OPAC - Pencarian Artikel Jurnal & Majalah Library USD

Menampilkan semua artikel (Halaman 346 dari 34170, Total: 341698 data)

Conversations about Science across Activities in Mexican?descent Families

Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : International Journal of Science Education
Volume / Edisi : 29 (No. 12)
Halaman : 1447-1466
Abstrak : Parent–child “everyday” conversations have been suggested as a source of children’s early science learning. If such conversations are important, then it would be pertinent to know whether children from different family backgrounds have different experiences talking about science in informal settings. We focus on the relation between parents’ schooling and both their explanatory talk in science?related activities and the styles of interaction they use with their children. Families from different schooling backgrounds within one under?represented group in science education—Mexican?descent families—were included in this study. Forty families were observed in two science?related activities. In the sink?or?float task, families were asked to predict which of a variety of objects would sink and which would float, and then to test their predictions in a tub of water. The second activity was an open?ended visit to a local children’s museum. Results showed similar patterns in scientific talk on the sink?or?float task across the two groups. However, the interaction style varied with schooling across the two activities; parents with higher schooling were more directive than parents with basic schooling. Interaction style was also found to vary with task structure, with more open?ended tasks affording more collaborative interactions. Such research into parent–child conversations in science?related activities can help begin to guide us in bridging children’s learning environments—home, school, and museum—and potentially fostering children’s science learning, particularly in those groups under?represented in the sciences.

Paradiks Peran Polisi Indonesia di Negara Demokrasi

Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : Analisis CSIS
Volume / Edisi : 54 (No. 2)
Halaman : 171-209
Abstrak : Polisi sejatinya berperan untuk memberikan perlindungan, penjaga ketertiban, dan pelayan masyarakat. Namun, dalam praktiknya, peran kepolisian tidak sepenuhnya sejalan dengan peraturan perundang-undangan dan cenderung bertentangan dengan prinsip demokrasi yang telah dijamin dalam konstitusi. Kondisi ini memaksa masyarakat untuk mempertanyakan kembali peran dan fungsi kepolisian di tengah-tengah kondisi demokrasi yang tidak memadai. Muncul selmab paradoks yang mempertemukan antara peran institusi kepolisian sebagai penegak bukum, juga implementasi dari demokratisasi di masyarakat. Semua ini menjadi cukup dilematis, antara melaksanakan fungsinya sebagai alat negara dan pelayan masyarakat. Artikel ini dibuat sebagai baban evaluasi dan refleksi atas peran dualisme polisi yang cukup dilematis. Harapannya, karya ini dapat digunakan sebagai penegasan akan fungsi kepolisian, yang sesungguhnya dapat menyelesaikan kecemasan masyarakat terbadap aksi-aksi polisional yang tidak berdasarkan pada nilai-nilai demokrasi, yang semestinya dijamin oleh negara.

PEMIKIRAN TENTANG DASAR PENDIDIKAN GURU

Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : Analisa
Volume / Edisi : III-3, MARET (No. 3)
Halaman : 47-60
Abstrak : -

Computer supported argumentation: A review of the state of the art

Pengarang : Scheuer, O., Loll, F., Pinkwart, N. et al.
Nama Majalah/Jurnal : International Journal of Computer-Supported Collaborative Learning
Volume / Edisi : 5 (No. 1)
Halaman : 43-102
Abstrak : Argumentation is an important skill to learn. It is valuable not only in many professional contexts, such as the law, science, politics, and business, but also in everyday life. However, not many people are good arguers. In response to this, researchers and practitioners over the past 15–20 years have developed software tools both to support and teach argumentation. Some of these tools are used in individual fashion, to present students with the “rules” of argumentation in a particular domain and give them an opportunity to practice, while other tools are used in collaborative fashion, to facilitate communication and argumentation between multiple, and perhaps distant, participants. In this paper, we review the extensive literature on argumentation systems, both individual and collaborative, and both supportive and educational, with an eye toward particular aspects of the past work. More specifically, we review the types of argument representations that have been used, the various types of interaction design and ontologies that have been employed, and the system architecture issues that have been addressed. In addition, we discuss intelligent and automated features that have been imbued in past systems, such as automatically analyzing the quality of arguments and providing intelligent feedback to support and/or tutor argumentation. We also discuss a variety of empirical studies that have been done with argumentation systems, including, among other aspects, studies that have evaluated the effect of argument diagrams (e.g., textual versus graphical), different representations, and adaptive feedback on learning argumentation. Finally, we conclude by summarizing the “lessons learned” from this large and impressive body of work, particularly focusing on lessons for the CSCL research community and its ongoing efforts to develop computer-mediated collaborative argumentation systems.

Mengurai Arah Baru TNI dari Dampak UU Nomor 3 Tahun 2025

Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : Analisis CSIS
Volume / Edisi : 54 (No. 2)
Halaman : 141-170
Abstrak : Pengesahan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI memicu respons keras dari masyarakat sipil yang menilai proses dan substansinya mengancam prinsip-prinsip dasar demokrasi, supremasi sipil, dan tata kelola negara yang akuntabel. Dalam artikel ini mengangkat tiga persoalan utama, yaitu (1) kecenderungan pangabaian terhadap mekanisme formal-prosedural dalam proses legislasi; (2) lemahnya komunikasi publik pemerintah yang berdampak pada pembentukan opini dan resistensi masyarakat; (3) tren menguatnya militerisasi dalam ruang sipil yang berpotensi mereduksi otonomi masyarakat sipil. Dengan menggunakan perspektif bukum positif dan pemikiran John Duns Scotus tentang kebijaksanaan dan otoritas dalam pembentukan hukum, tulisan ini menyoroti pentingnya keterlibatan aktif masyarakat sipil dalam menjaga ruang publik. Pengawasan publik, transparansi administratif, dan partisipasi yang bermakna menjadi elemen krusial dalam mempertahankan demokrasi konstitusional yang kini berada dalam tekanan akibat konsolidasi kekuasaan eksekutif (unitary executive power) yang berpadu dengan legalisme otokratik. Artikel ini juga berargumen bahwa kecenderungan militerisasi dan manipulasi narasi publik. bukan sekadar pergeseran kebijakan, melainkan indikasi kemunduran demokrasi, yang karenanya menuntut respons kolektif dan krisis dari masyarakat sipil.

A framework for conceptualizing, representing, and analyzing distributed interaction

Pengarang : Suthers, D.D., Dwyer, N., Medina, R. et al.
Nama Majalah/Jurnal : International Journal of Computer-Supported Collaborative Learning
Volume / Edisi : 5 (No. 1)
Halaman : 5-42
Abstrak : The relationship between interaction and learning is a central concern of the learning sciences, and analysis of interaction has emerged as a major theme within the current literature on computer-supported collaborative learning. The nature of technology-mediated interaction poses analytic challenges. Interaction may be distributed across actors, space, and time, and vary from synchronous, quasi-synchronous, and asynchronous, even within one data set. Often multiple media are involved and the data comes in a variety of formats. As a consequence, there are multiple analytic artifacts to inspect and the interaction may not be apparent upon inspection, being distributed across these artifacts. To address these problems as they were encountered in several studies in our own laboratory, we developed a framework for conceptualizing and representing distributed interaction. The framework assumes an analytic concern with uncovering or characterizing the organization of interaction in sequential records of events. The framework includes a media independent characterization of the most fundamental unit of interaction, which we call uptake. Uptake is present when a participant takes aspects of prior events as having relevance for ongoing activity. Uptake can be refined into interactional relationships of argumentation, information sharing, transactivity, and so forth for specific analytic objectives. Faced with the myriad of ways in which uptake can manifest in practice, we represent data using graphs of relationships between events that capture the potential ways in which one act can be contingent upon another. These contingency graphs serve as abstract transcripts that document in one representation interaction that is distributed across multiple media. This paper summarizes the requirements that motivate the framework, and discusses the theoretical foundations on which it is based. It then presents the framework and its application in detail, with examples from our work to illustrate how we have used it to support both ideographic and nomothetic research, using qualitative and quantitative methods. The paper concludes with a discussion of the framework’s potential role in supporting dialogue between various analytic concerns and methods represented in CSCL.

MEMPERJUANGKAN PENDIDIKAN PERTUKANGAN

Pengarang : Ny. Hariati Schutzenberger
Nama Majalah/Jurnal : Analisa
Volume / Edisi : III-3, MARET (No. 3)
Halaman : 31-46
Abstrak : -

PENDIDIKAN DAN TRANSFORMASI

Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : Analisa
Volume / Edisi : III-3, MARET (No. 3)
Halaman : 3-30
Abstrak : -

Tantangan Pembangunan Rendah Karbon di Daerah dan Agenda Penataan dari Perspektif Collaborative Governance

Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : Analisis CSIS
Volume / Edisi : 54 (No. 3)
Halaman : 297-317
Abstrak : Pemerintahan menjadikan Pembangunan Rendah karbon (PRK) sebagai salah satu langkah mitigatif dan adaptif perubahan iklim.Selain sebagai pemenuhan target global, langkah ini merupakan komitmen untuk mencapai visi indonesia Berkelanjutan di 2045. kerangka prencanaan pembangunan jangka panjang dan menengan pun menempatkan PRK untuk menurunkan Gas Rumah Kaca (GRK) sebagai sasaran dan prioritas utama. PRK merupakan upaya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca dan meminimalkan eksploitasi sumber daya alam. Pendekatan pembangunan ini bertujuan untuk mencapai pembangunan berkelajutan, sejalan dengan tujuan SDGs tentang perubahan iklim. meski beragam peraturan perundang-undangan telah ditetapkan, akan tetapi isu PRK ini merupakan isu lintas sektoral dan dijalankan dalam sistem desentralisasi dan otonomi daerah. Melalui kajian dokumen, regulasi, dan literatur terkait, tulisan ini mengidentifikasi tantangan dan merekomendasikan pendekatan collaborative governance untuk mengorkestrasi aneka sektor dan pemangku kepentingan untuk mempercepat PRK di Daerah.

Kepatuhan Kanada Terhadap Kesepakatan Paris Tentang Pemnbatasan Emisi Gas

Pengarang : -
Nama Majalah/Jurnal : Analisis CSIS
Volume / Edisi : 54 (No. 1)
Halaman : 109-136
Abstrak : Kanada memiliki bubungan perdagangan internasional di sektor energi dengan Amerika Serikat. Kondisi ini membuat Kanada semakin bergantung pada Amerika Serikat dalam hal perekonomian negara. Akan tetapi, perdagangan internasional yang telah lama dilakukan ini, menimbulkan kerugian lingkungan, terutama dari sisi Kanada yang ketergantungan energinya kepada Amerika Serikat tinggi. Kanada kemudian bergabung ke dalam Kesepakatan Paris guna membatasi emisi gas yang dibasilkan dari perdagangan internasional. Dengan bergabungnya Kanada ke Kesepakatan Paris, Kanada harus mematubi target dengan menetapkan program dan membawa dampak bagi masyarakatnya pada periode 2015-2020. Untuk melibat upaya dari pemerintah Kanada dalam komitmennya di Kesepakatan Paris, penulis menggunakan Teori Kepatuban atan Compliance Theory dari Ronald Mitchell. Melalui teori ini, penulis melibat bagaimana pemerintah Kanada mematuhi tiga indikator analisis, yaitu Output, Outcome, dan Impact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintab Kanada, telah memenuhi ketiga indikator analisis Output, Outcome, dan Impact, yang sesuai. Namun, pada indikator Impact, tidak ada dampak yang signifikan karena masih banyak program yang berjalan bingga saat hanya menghasilkan dampak yang minim.
← Back to HOME-USD Library