| Nama Pengarang | : | Khoiruddin Nasution |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 39 (No. 1) |
| Nomor Halaman | : | 34-61 |
| Abstraksi Narasi | : | Satu pembaruan hukum keluarga Muslim dan Islam Kontemporer, yang diperkenalkan pertama kali oleh Turki 1917, adalah adanya usaha membatasi praktek poligami. Sejumlah negara berusaha membatasi kemungkinan praktek poligami, bahkan ada negara yang melarang poligami secara mutlak. Malaysia adalah salah satu negara yang membatasi praktek poligami. Sama dengan Indonesia, di Malaysia poligami dapat dilakukan dengan syarat-syarat dan dalam kondisi-kondisi tertentu. Sebaliknya, pengikut gerakan Darul Arqam bukan saja membolehkan praktek poligami, tetapi lebih dari itu gerakan ini menganjurkannya. Tulisan ini adalah hasil penelitian tentang pandangan dan praktek poligami di kalangan (pengikut) gerakan Darul Arqam yang tinggal dan menetap di Malaysia. Penelitian ini adalah penelitian pustaka yang bersumber pada data pustaka, baik yang ditulis oleh pengikut Darul Arqam maupun hasil penelitian tentang mereka. Adapun metoda analisa yang digunakan adalah metoda analisa isi (analysis content), yakni dengan menganalisis isi tulisan-tulisan yang berbicara tentang gerakan Darul Arqam. Akhirnya penelitian ini menemukan, bahwa untuk mengetahui tentang mampu atau tidaknya seorang suami berlaku adil terhadap istri-isrinya bagi pengikut Darul Arqam, harus dicoba dengan cara melakukan poligami. Inilah alasan yang dapat ditulis kenapa mereka menganjurkan praktek poligami (mandub), bukan seperti kelompok mayoritas yang hanya membolehkan (mubah). Sementara dalam praktek gerakan ini menanamkan kepada istri yang dipoligami untuk senantiasa sabar dalam mensikapi praktek poligami suami, seperti sabar menunggu giliran, sabar dengan kondisi suami. Sebab ada suami yang istri-istrinya bertempat tinggal di daerah yang berlainan, bahkan berjauhan. Dalam kasus ini istri harus sabar menunggu gilirannya. Implikasi lain dari sifat sabar ini adalah, istri harus sabar kalau suami membagi malam secara tidak adil diantara para istrinya karena faktor usia,dimana malam suami lebih banyak di istri muda. Demikian juga istri diwajibkan senntiasa patuh terhadap perintah dan keinginan suami. Sementara suami tidak dianjurkan bahkan tidak diajarkan untuk bersabar. Adapun istri yang selalu sabar dengan keadaan suami dalam segala hal akan mendapat ganjaran yang berlipat ganda nanti kelak di hari akhirat. Dengan demikian, poligami bagi gerakan Darul Arqam merupakan ajang untuk mengukur mampu atau tidaknya seorang suami berlaku adil terhadap istri-istrinya, sementara bagi istri menjadi ajang melatih kesabaran. Adapun diantara tujuan poligami adalah manajemen kerja, dimana menurut gerakan ini, seorang suami yang berpoligami dapat memaksimalkan perannya, yakni dengan cara mengatur dan membagi tugas-tugas antara para istri; dimana ada istri yang khusus mengurus anak, ada yang khusus mengurus dapur dan pakaian seluruh keluarga, ada yang khusus mengurus keperluan suami dan kegiatan-kegiatannya. Tujuan lain adalah membantu tugas suami ketika sang suami bertugas di tempat dimana sang istri bertempat tinggal. Karena itu, mempunyai istri lebih dari seorang dan tinggal di satu tempat bertujuan untuk memaksimalisasi peran suami, sementara memiliki istri-istri yang tinggal diberbagai tempat yang berbeda bertujuan untuk membantu melaksanakan tugas suami. |
| Nama Pengarang | : | Fauzan Saleh |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 39 (No. 1) |
| Nomor Halaman | : | 98-123 |
| Abstraksi Narasi | : | Perang Badr merupakan peristiwa besar dan memiliki makna yang amat strategis dalam sejarah Islam klasik. Setelah bertahun-tahun berjuang tanpa membuahkan hasil yang menggembirakan, melalui perang Badr, Muhammad memperoleh kemenangan yang amat gemilang. Kemenangan ummat Islam dalam perang tersebut telah memperkokoh posisi Muhammad di Madinah, disamping juga telah memperteguh keyakinan ummat tentang kebenaran kerasulan Muhammad. Karena pentingnya makna perang Badr tersebut maka tidak mengherankan jika peristiwa ini mendapatkan perhatian yang cukup besar, bukan saja dari para ahli sejarah tetapi juga dari al-Qur`an sendiri. Peristiwa ini telah diabadikan dalam karya para sejarawan Muslim terkenal, seperti Ibn Hisham dan al-Waqidi. Al-Tabari, dalam karya monumentalnya Ta`rikh al-Rasul wa`l-Muluk, juga menganggapnya sebagai peristiwa paling penting yang terjadi pada tahun kedua Hijriyah. Namun, disamping sebagai sejarawan, al-Tabari juga dikenal sebagai muffasir yang mengulas peristiwa besar ini dalam uraiannya mengenai Surat al-Anfal dalam tafsirnya, Jami`al-Bayan fi Tafsir al-Qur`an. Paper ini berusaha merekonstruksi peristiwa besar tersebut berdasarkan kajian al-Tabari dalam kitab Ta`rikh dan Tafsirnya. Adalah suatu hal yang umum dilakukan oleh para sejarawan Muslim untuk mengkaitkan ayat-ayat tertentu dalam al-Qur`an dengan berbagai peristiwa yang terjadi pada Rasulullah. Sebenarnya ayat-ayat tertentu telah diturunkan oleh Allah untuk meresponsi problem-problem khusus yang tengah dihadapi oleh Muhammad dan para pengikutnya. Namun karena al-Qur`an bukan buku sejarah maka ia tidak memberikan deskripsi kronologis yang mendetail tentang peristiwa-peristiwa tersebut. Al-Qur`an lebih peduli dengan nilai-nilai tertentu yang terkandung dalam suatu peristiwa yang direkamnya, termasuk dalam perang Badr. Signifikansi perang Badr terletak pada kesuksesan Rasulullah dalam membangun komitmen ummat Islam untuk mentaati aturan bersama berdasarkan petunjuk wahyu Ilahi. Al-Quran sebenarnya, telah memberikan suatu kesadaran historis dengan memberikan makna keagamaan dan moral pada setiap peristiwa sejarah yang dibawakannya. |
| Nama Pengarang | : | Mohammad AR |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 39 (No. 1) |
| Nomor Halaman | : | 62-97 |
| Abstraksi Narasi | : | Paper ini membandingkan kurikulum keilmuan Islam yang diterapkan pada sekolah-sekolah agama Islam di Aceh, terkenal dengan sebutan Dayah, yang masih tradisional dan modern. Hal ini dianggap penting, karena Aceh adalah institusi pendidikan yang paling tua dan dominan di Aceh, sehingga perubahan dan perkembangan kurikulum keilmuan Islam di Aceh dinilai akan berpengaruh terhadap perkembangan keilmuan keislaman di Indonesia secara umum. Dalam melakukan studi ini, penulis melakukan observasi secara langsung pada Dayah-Dayah tradisional dan modern, selain juga mempelajari dokumen-dokumen dan buku-buku yang memuat informasi mengenai masalah-masalah yang dibahas. Sesuai dengan perkembangan zaman, di Aceh telah muncul Dayah-Dayah baru yang menerapkan kurikulum yang berbeda dengan yang selama ini diterapkan dalam Dayah yang masih dikelola secara tradisional. Ilmu-ilmu yang secara tidak langsung berkaitan dengan teks-teks ajaran Islam, seperti matematika, ilmu pengetauan alam, bahasa asing (selain bahasa Arab) mulai diajarkan di Dayah modern. Selain perbedaan kurikulum, perbedaan lain juga ditemukan pada sisi menejemen dan pengelolaan Dayah secara umum. |
| Nama Pengarang | : | Abd. Karim Hafid |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 39 (No. 1) |
| Nomor Halaman | : | 124-150 |
| Abstraksi Narasi | : | The are may secrets and wonders in the precedence and postponement in holy Qur`an; previewed from both linguistic structure and grammatical point of view. One of these secrets may lay in the utilizing a single word for different linguistic purposes in different parts of the speech in which a speaker may have certain different meanings. The following article is trying to show these sorts of Precedence and Postponement, categorizing them into two kinds : 1. Precedence and postponements as previewed in a linguistic point of view, considering the use of words in phrases or verses depending on standard grammars stated by the linguiststs. 2. Precedence and postponement as previewed in the terminologist point of view, considering the arrangement in mentioning terminologies in the holy Qur`an. The first type discusses the principle of faith and literature that has the purpose of precedence and postponemet for specialization as it leads to the principle of unity of almighty God. The research involves the precedence and posponement which is found (from linguistic point of view) in the holly verses of Qur`an, such as, preceding the reference on the reference to or vice versa. The precedence and postponement have an influence (on the terminology point of view) on understanding of the holly Qur`an especially for worshipping and lows. In worshipping, the precedence and posponement, may concern the arrangement of certain deeds like performing the ablutions (wudlu) before prying than prying. For laws or rules, it precede the male`s name before the female`s, and also, preceding the more than the less; such as preceding the man thief on the woman thief, for many of those could be man, and preceding woman on man in adultery. |
| Nama Pengarang | : | Akh. Minhaji |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 39 (No. 1) |
| Nomor Halaman | : | 1-33 |
| Abstraksi Narasi | : | Sering dikatakan bahwa "Islam adalah agama hukum" Dengan adanya fakta ini, bisa dipahami betapa hukum juga menjadi perhatian dalam agama Islam, bahkan hal yang utama. Hukum merupakan aspek penting dalam ajaram Islam. Charles J. Adams tidak berlebihan saat menyatakan : "Tidak ada subyek yang lebih penting bagi pelajar Islam selain dari apa yang biasa disebut "hukum" Islam". Maka dari itu, studi mengenai hukum Islam menempati posisi yang sangat penting di dalam ilmu pengetahuan Barat tentang Islam. Beberapa sarjana Barat berpendapat bahwa perkembangan hukum Islam secara historis terbagi dalam tiga periode utama : periode klasik, periode pertengahan, dan periode modern. Banyak dari sarjana-sarjana tersebut telah membahas hukum Islam pada dua periode pertama. Nama-nama seperti Ignaz Goldzier, Cristian Snouck Hurgronje, Joseph Schacht, dan Noel James Coluson, untuk menyebut beberapa nama, adalah yang paling terkenal. Hal ini berbeda dengan J.N.D. Anderson. Meskipun beberapa di antara mereka yang telah disebut diatas telah membahas hukum Islam pada periode modern, Anderson membatasi perhatiannya secara khusus terhadap hukum Islam selama periode modern. Dengan mendasarkan diri utamanya atas hasil kerja Anderson, makalah ini ditujukan agar bisa memahami perkembangan historis hukum Islam pada periode modern. Konkritnya, makalah ini bertujuan untuk menelaah sifat dasar reformasi hukum Islam dan karenanya mencakup pembahasan mengenai latar belakang, metode.akibat-akibat, dan permasalahan-permasalahan serta prospek reformasi tersebut. |
| Nama Pengarang | : | Surahman Hidayat Aziz |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 39 (No. 1) |
| Nomor Halaman | : | 224-242 |
| Abstraksi Narasi | : | Islam encourages Muslims to invest their money and goods in order that their economic and social conditions can be improved. Investment is actually basic needs for human beings. It also social needs for community. According to Islamic teaching, investment is part of obligation for Muslims. This article tries to explore how importance investment is according to Islamic Law. It describes that Islam encourages Muslims to invest their money and goods. The writer states that according to Islam, wealth should be developed. He also describes various kinds of investment implemented by Islamic Bank that have big impact on individual and communal economy. According to Islam, investment is part of human obligation as a representative of God on earth (khalifatullah fi al-ardl). There are three important point described by the writer, namely, 1. Using wealth for beneficial matters. 2. Investing wealth for preserving and developing it so that it is useful for it owner and community. 3. Transferring ownership to other voluntarily. Furthermore, the writer also describes the characteristics of Islamic investment, namely, 1. Differentiating between good and forbidden. 2. Not implementing interest. 3. Considering community needs according to Islamic priority. 4. Valuing works. 5. Trying to get benefit fairly. 6. Investment can be renewed and developed. |
| Nama Pengarang | : | Suyatno Prodjodikoro |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 39 (No. 1) |
| Nomor Halaman | : | 174-193 |
| Abstraksi Narasi | : | The development of al-Qur`an recitation gathering named "MANTAB" in Yogyakarta is a socio-religious phenomenon. This effort of spiritualization of Islamic teachings attracts many participant. Mass pray and recitation of all content of the Holy Book, al-Qur`an, are main rituals held in this gathering. The participants use al-Qur`an recitation (semaan) gathering as a mean of spiritual exercises that can guide them to acquire deep inner happiness. Basides spiritual nuance, al-Qur`an recitation of "Mantab" has also social effects. It can strengthen the relationship among the participants whether they come from higher or lower strata of society, such as religious leaders and grassroots. In this gathering, they can communicate each other. Therefore, the al-Qur`an recitation has social function as well. Religious leaders who have deep esoteric nuance and are supported by their good social legitimacy, have central position in social structure of this gathering. Consequently. "asking blessing" and "Patron-Client" can easily be seen in social interaction in this gathering. |
| Nama Pengarang | : | M. Din Syamsuddin |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 39 (No. 1) |
| Nomor Halaman | : | 151-173 |
| Abstraksi Narasi | : | This article examines the relationship between the ruler and the ruled that are involved and become main factors and actors of socio-political life of a nation. In it, the writer explains the dynamics of islamic political thought and its consequent deeds in historical process of Islamic civilization both during pre-modern dan modern. Based on his research, the writer concludes that there is a gap in the relationship between the ruled in the perspective of Islamic political thought and practices. Political reality does not match with the religious ideality. The gap even continues in certain degree and in other form during current modern era. Therefore, in order to develop modern society often called civil society, government role is very important, namely, to support the development of infra-structural life of community by providing public space in its real meaning. This means that government not only allows its people to speak but also opens its inner eyes for people`s aspirations both delivered from formal and non formal democratic institutions. |
| Nama Pengarang | : | Zamzam Afandi |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 39 (No. 1) |
| Nomor Halaman | : | 194-223 |
| Abstraksi Narasi | : | In intellectual tradition of Islam, Philosophy, Theology, Sufism, besides Arts had been developed rapidly. Almost all human problems become their object of study. Among them is problem of love that is rarely studied. This article tries to study problem of "love" in the discourses of the above knowledges in general. In philosophy, the discourse of love is related closely to two problems, namely, the creation of the universe and the impacts of its movements. The first problem has been dealt by such Muslim scholars as Ibnu Qayyim al-Jauziyah, while the second has been developed by the philosophers who grouped themselves in Ikhwan al-Shafa. In Sufism, the discourse of love has its own meaning. Love for Sufi is not only the problem of relationship between peoples or merely concepts as being thought by philosophers and theologians. For them, love has become medium or highest stage which connect and even unifer them and god (Ittihad). This meaning also differentiates love in the discourse of the Arts which only limits its discussion on the relationships between human being. |
| Nama Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies |
| Volume / Nomor Edisi | : | 38 (No. 2) |
| Nomor Halaman | : | 310-330 |
| Abstraksi Narasi | : | Mu`tazilah terkenal sebagai aliran pemikiran logis dalam sejarah pemikiran Islam. Mereka selalu berusaha untuk membangun paham keagamaan atas dasar kerja logis akal. Dalam melakukan kerja itu mereka mau tidak mau bertemu dengan kesulitan memahami Alquran yang dalam banyak tempat memberikan keterangan yang secara sepintas terasa tidak logis. Misalnya, bacaan-bacaan yang memberikan pengertian kebebasan manusia dalam menentukan perbuatannya sendiri, ketika dihadapkan dengan ketentuan-ketentuan Allah yang tidak dapat diubah manusia. Keberadaan Al-Quran sebagai dasar ajaran Islam bagi kaum Sunni tidak diragukan sama sekali, namun bagi kaum Mu`tazilah terdapat beberapa catatan. Kalau Al-Quran itu firman Allah, apakah beritanya dapat dipakai untuk menjadi bukti keberadaan-Nya. Secara nalar, memang pertanyaan ini tidak dijawab dengan positif. Kandungan berita tidak dapat menerangkan keberadaan pemilik berita, karena itu berarti akan terjalin lingkaran syetan: kandungan berita hanya dapat dianggap benar jika pemilik berita tidak berbohong, sementara keberadaan pemilik berita itu sendiri diterangkan oleh kandungan berita. Dengan demikian al-Quran tidak dapat memberikan keterangan pertama tentang Allah sendiri, kata `Abd al-Jabbar yang terkenal dengan sebutan al-Qadli atau Qadli al-Qudlah (320/932-415/1025), seorang tokoh Mu`tazilah pada kebangkitannya setelah dijatuhkan dari lingkaran kekuasaan politik oleh Khalifah al-Mutawakkil (847-861). Lalu bagaimana kitab ini dapat merupakan dalil bagi pemikiran teologis Islam? Tulisan ini membahas pemikiran `Abd-al-Jabbar mengenai hal-hal itu dan yang berkaitan dengannya. Kesimpulannya adalah bahwa menurut tokoh ini orang mesti menggunakan penalaran logis dalam mendudukkan al-Quran dalam struktur pemikiran teologis dan dalam memahami keseluruhan bacaan-bacaannya. |