| Nama Pengarang | : | Muhammad Chirzin |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 42 (No. 1) |
| Nomor Halaman | : | 199 - 222 |
| Abstraksi Narasi | : | Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia, memuat berbagai perumpamaan (amsal) yang dapat dijadikan pelajaran bag setiap orang yang mau merenungkannya. Amsal al-Qur`an merupakan sarana yang digunakan al-Qur`an untuk menyampaikan gagasan-gagasannya berkaitan dengan berbagai hal yang dapat menerangi jalan kehidupan umat manusia agar mampu membedakan jalan yang hag dan jalan yang batil. Dengan amsal maka hal-hal yang sifatnya pengertian (ma`qulat) dapat ditampilkan dalam bentuk yang seakan-akan dapat diindera (mahsusat), begitu pula hal-hal yang bersifat kebenaran dan hal-hal yang tidak tampak dapat ditampilkan sebagai sesuatu yang hadir di hadapan kita. Oleh karena itu, tidak sedikit di antara ulama yang mengkaji amsal al-Qur`an ini baik secara khusus dalam satu buku seperti yang dilakukan oleh al-Hakim at-Tirmizi, atau pada bab tertentu dari bukunya, seperti yang dilakukan oleh al-Mawardi, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, az-Zarkasyi, az-Zarqani, as-Suyuthi dan sebagainya. Pengetahuan tentang Amsal al-Qur`an sedemikian pentingnya sehingga tidak berlebihan jika asy-Syafi`i mengatakan bahwa seorang mujtahid harus mengetahui Amsal al-Qur`an. Artikel ini menampilkan pendapat para ulama mengenai amsal al-Qur`an tentang makna-maknanya, tujuan-tujuannya, ciri-ciri khasnya, dan topik-topik yang dibicarakannya. |
| Nama Pengarang | : | Ahmad Fuad Afandi |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 42 (No. 1) |
| Nomor Halaman | : | 223 - 246 |
| Abstraksi Narasi | : | Era globalisasi dan industrialisasi menuntut lulusan yang berkualitas, dalam arti memiliki kompetensi yang relevan dengan tuntutan masyarakat, termasuk dunia kerja Untuk menjawab tuntutan itu, program studi bahasa dan sastra Arab, perlu melakukan reformulasi kurikulum yang berorientasi kepada peningkatan kualitas lulusan dan didasarkan atas hasil analisis kebutuhan masyarakat, di samping analisis topik-topik inti bidang studi. Kurikulum ini hendaknya bersifat fleksibel yang memungkinkan adanya pilihan-pilihan kompetensi sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat yang terus berubah dan minat serta bakat mahasiswa yang beragam. Fleksibilitas kurikulum ini memungkinkan disajikannya paket-paket mata kuliah pilihan yang memberikan kompetensi penunjang (tambahan), namun tetap relevan dengan kompetensi utamanya. Kurikulum fleksibel ini terdiri atas komponen-komponen (1) keilmuan (kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan), (2) Kemahiran berbahasa (menyimak, berbicara, Membaca, menulis), (3) Keahlian/profesi utama, (4) Keahlian / profesi penunjang, (5) Kemasyarakatan dan Keagamaan. |
| Nama Pengarang | : | Akh. Muzakki |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 42 (No. 1) |
| Nomor Halaman | : | 61 - 87 |
| Abstraksi Narasi | : | Pemboman WTC 11 September 2001 telah melahirkan sebuah stigma terhadap islam, yaitu teroris dan al-Qaeda sebagai tertuduh. Di Asia Tenggara, kasus bom Bali juga mengidentifikasi adanya jaringan al-Qaeda yang kemudian dikenal dengan nama Jama`ah Islamiyah. banyak teori yang dikemukakan oleh ilmuwan-ilmuwan di berbagai belahan dunia tentang fenomena radikalisme Islam ini. Di antara teori tersebut mengatakan bahwa radikalisme agama yang terjadi di berbagai belkahan dunia merupakan resistensi agama terhadap laju modernisasi dunia. Di Asia tenggara, munculnya radikalisme Islam lebih dipicu oleh sikap-sikap pemerintah terhadap umat Islam. Walaupun demikian, Jama`ah Islamiyah tetap merupakan misteri; eksistensinya tidak bisa dibuktikan, namun fenomenanya ada dimana-mana. Banyak pihak akhirnya mengaitkan keberadaan Jama`ah Islamiyah dengan keberadaan berbagai pesantren garis keras di Indonesia. Artikel ini berusaha untuk mengidentifikasi hubungan antara keberadaan organisasi Jama`ah Islamiyah dengan kelompok-kelompok teroris yang akhir-akhir ini telah memperburuk citra Islam. |
| Nama Pengarang | : | Susiknan Azhari |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 42 (No. 1) |
| Nomor Halaman | : | 153 - 176 |
| Abstraksi Narasi | : | This article tries to study about calculation (hisab) model developed by Muhammmad Wardan to formulate a National Hijriyah Calendar. Muhammad Wardan is one of the designers of the concept of wujudul hilal. This concept was built by combining normative and emperical level (middle way) between the system of hisab ijtima qabla al-ghurub and imkan al-ru`yah. This combination was also named as middle way between pure hisap and pure rukyat. Due to this type of concept, the renewal thought of Muhammad Wardan to decide the beginning of Qamariyah month was quite original at that time. Therefore, Wardan`s thoery of wujudul hilal is still used until nowdays especially by Muhammadiyah people. However, it is significant to note that the thought of Wardan does not perfectly answer the problem of national Hijriyah Calendar, i.e., to decide the Westest and Eastest points of a region or country to start or end the month of Ramadlan. |
| Nama Pengarang | : | Svetlana Kirillina |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 42 (No. 1) |
| Nomor Halaman | : | 35 - 59 |
| Abstraksi Narasi | : | Tulisan ini membahas tentang pertukaran kultur dan intelektual yang terjadi Mesir Usmani dan beberapa bagian dunia Muslim Arab pada abad ke - 18 M - awal abad ke - 19 M, yang digambarkan oleh sebagian peneliti sebagai "abad kegelapan" dimana terjadi "stagnasi", "degradasi", dan "anabiosis" dalam kehidupan sosial di Timur Tengah dan Mesir khususnya. Menurut penulisnya, penggambaran yang menyedihkan dan tanpa harapan tentang masyarakat Mesir itu dapat dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan, atau suatu pendekatan yang terlalu menyederhanakan persoalan tentang sejarah bangsa Mesir. Padahal selama periode tersebut, telah terjadi hubungan yang intensif diantara Mesir Usmani dan dunia Muslim lainnya. Berlandaskan pada sumber data historis yang berupa kronik-kronik bangsa Mesir Usmani, didukung oleh ringkasan-ringkasan hagiografis dan bibliografis, dapat dibuktikan bahwa telah terjadi pertukaran kultural dan intelektual yang intensif di pusat-pusat pendidikan terkenal di Istambul, Damaskus, Jerusalem, Tunisia, Algeria, Maroko, Mekkah, Madinah dan Mesir |
| Nama Pengarang | : | Euis Nurlaelawati |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 41 (No. 2) |
| Nomor Halaman | : | 243-275 |
| Abstraksi Narasi | : | Kebutuhan terhadap pembaharuan hukum keluarga Islam di Indonesia sudah mulai diartikulasikan sejak sekitar tahun 1940-an. Namun, realisasi dari kebutuhan tersebut baru tercapai ketika Kompilasi Hukum Islam melalui Instruksi Presiden disahkan pada tahun 1991. Hasil dari kerjasama antara Departemen Agama dan Mahkamah Agung yang kemudian diklaim sebagai ijtihad kolektif `ulama Indonesia itu disambut dengan baik oleh berbagai kalangan dan dianggap sebagai suatu langkah besar dalam sejarah perkembangan hukum Indonesia. Walaupun demikian, beberapa aturan yang termuat dalam kompilasi masih dipertanyakan oleh sejumlah tokoh Islam. Aturan yang dipakai untuk menengahi aturan atau adat dan hukum Islam mengenai status anak angkat dalam warisan, di mana adat menganggap anak angkat dan juga orangtua angkat sebagai anak dan orang tua asli, sehingga mereka berhak saling mewarisi, sementara hukum Islam menentang praktek kewarisan tersebut, juga diperdebatkan. Aturan ini dianggap berlebihan dan tidak mempunyai dasar yang kuat dalam teks al-Qur`an dan telah menyimpang dari prinsip kewarisan Islam. Artikel ini akan mencoba mendiskusikan perdebatan kedua aturan tersebut dan mencari titik masalah dari perdebatan tersebut. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 41 (No. 2) |
| Nomor Halaman | : | 307-340 |
| Abstraksi Narasi | : | When the world will come to the millennium era, there are some hopes that the world will be more peaceful. However, the phenomena emerged prior to the millennium era is on the other way around. One of the phenomena is the rise of religious radicalism which worsened the political system of the world. Religious radicalism is not only happened in Muslim world, but it also happened to other religions in the West. In the East, Islamic radicalisms are occurred due to some factors. First, the development of ideological understanding in Muslim society is happened simultaneously with their struggle too free their countries from Western colonialism. Second, normative and textual understanding of Islam developed which disregard the truths from other parts. The third is uprising of the resistant attitudes of Muslims in several parts of the world such as Palestine and Afghanistan, along with the unjust way of behaving of Western countries to some Muslims. Meanwhile, religious radicalism in the West was, due, in part, to capitalism and colonialism. In Indonesia, religious radicalism emerged along with the incident of 11 September 2000. Religious conflicts and Bali Bombings are several try their best to overcome this problem by conducting religious and cultural dialog among them, along with the fair and just attitude among them as well. |
| Nama Pengarang | : | Ainurrofiq Dawam |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 41 (No. 2) |
| Nomor Halaman | : | 341-375 |
| Abstraksi Narasi | : | As an institution of an Islamic higher education, until nowadays IAIN Sunan Kalijaga is still consistent with the study of Islam in the literalistic (wahyiyyah) ways. In the mean time, undeniably, society, knowledge and technology have undergone some significant development. The growth of society, knowledge and technology could not be separated from the development of IAIN itself; the development of IAIN should accommodate to the progress of society, knowledge and technology. However, all above remains idealism for IAIN. In Other words, the academic doers of IAIN do not master knowledge and technology yet. This paper is trying to elaborate the fundamental principle of the development of IAIN which covers ideology, epistemology, and the paradigm of Islamic education. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 41 (No. 2) |
| Nomor Halaman | : | 399-421 |
| Abstraksi Narasi | : | The existence of some Islamic schools (madzhab) in Islamic history indicated that Muslim scholars (`ulama`) had different ways in reconstructing their ijtihad. Madzhabs that are widely spread since the classical to modern era, essentially have various paradigms. During Muhammad era, different understanding about a verse or any subjects that are not dealt with by Al-Qur`an could directly be questioned to the prophet. After Muhammad`s passed away, Muslims` problems of life became much more complex. The existence of the prophet did not halt the different opinions among Muslims. Different opinions upon many problems in Muslim society had groun up continuously along with the development of human civilization until the emergence some great `ulama such as Imam Hanafi, Imam Syafi`I etc. as the mediators those differences. This writing is going to reveal the approaches used by those `ulama in determining the quality of hadith which brought about different opinions. |
| Nama Pengarang | : | David A. Splawn |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 41 (No. 2) |
| Nomor Halaman | : | 223-241 |
| Abstraksi Narasi | : | Nabi Isa merupakan tokoh yang sangat penting bagi penganut agama-agama Ibrahim, khususnya Islam dan Kristen/ Nasrani. Walaupun banyak persamaan hal pada tokoh fenomenal ini, namun tidak sedikit pula perbedaannya. Dari namanya, masing-masing agama Ibrahim mempunyai perbedaan sebutan, Isa, Yesus dan Yeshua. Konsep masing-masing umat beragama tentang Nabi Isa, putera Maryam, ini juga banyak perbedaannya, misalnya, apakah Isa benar-benar mati disalib atau tidak. Artikel ini berusaha untuk mendeskripsikan konsep Nabi Isa menurut al-Qur`an dan juga konsep Jesus menurut kitab Injil versi Perjanjian Baru. Gambaran dari konsep Jesus menurut kitab Injil versi Perjanjian Baru. Gambaran dari kedua kitab Suci ini akan lebih menjelaskan persamaan dan sekaligus perbedaannya. Akhirnya, persamaan dan perbedaan itu harus dipahami dengan baik dan penuh toleran tanpa harus diperselisihkan. |