Pencarian Artikel Jurnal & Majalah

Menampilkan keseluruhan arsip dokumen (Halaman 34165 dari 34180, Total: 341797 data)

The taj al-Salatin and Acehnese history

Nama Pengarang : Amirul Hadi
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 42 (No. 2)
Nomor Halaman : 257 - 293
Abstraksi Narasi : Cermin raja-raja (Mirrors for princes) merupakan salah satu jenis karya terpenting di dunia Islam. Jenis karya ini berbicara mengenai etika pemerintahan yang Islami yang dimaksud sebagai pegangan bagi para penguasa. Dengan demikian ia berbentuk ideal dan didaktik. Seiring dengan berkembangnya Islam ke berbagai penjuru, jenis karya ini juga menunjukkan perkembangan yang variatif sesuai dengan kondisi dan kebutuhan setempat. Taj al-Salatin merupakan suatu varian jenis karya ini yang melibatkan warna Asia Tenggara. Ditulis di Aceh pada tahun 1603, karya ini merefleksikan kondisi sosial, politik, trend agama dan intelektual pada masanya. Yang menarik dari karya ini adalah ia tidak hanya berbentuk ideal dan didaktik, akan tetapi juga menyentuh berbagai persoalan legal keagamaan dan politik yang relevan di kerajaan Aceh abad 17. Di sinilah peran signifikan Taj al-Salatin dalam membantu sejarawan mewujudkan rekonstruksi sejarah Aceh abad ke 17 secara komprehensif. Meskipun ia tidak menawarkan peristiwa-peristiwa historis, namun karya ini sarat dengan konsep dan pandangan dunia yang melatarbelakangi berbagai perilaku dalam sejarah, khususnya Aceh.

Ta`limu al-Maharat al-Qur`aniyyah

Nama Pengarang : Ahmad Suyuti Anshori
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 42 (No. 2)
Nomor Halaman : 429 - 464
Abstraksi Narasi : Al-Quran adalah mukjizat terbesar dari Nabi Muhammad saw. kitab ini benar-benar suci, jauh dari distorsi seperti yang dialami oleh kitab-kitab suci yang lain. Kitab ini adalah kitab sumber yang paling autentik dalam sejarah peradaban manusia sehingga sampai sekarang belum ada seorang sarjana atau ahli bahasa yang dapat meniru keindahan bahasa dan kepadatan isinya. Al-quran sebagai sumber berbahasa Arab telah banyak memberikan sumbangan yang sangat berarti terhadap bahasa Arab. Dari kitab inilah bahasa Arab mendapat jaminan keabadiannya. Berkat kitab ini pulalah umat Arab menjadi satu suku bangsa, dan umat Islam bisa menggali banyak ilmu pengetahuan. oleh karena itulah, Al-quran menjadi titik sentral pandangan umat Islam dari sejak zaman Nabi sampai sekarang. Para ulama, peneliti dan penulis banyak memusatkan perhatian mereka terhadap kitab ini, mulai dari cara membaca, menulis, menglafal, menafsirkan, mengkaji kemukjizatannya dan lain-lain. Tulisan ini mencoba mengangkat cara pengajaran skil ke Al-Quran an, mulai dari keterampilan mendengar, menulis, membaca dan menghafalkannya dalam hubungannya dengan berbagai teori-teori pendidikan.

Religion : An Ambiguous and Questionable Concept

Nama Pengarang : Djam'annuri
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 42 (No. 2)
Nomor Halaman : 294 - 318
Abstraksi Narasi : Hampir sebagian besar ahli ilmu agama, jika bukan seluruhnya tentu akan sepakat dengan definisi agama sebagai sebuah hubungan manusia dengan sesuatu yang dianggapnya suci. Dalam sepanjang sejarah, agama dalam pengertian seperti itu memang selalu dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat manusia. Tetapi mereka akan berbeda-beda pendapat ketika berusaha mendefinisikan dan menjelaskan agama sebagai sebuah konsep. Sungguh, agama sebagai sebuah konsep memiliki pengertian berbeda-beda. Agama adalah sebuah konsep yang ambigu, sebuah konsep yang mempunyai banyak pengertian, seperti diperlihatkan oleh tulisan ini. Perbedaan pengertian seputar konsep agama itu telah menyebabkan pemahaman tentang agama menjadi semakin kompleks dan rumit. Semua agama yang ditemukan dalam sejarah diklasifikasikan berdasarkan sekurang-kurangnya tujuh kriteria, mulai dari kriteria yang bersifat paling subjektif hingga kriteria yang dianggap paling obyektif. Ketujuh kriteria tersebut adalah normatif, geografis, etnografis-linguistik, filosofis, morfologis, dan fenomenologis. Berdasarkan klasifikasi ini dapat disimpulkan bahwa secara akademik konsep agama mencakup sebuah fenomena keyakinan dan perilaku manusia yang sangat luas yang tidak terbatas pada apa yang disebut "agama-agama besar dunia". Agama-agama mempunyai persamaan dan perbedaan seperti secara singkat diperlihatkan pada akhir tulisan ini.

Critical Study on the Concept of Al-Sahaba Kulluhum `udulun in `Ilm Al-Hadith

Nama Pengarang : Barmawi Mukti
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 42 (No. 2)
Nomor Halaman : 342 - 361
Abstraksi Narasi : Sahabat adalah orang-orang Muslim yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad saw dan pernah bergaul dengan beliau secara langsung dan ketika mati mereka itu masih tetap sebagai orang yang beriman. Mereka ini merupakan generasi awal yang beriman kepada ajaran Nabi Muhammad saw dan yang menerima ajaran islam (hadis-hadis nabi) secara langsung dari beliau. Mereka ini saat taat kepada Nabi sehingga tidak mungkin mereka itu berani berkhianat dan berbohong dengan sengaja dalam meriwayatkan hadis Nabi. Mereka pada umumnya bersifat adil, siqah dan dabit. Akan tetapi karena sahabat Nabi itu adalah sebagai manusia biasa maka kemudian jika ditemukan sekelompok kecil dari mereka yang tidak adil, siqah dan dabit karena menurut data histories mereka ini terbukti termasuk golongan orang munafik atau fasik, maka periwayatan hadisnya harus ditolak. hal ini dimaksudkan tidak lain untuk menjaga kemurnian ajaran Islam yang berasal dari Nabi. jadi dengan demikian kaidah: al-sahaba kullum udulun tidak berlaku secara umum.

Al-Yasar al-Islami: Itlalah Ammah

Nama Pengarang : Nasr Abu Zaid
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 42 (No. 2)
Nomor Halaman : 363 - 410
Abstraksi Narasi : Islamic thought develop rapidly as the progress of Islam in the clasiical era especially when islam is facing modernity nowadays. in general, the discourse of islamic thought ranges from the "left" to the "right". the term "left" is used for political movement and chages with defends the right and interest of poor individuals, i.e., vulnerable and oppressed people. this mainstream fights against social injustice caused by economics and politics, such as the tedency of elites to support certain communities in any forms and to neglect others. In general, it can be stated that leftist and also employ logic as a way of life and thinking method. Althoug it seems very excellent for the society, however, it also has some disadvantages such as it could harm personal freedom. Meanwhile, the "right" is used for political movements and changes which demand for private freedom. It seems that te "right" movement more flexible than the "left" one to protect personal freedom especially freedom of faith of thouht etc. To conclude, the "right" movement is more conservative to protect traditions.

Al-Mudarabah Min Wujhat Nazr al-figh wa-Tajribat Bank al-Syari`ah

Nama Pengarang : Abd. Salam Arief
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 42 (No. 2)
Nomor Halaman : 411 - 427
Abstraksi Narasi : Deskripsi abstrak ringkas tidak tersedia untuk artikel ini.

The veil at the crossroads: Muhammad Sa`id Al-`Ashmawi and the discourse on the Hijab in Egypt

Nama Pengarang : Mohamad Abdun Nasir
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 42 (No. 1)
Nomor Halaman : 89 - 131
Abstraksi Narasi : Jilbab telah menjadi isu kontroversial yang mengakibatkan perdebatan sengit dikalangan feminis, Islamis maupun kelompok liberal-sekularis di Mesir. Muhammad sa`id al-Ashmawi melihat jilbab telah dibelokkan arah oleh kelompok Islam radikal dari masalah agama ke isu politik untuk mencap kafir wanita Muslim yang menolak jilbab. Inilah yang menjadikan ketidaksetujuan Ashmawi. Kelompok Is;lam radikal dianggap telah memanipulasi agama demi tercapai kepentingan-kepentingan idiologis-politis mereka. Dari situ Ashmawi kemudian membuat counter discourse tentang jilbab. Menurutnya jilbab tidak wajib. bagi dia, tidak semua ayat-ayat al-Qur`an bersifat umum, dan sebagian dari mereka bersifat spesifik yang terkait dengan kondisi tertentu. Ayat-ayat tentang jilbab masuk dalam kategori ini dan interpretasi terhadap ayat-ayat tersebut harus dikaitkan dengan konteks sebab turunnya ayat (asbab al nuzul). Ashmawi beralasan bahwa ayat hijab (al-Ahzab: 53) sebenarnya hanya ditujukan kepada istri-istri nabi. Sedang ayat tentang khimar (al-Nur: 31) dan tentang jilbab (al-Ahzab: 59) harus dilihat dar konteks sebab turunnya ayat yang berkenaan dengan koreksi tradisi berpakaian saat itu dan untuk membedakan antara wanita merdeka dan budak. Sedang hadis tentang jilbab dianggap lemah oleh Ashmawi karena rawinya terputus. Oleh karena itu, menurut dia, secara esensial jilbab bukan berarti bentuk atau jenis pakaian tertentu, tapi merujuk kepada sikap mental untuk membentengi didi dari segala perbuatan dosa

The puppet caliphs and the titular heads of state: the abbasid caliphate under the buyids` reign

Nama Pengarang : Fauzan Saleh
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 42 (No. 1)
Nomor Halaman : 1 - 33
Abstraksi Narasi : Kekhalifahan Abbasiyah yang berlangsung selama lima abad lebih telah mengalami masa pasasng surut dengan dinamika yang tinggi. Di masakejayaannya, kekhalifahan Abbasiyah merepresentasikan zaman keemasan Islam dengan kemajuan peradabannya. Namun dalam masasurutnya, Abbasiyah telah jatuh dalam dominasi penguasa asing, termasuk amir al-umara` dari dinasti Buyid. Para penguasa militer yang mestinya tunduk kepada khalifah ini justru telah memaikan peran yang jauh lebih menentukan, bahkan lebih berkuasa dari khalifah sendiri. Hal ini terjadi karena lemahnya posisi khalifah, sehingga hampir seluruh hak dan kewenangannya diambil alih oleh penguasa militer tersebut. Dalam kondisi seperti itu khalifah tidak lebih dari penguasa tituler atau bahkan "wayang" di bawah cengkeraman dinasti Buyid. Persoalannya kemudian, jika seorang khalifah tidak lagi mampu menjalankan tugasnya sebagai kepala negara atau pemerintahan, haruskah ia dipertahankan. Menurut al-Mawardi, khalifah seperti itu tidak berhak lagi menduduki jabatannya dan ia harus diturunkan. Namun, meskipun para khalifah Abbasiyah telah kehilangan kekuasaaan eksekutifnya, mereka ternyata masih dapat mempertahankan kedudukan mereka, bahkan hingga jauh setelah kekuasaan dinasti Buyid itu sendiri hancur. Bagi kaum Sunni, seperti apapun bentuknya, keberadaan khalifah harus tetap dipertahankan sebagai simbol pemerintahan yang sah dan sebagai manifestasi dari kesatuan seluruh umat Islam

Salik buta aliran tasawuf Aceh abad XX

Nama Pengarang : Misri A. Muchsin
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 42 (No. 1)
Nomor Halaman : 177 - 198
Abstraksi Narasi : This article examines the Sufi movement in Aceh by looking at its continuity since the 16 th - 17 th century, as its golden age, to the 20 th century. Based on the fact that Abdullah Ujong Rimba`s explanation is considered representative, his books are taken as primary sources while others are secondary. Based on Abdullah Ujong Rimba`s explanation, Salik Buta is a sect of sufism in Aceh in the 20 th century. this sect is practiced in several of centers in Aceh. Historically, the doctrines of this sect is continution and modification of Wahdat al-Wujud`s doctrines established since 16 th century. The doctrines of Salik Buta are different from those of popular sufism. Thus, Salik Buta is considered heterodox and critized by ulama, as Abdullah Ujong Rimba. From Abdullah Ujong Rimba`s criticism, it can be concluded that his thought based on syari`at or fiqih orientation, instead of the perspective of sufism.

Maslahah Mursalah in the thought of Muhammad `Abduh and Rahid Rida

Nama Pengarang : Nazly Hanum Lubis
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 42 (No. 1)
Nomor Halaman : 133 - 152
Abstraksi Narasi : Artikel ini membahas konsep maslahah mursalah (salah satu metode istinbat hukum Islam) yang dikembangkan oleh Muhammad Abduh dan muridnya Rashid Rida. Konsep yang mereka kembangkan berbeda dengan apa yang telah dirumuskan oleh para ulama terdahulu, yang memberikan beberapa syarat yang ketat dalam pengaplikasian maslahah. Menyadari bahwa maslahah dapat dijadikan sebagai media dalam memformulasikan hukum Islam, kedua reformis ini mengadopsi konsep ini dalam mengantisipasi perubahan sosial tanpa memberikan persyaratan ketat sebagai yang telah ada sebelumnya. Mereka lebih menenkankan kemampuan akal dalam memahami syari`at, dilandasi atas kepercayaan bahwa Isalam merupakan agama rasional dan, dengan demikian, menuntut peran akal yang besar dalam memahami ajarannya. Pendekatan yang dirumuskan oleh Abduh dan Rida sesungguhnya mampu mengantisipasi perubahan sosial, namun pada saat yang sama ia secara tidak langsung dapat berakibat kepada sekularisasi hukum Islam itu sendiri.
← Kembali ke Halaman Utama