkan. Interpretasi yang membawa aspek-asoek dari agama ini kepada aspek asoteriknya, oleh Corbin disebut "fenomenologi". Fenomenologi ini berarti "menyingkap penutup" atau kashf al-mahjub, yang tidak memiliki hubungan dengan aliran fenomenologi di Barat. Fenomenologi inilah yang merupakan metode interpretasi Corbin. Dengan metode ini ia ingin menolak historisisme yang mereduksi peristiwa-peristiwa sejarah kedalam waktu historisnya dan menjelaskan peristiwa tersebut sebagai produk keadaaan atau lingkungannya. |
| Nama Pengarang | : | Asep Saepudin Jahar |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 12 (No. 62) |
| Nomor Halaman | : | 54-70 |
| Abstraksi Narasi | : | Dalam pemikiran ekonomi Islam, riba merupakan salah satu persoalan yang masih menjadi perdebatan. Hal ini mengingat Al-Qur`an, ketika merespon praktek riba yang terjadi pada masa jahiliyah, dengan tegas melarangnya. Sementara pada era sekarang, banyak orang melakukan transaksi pinjam-meminjam yang diduga juga mengandung unsur riba (interest). Persoalannya, apakah larangan riba sebagaimana ditegaskan Al-Qur`an juga berlaku untuk semua transaksi pinjam-meminjam uang dimana peminjam berkewajiban memberi nilai tambah dari nilai semula kepada pemberi pinjaman? Bagaimana dengan berbagai transaksi yang dipandang juga mengandung riba, seperti bunga bank, jual beli mata uang atau bahkan pembelian barang dengan sistem kredit (angsuran) ? Tulisan ini mencoba memaparkan pandangan Muhammad Rasyid Ridha mengenai riba dengan argumen-argumennya, baik yang rasional maupun tekstual, dan bagaimana relevansinya dengan situasi kontemporer. Setelah menjelaskan makna riba dalam Al-Qur`an, Al-Hadis dan berbagai pandangan yang dikemukakan para ulama`, termasuk Rasyid Ridha sendiri, akhirnya penulis berkesimpulan bahwa konsep Rasyid Ridha tentang riba dipandang relevan dan dapat diterapkan pada era sekarang. |