| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Jurnal Teknodik |
| Volume / Edisi | : | IV-7, OKTOBER (No. 0) |
| Halaman | : | 13-19 |
| Abstrak | : | Dalam rangka pemerataan mutu pendidikan, Pemerintah telah memanfaatkan radio untuk menatar guru SD terutama di daerah terpencil melalui program Diklat SRP. Kenyataan di lapangan siaran tersebut kurang menarik bagi pendengarnya. Penelitian ini mencoba menggambarkan cara pengemasan pesan pendidikan melalui radio dengan mengkaji naskah (bahan siar). Tujuanya adalah untuk mengetahui prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengemasan pesan tersebut ditinjau dari aspek pembelajaran dan komunikasi. Hasil analisis menunjukan bahwa penggunaan prinsip pembelajaran sudah banyak menjadi bahan pertimbangan sedangkan prinsip-prinsip komunikasi sangat sedikit sekali. |
| Pengarang | : | Roestam Soepardjo |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisa |
| Volume / Edisi | : | XIII-11, NOVEMBER (No. 11) |
| Halaman | : | 835-846 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Jurnal Teknodik |
| Volume / Edisi | : | IV-7, OKTOBER (No. 0) |
| Halaman | : | 10-12 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | Dahlan, Alwi |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Jurnal Teknodik |
| Volume / Edisi | : | IV-7, OKTOBER (No. 0) |
| Halaman | : | 5-9 |
| Abstrak | : | Sejak PD II, radio telah menunjukkan kekuatannya sebagai media pendidikan dalam arti luas, dan media komunikasi politik, termasuk pendidikan politik. Fungsipokok media komunikasi massa termasuk radio yaitu meliputi pengamatan/pengawasan lingkungan (surveillance of the environment). Bagi masyarakat fungsi pokok radio sebagai sumber informasi, kemudian fungsi kedua, pengembangan konsensus. Konsensus terkait dengan sosialisasi atau fungsi pendidikan dalam arti luas. Kedepan fungsi hiburan akan meningkat. Kecenderungan penggabungan fungsi pendidikan dan informasi melakukan bentuk komunikasi baru infotainment dan edutainment. Perubahan fungsi komunikasi dan efektivitas sejalan dengan fungsi media massa. Media radio yang semula sebagai institusi pelayanan sosial (politik) menjadi institusi komunikasi swasta. Perkembangan ekonomi dengan persaingan sengit (berebut pasar dan iklan) membawa media radio masuk dalam industri yang meliput titik haru secara maksimal namun juga global yang tidak terlepas dari kemajuan teknologi. Implikasinyafungsi media sebagai media pendidikan makin terbatas. |
| Pengarang | : | Piliang Amir Yasraf |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Jurnal Teknodik |
| Volume / Edisi | : | IV-6, APRIL (No. 0) |
| Halaman | : | 51-54 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Jurnal Teknodik |
| Volume / Edisi | : | IV-6, APRIL (No. 0) |
| Halaman | : | 48-50 |
| Abstrak | : | Silung pendapat di antara para pakar pemirsa TV serta pengamat pertclevisian tentang kelavakan tavangan Buah Bibn"di RCTI mas?h hangat di masvarukat Pihak vang kontra menvatukan "Buah Bibn" t?dak lavak, melanggat etka sedang vang pio menvatakan banvak manfaatnva vuitu membuka sis? lain kehtdupun manusia schingga pemursa dapat mengambil manfaatnva Program wawanara vang menank mem?lik? karakteristik ist pesan media massa seperti konflik, humor ser, dsh Progrum wawaneara vang baik memenuht prinsip dasar komuikas? vang etektif sepertt karakteristik sumber meliputt kredib?l?tas dava tar?k dan kekuatannya Agar wawaneara televist etekuf unsin davar vang perlu dipenuht melpun matent, penelitian konversast dan arah vang haih. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Jurnal Teknodik |
| Volume / Edisi | : | IV-6, APRIL (No. 0) |
| Halaman | : | 44-47 |
| Abstrak | : | Dalam pendekatan pendidikan orang dewasa (andragrogi) belajar dipandang sebagai suatu proses pemecahan masalah. Untuk itu diperlukan penggunaan metode dialog. Dialog dapat terjadi bila fasilisator menguasai materi pelajaran dan metode pengajaran yang memicu diskusi dan media merupakan alat pemicu. Media video dengan kelebihan dapat memper-hatikan cara bersikap dalam interaksi manusia, dapat dilihat kembali/dievaluasi, memberikan susunan utuh materipelatihan, mengaktifkan peserta, meningkatkan peran fasilisator. Penggunaan media video dengan program dan petunjuk/cara penggunaan yang benar membantu mewujudkan pencapaian tujuan. Penggunaan video untuk pendidikan orang dewasa di masyarakat (LSM) dan di perguruan tinggi sangat bermanfaat. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Jurnal Teknodik |
| Volume / Edisi | : | IV-6, APRIL (No. 0) |
| Halaman | : | 40-43 |
| Abstrak | : | Dewasa ini kita memasuki era teknologi informasi dan teknologi komunikasi baru. Dalam rangka penyebarluasan pemanfaatan teknologi informasi baru untuk pendidikan dan pengajaran perlu dipahami perspektif penggunaan dan permasalahan ketenagaan dan strateginya. Permasalahan penyebarluasan dan pemanfaatan teknologi informasi dan media pendidikan antara lain keengganan para pendidik untuk merubah strategi mengajarnya, teknologi pendidikan dianggapmahal, tidak manusiawi, kekhawatiran teknologi akan mendesak profesi guru/dosen. Strategipemanfaatan dan penyebarluasan media meliputi berbagai komponen yaitu pesan, orang, perangkat keras, perangkat lunak, pengelolaan/organisasi dengan maksud/tujuan masingmasing dilaksanakan secara sistematis dan diselaraskan dengan kemajuan produk teknologi informasi baru seperti media interaktif,jaringan, komputer untuk pengajaran, dsb. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Jurnal Teknodik |
| Volume / Edisi | : | IV-6, APRIL (No. 0) |
| Halaman | : | 35-39 |
| Abstrak | : | Permasalahan siswa putus sekolah (drop out) di SD, SLTP dan SLTA dan Peguruan Tinggi merupakan permasalahan yang kompleks, faktor-faktor yang berpengaruh antara lain lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Dari studi hubungan antara lingkungan keluarga dengan putus sekolah di propinsi Sulawesi Utara menunjukkan bahwa status sosial ekonomi keluarga mempunyai kontribusi terjadinya DO sebesar 49 %. Faktor pandangan maju orang tua yang rendah menyumbang 38 % terhadap DO. Sedang faktor keterlibatan orang tua dalam KBM anak 38% dan aspirasi pendidikan yang rendah 37 % kontribusinya terhadap putus sekolah. Kemudian analisis hal sama oleh BPS menunjukkan bahwa sumber penghasilan rumah tangga (pekerjaan) memberikan kontribusi terhadap putus sekolah yang bervariasi yaitu sektor pertanian 6,7%, industri 6,0 %, angkutan 5,3 %, perdagangan 4,0 %, jasa 3,8 % dan pemerintah 0,7 %. Rekomendasi atau saran mengatasi antara lain berupa kebijaksanaan seragam SD di pedesaan dihapus, pengembangan Gerakan Nasional Orang Tua Asuh dan pemberian beasiswa. |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Jurnal Teknodik |
| Volume / Edisi | : | IV-6, APRIL (No. 0) |
| Halaman | : | 28-34 |
| Abstrak | : | Penguasaan bahasa Inggris merupakan aspek strategis dalam era kompetisi antar bangsa di segala bidang kehidupan, serta sarana penting terhadap penyerapan perkembangan IPTEK mutakhir. Oleh karena itu sejak SLTP bahasa Inggris diprogramkan sebagai mata pelajaran wajib hingga PT. Namun hasil studi menunjukkan bahwa kemampuan pelajar (SLTP) dalam berbahasa Inggris di 27 propinsi, ternyata masih "rendah". Rendahnya kemampuan siswa, erat kaitannya dengan belum baiknya kemampuan guru dalam berbahasa Inggris, dan disebabkan beberapa komponen input (fasilitas dan kualifikasi tenaga) dan proses belajar mengajar yang belum memenuhi standar penyelenggaraan pengajaran. Direkomendasikan agar segera diambil kebijakan perbaikan, agar penyiapan SDM yang mampu berkompetisi dapat terwujud. Optimisme masih ada manakala persepsi siswa terhadap pentingnya penguasaan bahasa Inggris masih positif. |