Pencarian Artikel Jurnal & Majalah

Menampilkan keseluruhan arsip dokumen (Halaman 34172 dari 34180, Total: 341797 data)

Tarjamat Ma`ani Al-Quran Al-Karim Wa Tatawwuruha

Nama Pengarang : Sa'ad Abdul Wahid
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 38 (No. 2)
Nomor Halaman : 452-475
Abstraksi Narasi : The Purpose of the revelation of the Qur`an is to make it the main source of Islamic law, way of life for individuals and society as well as to guide them in gaining the bliss of the world and hereafter. Most Muslims do not understand Arabic language, although the Qur`an was revealed in Arabic language. Therefore, most Muslims need translation of the Qur`an to understand it. Many western scholars who had a great study on Islam had tried to translate the Qur`an into European languages, whereas in fact they envied Islam and tried to put hatred in their translation. As a result, the Qur`an has been translated into many European Languages. Because of this, many Muslim scholars try to translate the Qur`an in order to help other muslims understand the Qur`an on one hand while on the other hand they try to prevent Islam from the spread of lies done by orientalist through their translation. The first Muslim who translated the Qur`an into English language was a British Muslim Muhammad Marmaduke Pickthall. In addition, the first Indonesia Muslim who translated Qur`an was Abdurrauf Fansuri from Singkel, Aceh, in the seven-teenth century. The translation was then followed by other translations in Indonesian language.

Sayap Pembaru dan Tradisionalis Islam Mitos atau Realitas

Nama Pengarang : Haikal
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 38 (No. 2)
Nomor Halaman : 415-434
Abstraksi Narasi : The study, dealing with reformist and tradisionalist wings on Islamic movements in Indonesia, is based on research which among other thorough direct participation in many Islamic discourses held Muhammadiyah and NU, at different places and times. In addition to this, the writer conducted several in depth interviews and discussions with either Muhammadiyah`s and NU`s activists or leaders. In strengthening this study, this writing also based on intensive literature research using primary and secondary sources. Though both wings have stressed their activities in different fields, however both have same aim, especially as their founders also graduated from ponpes (Pondok Pesantren). The trend of Muhammadiyah`s activities in stimulating education is by founding school such as Muallimin and Muallimat, which on the whole are located in cities or urban areas. While the trend of NU`s activies is by strengthening and modernizing their ponpes, which mostly are located in rural areas. However, as the time passes by, both wings tend to get closer and working hand in hand.

Logika Transendental Kant Dan Implikasinya Bagi Kemungkinan Pengetahuan Islam

Nama Pengarang : Alim Roswontoro
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 38 (No. 2)
Nomor Halaman : 391-414
Abstraksi Narasi : This paper tries to reconstruct Immanuel Kant`s thought of logic that has been described in his magnum opus, Critique of Pure Reason. In this book, Kant who is well-known as critic and philosopher has successfully reconcilled two philosophical trends, namely, rationalism and empiricism. This reconsiliation demonstrates his philosophical thought which is full of logical argumentation. He strives to prove the existence of a priori knowledge serving as a basis for his transcendental philosophy. From this basic idea, he then explains his transcendental logics in order to support his a priori knowledge. He shows that knowledge absolutely does not cease on empirical or a posteriori root. After describing Kant`s transcendental logics, this writing analizes his fundamental idea as an important contribution to the history of human intelectual. Finally, the writer tries to draw its implication for the possobility of Islamic knowledge.

Knowledge of God: A Glance at the Development of Al-Ghazali`s Concept in His Later Works

Nama Pengarang : Andi Nurbaety
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 38 (No. 2)
Nomor Halaman : 349-373
Abstraksi Narasi : Pertanyaan tentang mungkinkah manusia mencapai pengetahuan (ma`rifat) tentang hakekat Tuhan, dan dengan cara bagaimanakah manusia dapat mencapai ma`rifat itu, dibahas oleh penulis dalam artikel ini. Penulis menganalisis pemikiran "hujjatul Islam " Imam Al-Ghazali tentang permasalahan diatas yang tertuang dalam ketiga bukunya: 1. Ihya `Ulum al-Din, khususnya pada kitab al-`ilm 2. Al-Munqidh min al-Dalal, dan ; 3. Iljum al-Awam `an `ilm al-Kalam. Penulis secara berurutan menguraikan bagaimana Tuhan dapat dipersepsi oleh manusia, sebagaimana tertuang dalam ketiga karya Al-Ghazali di atas. Tercakup dalam pembahasan pengetahuan manusia tentang Tuhan adalah zat Tuhan, sifat-sifat Tuhan yang azali, abadi dan sempurna, serta karya-karya Tuhan. Meskipun ada perbedaan penekanan kalimat dalam ketiga karyanya, namun Al-Ghazali cukup konsisten menggarisbawahi peran penting dhawq bagi manusia dalam menggapai ma`rifat hakekat Tuhan.

Ibn Taymiyyah: His Philosophical Thought on Causality

Nama Pengarang : Sumedi
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 38 (No. 2)
Nomor Halaman : 374-390
Abstraksi Narasi : Ibn Taymiyyah, menurut penulis artikel ini, banyak disalahpahami. Ia lebih dikenal sebagai seorang tokoh yang anti rasionalis, pemikir literal dan teolog revivalis, ketimbang seorang filosof. Berangkat dari sinilah artikel ini ingin melacak pemikiran filosofis Ibn Taymiyyah dengan merekonstruksi pemikirannya tentang kausalitas. Sebuah upaya yang tidak mudah memang, karena Ibn Taymiyyah tidak menulis satu buku tersendiri tentang hal ini. Upaya rekonstruksi dilakukan dengan melacak konsep itu yang masih terserak diberbagai karyanya. Maka dipilihkan pengkajian atas beberapa kata kunci yang mengekspresikan kausalitas itu. Dalam kata benda: sabab, al-illah, al-muatstsir, al-sabab, al-mujid and al-hadats; dalam kata kerja: sabbaba, `allala, awjada, ahdatsa, dan atstsara. Sementara kata yang mengekspresikan proses transformasi dari sebab ke akibat (causation) adalah al-ta`lil, al-ta`tsir, dan al-ihdath, sedangkan efek yang diproduksi oleh sebab diekspresikan dalam kata-kata: al-musabbab, al-ma`lul, al-muhdats dan al-muatstsar. Setelah membahas selintas tentang sejarah hidup Ibn Taymiyyah, penulis kemudian membahas sub-sub tema berikut: kausalitas dan kausasi, elemen-elemen kausasi, macam-macam sebab, persepsi-rasa dan kemampuan akal, statemen-statemen empirik, dan kausasi dan kemungkinan peristiwa melingkar tanpa batas (daur atau tasalsul).

Freedom of Religion , Pluralism and Interreligious Dialogue (Islamic Perspective)

Nama Pengarang : Syafa'atun Elmirzana
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 38 (No. 2)
Nomor Halaman : 331-348
Abstraksi Narasi : Dua isu kontemporer yang berkaitan dengan pemikiran kembali Islam, khususnya sejauh berkaitan dengan kebebasan agama,pluralism dan dialog antar agama, adalah masalah konversi dan dakwah/misi. Masalah kebebasan beragama, khususnya kebebasan pindah agama, masih menjadi perdebatan. Hal ini terutama dikaitkan dengan persoalan hak-hak asasi manusia, sehingga memunculkan tuduhan bahwa Islam bertentangan dengan hak-hak asasi manusia. Tendensi di atas disebabkan karena pandangan yang bersifat monolitik terhadap Islam, dan mengabaikan kenyataan bahwa Islam merupakan agama yang polyinterpretable. Paper ini mencoba melakukan peninjauan kembali terhadap hukum-hukum yang pernah ditetapkan di masa lampau berkaitan dengan persoalan riddah (pindah agama) serta problem yang juga berkaitan dengan kebebasan beragama, yaitu masalah dakwah/misi. Hukum tentang riddah perlu ditinjau secara kontekstual. Artinya, penggunaan kekerasan (dalam hal ini hukum bunuh) adalah berdasarkan pada kondisi emergency, yang berisi pertimbangan moral ketimbang provokasi agama. Oleh karenanya, hal tersebut bukan terutama karena orang-orang mempercayai atau mengimani apa yang mereka imani, tetapi karena kekerasan yang mereka lakukan sehingga mereka dapat dikenai hukuman. Disamping itu, hadits yang menjadi landasan hukuman riddah ini secara teknis bukanlah hadits yang mutawatir, yang konsewensinya, menurut sistem tradisional, tidak mengikat. Bahkan banyak alasan persuasif untuk memandang bahwa hadits tersebut dipalsukan. Dalam kasus ini, hadits ini juga bertentangan dengan ajaran al-Quran, karena di sana tidak disinggung wajibnya hukuman mati bagi murtad. Hal kedua, yaitu masalah dakwah/misi. Bertitik tolak dari pengertian dakwah/misi dikaitkan dengan praktek atau bentuk-bentuk dakwah/misi yang telah banyak dimanipulasi, maka dakwah/misi perlu ditinjau ulang. Kata dakwah/misi sering mempunyai konotasi sebagai konversi, yang sering membawa konflik dalam memperoleh pengikut. Sebagai suatu titik berangkat, diusulkan penggantian istilah dakwah/misi dengan kata dialog, yang pada dasarnya merupakan pendidikan dalam pengertian yang luas dan mulia. Akhir dari dialog harus merupakan konversi kepada kebenaran dan bukan konversi kepada Islam atau agama lain. Suatu konversi dengan keyakinan akan kebenaran itulah satu-satunya yang absah. Dalam hal ini kita tidak mengkonversi orang, tetap kita semata-mata hanya membantu agar Rahmat Tuhan bekerja dalam hati dan akalnya.

Dirasat Al-Ittisal Al-Thaqafi Wa Tanqib `An Al-Qiyam Al-Islamiyyah

Nama Pengarang : Azhar Arsyad
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 38 (No. 2)
Nomor Halaman : 476-488
Abstraksi Narasi : Cultural Communication becomes a new knowledge, which attracts some experts of culture recently. This knowledge, called Antropolinguistic begins to spread and develop from time to time. Studying continuously about Islamic perspective on Communication among cultures, which "is regarded" as being established by Wstern Scholars contemporary, needs to be held. This is, partly, for countering and correcting the incorrect views and opinions about Islam. For this reason, this article will discuss three main problems of Antropolinguistics or Communication among Cultures study. Then, how al-Qur`an describes Whorf-Sapir`s hypotheses, handicap and support of communication success, and orientation of values will be seen. This study summarizes that facing all kinds of theories and opinions as well as knowledge which are developed, should be critical to various opinions which distort the meaning of Islamic values which develop and exist in accordance with the true teaching of Islam. Philosopical basis of existing knowledge recently needs to be directed and corrected so that there will be combination between general knowledge and Islamic values. In other words, Islamization of knowledge in general schools and universities should be established.

Dakwah Dalam Perspektif Hasan Al-Banna

Nama Pengarang : S. Noor Chozin Sufri
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 38 (No. 2)
Nomor Halaman : 435-451
Abstraksi Narasi : Any movement requiring the involvement of people certainly needs careful plan and strategy in order to achieve its main goals, including "dakwah". In this article the writer tries to elaborate the concept and strategy of "dakwah" offered by an outstanding Muslim leader of Egypt, Hassan Al-Banna. He is chosen since his thought has been influencing and inspiring Muslims all over the world. After giving considerable biographical notes of al-Banna the writer explains that according to al-Banna Islamic dakwah must cover and serve every aspect and basic need of human life, in other words it must be comprehensive. For this reason, to implement his thought on dakwah he built up a religions organization called Ikhwanul Muslimin which was managed professionally and provided services for people of Egypt. This distringnished dakwah organization had colored the lives of the Egyptians for many decades and elevated their understanding on Islamic teachings. The phenomena of its succes is still under discussion and inspiring many dakwah organizations in Indonesia.

Acceptance, Approval And Aggression : Some Fatwas Concerning the Colonial Administration In The Dutch East Indies

Nama Pengarang : Nico l.G. Knptein
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 38 (No. 2)
Nomor Halaman : 297-309
Abstraksi Narasi : Artikel ini mendiskusikan tentang sikap kaum Muslimin Indonesia terhadap pemerintahan kolonial Belanda sebagaimana terefleksikan dalam sejumlah fatwa yang dikeluarkan oleh Ahmad Dahlan (w.1886), mufti Syafi`i di Makkah yang menjadi tumpuan bertanya muslim nusantara; Sayyid`Utsman (1822-1914), penasihat honorer Belanda untuk masalah Arab; dan Hasyim asy`ari (1871-1947), pendiri Nahdlatul Ulama. Ahmad Dahlan dalam beberapa fatwa-na yang termaktub dalam kitab Muhimmat al-Nafa`is, bersikap "menerima" (acceptance) terhadap keberadaan pemerintahan kolonial Belanda selama tidak bertentangan dengan syari`at Islam, dan Sayyid `Utsman bukan hanya menerima bahkan menyetujuinya (approval), karena pemerintah Belanda memberikan keleluasaan bagi kaum Muslimin untuk melakukan ibadah. Berbeda dengan keduanya, Hasyim asy`ari menentang (aggression) penjajahan Belanda. Penulis melihat bahwa seringkali sebuah produk fatwa sangat dipengaruhi oleh situasi sosial dan politik yang melingkupinya. Hal ini menunjukkan dinamika dan fleksibilitas hukum Islam pada satu sisi, tetapi pada sisi lain menunjukkan pula betapa suatu produk fatwa menjadi rentan terhadap kepentingan-kepentingan politik tertentu. Fatwa Ahmad Dahlan dan Sayyid `Utsman yang bernada menerima dan menyetujui keberadaan pemerintah kolonial dikeluarkan pada akhir abad ke-19 dimana kekuasaan pemerintah Belanda masih sangat kuat. Sayyid `Utsman sendiri digaji oleh pemerintah Belanda untuk membantu Snouck Hurgronje dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan komunitas Arab dan pribumi. Sedangkan fatwa Hasyim Asy`ari dikeluarkan ketika semangat nasionalisme sedang berkobar, segera setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dalam menghadapi agresi Belanda melalui NICA. Perubahan situasi politiklah yang melatarbelakangi munculnya perbedaan fatwa diantara ketiganya, meskipun mereka, menurut penulis, menggunakan metodelogi istinbat hukum yang sama dan mempunyai kerangka intelektual yang sama pula. Perbedaan atau perubahan fatwa yang disebabkan karena perubahan sosial dan politik semacam ini dijumpai pula pada kasus-kasus lain.

A Profile Of The `Ulama` In Acehnese Society

Nama Pengarang : Yusny Saby
Nama Majalah/Jurnal : Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Volume / Nomor Edisi : 38 (No. 2)
Nomor Halaman : 267-296
Abstraksi Narasi : Melalui artikel ini penulis memaparkan profil, yakni karakteristik umum, potret, pendidikan, pandangan hidup serta gaya hidup keseharian ulama dalam masyarakat Aceh. Sebenarnya ulama Aceh dapat dipilah ke dalam beberapa tipe dan kategori, diantaranya ulama tradisional dan ulama pembaharu, dan artikel berikut lebih berkonsentrasi pada profil ulama tradisional yang dalam beberapa hal masih bersifat monolitik, dibandingkan dengan ulama pembaharu yang lebih variatif. Dengan teliti dan menarik penulis menjelaskan model-model pendidikan ulama tradisional yang dilangsungkan di lembaga pendidikan agama yang disebut dayah. Tercakup disini adalah corak-corak kehidupan dalam dayah dari masa ke masa dan dari satu wilayah kewilayah yang lain. Pandangan hidup para ulama tradisional, karena dikutuk oleh model pendidikan di dayah yang sangat terbatas, juga menjadi spesifik, misalnya, menghindari penggunaan akal dalam memahami teks agama (Qur`an & hadits). Namun, karena kesalehannya, para ulama tradisional mendapat penghormatan yang tinggi dari masyarakat sekitar.
← Kembali ke Halaman Utama