
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 34 (No. 1) |
| Halaman | : | 4-31 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | Rajab, Budi |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 35-4, DESEMBER (No. 4) |
| Halaman | : | 410-429 |
| Abstrak | : | Pada mulanya penyebab kemiskinan terkait dengan kurangnya penguasaan sumber-sumber dayaekonomi.Sebagaiakibatnya, munculketidakmampuandanbudayakemiskinanyangberwujud pada sikap-sikap fatalistik dan ketergantungan, yang kemudian justru semakin memperkuat dan melanggengkan ketidakmampuan penguasaan sArAnA ekonomi tersebut . Karena itu, sebab dan akibat dari kemiskinan selalu menunjuk pada lingkaran setan. Upaya penanggulangan kemiskinan ini seringkali menunjuk pada upaya-upaya untuk meningkntkan kapabilitas dan mengubah budaya kemiskinan, sEerti yang pernah dilakukan pemerintahan Orde Baru. Hasil dari pendekatan itu tidakmenggembirakan. Selain jalannya tercendat-sendat, jumlahorangmiskinyangbisakeluar dari jerat kemiskinan juga relatif sangat kecil. Di samping itu, dampak strategi tersebut adalah timbulnya apa yang disebut dengan kemiskinan relatif, yakni terjadi ketimpangan yang kian melebar dalam distribusi pendapatan dan penguasaan sumber-sumber day a ekonomi. |
| Pengarang | : | Tjiptoherijanto, Prijono |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 35-4, DESEMBER (No. 4) |
| Halaman | : | 396-409 |
| Abstrak | : | Persoalnn penduduk dan pembangunan sudah lama menjadi perhatian, baik pada tingknt global maupun nasional. Dalam perubahan tqtanan dunia yang terjadi dewasa ini, yang mengarah pada demokratisasi dan hak asasi manusi, persoalan hubungan antara penduduk dan pembangunan menjadi semakin kompleks. Oleh ksrena itu para ahli demografi dan ahli sosial lainnya tidak mungkin lagi menggunakan pendekatan lama dalam melihat hubungan penduduk dengan pembangunan. Persoalan kelahiran, misalnya, jikn diteknnkan pada isu demografis akan mendapat bnnyak tentangan. Namun demikian, jika dikemas dalqm konteks peningkatan kesejahteraan dan upaya perwujudan hak-hak indiztidu dan pasangan untukmengatur sendirikehidupan reproduksimereka,makn aknnlebihmudah dapat diterima. Demikian halnya dengan persoalan mortalitas dan mobilitas penduduk. |
| Pengarang | : | Oegroseno, Arif Havas |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 35-4, DESEMBER (No. 4) |
| Halaman | : | 385-395 |
| Abstrak | : | Pengakuan Belanda atas ktmerdeknan lndonesia 17 Agustus L945, dan tidak lagi menganggap Desember 1949 sebagai hari kemerdeknan lndonesia melalui penyerahnn kedaulatan, dapat menam bah substansi upaya lndonesia untuk pelurusan sejarah Papua. Oleh karena sejarah Papua tidak diawali padaPEPERA,melainkanpadalT Agustusl94S,maknupayauntukmembahnspersoalanPapuadari segi legalitas kewilayahan harus berasal dan bermuara pada 17 Agustus 1945. Demikian halnya dengan adanyaklaimbahwa Papuaharus dipisahkan darilndonesiaknrena alasan-alasan antropologis dan pelaksanaan hakpenentuan nasib sendiri. Doktrin uti posidetis juris secara tegas menggarisknn bahwa garis uti posidetis adalah garis yang sah sesuai hukum internasional, meski tidak sesuai dengan garis suku atau ras dan hak penentuan nasib sendiri |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 35-4, DESEMBER (No. 4) |
| Halaman | : | 363-384 |
| Abstrak | : | Undang-undang Otonomi Khusus memberimandatyang tegaspadapemerintah dan masyarakat sipil Papuauntukmemberikan perhntian danpenangananldrususpendudukasli Papua. Dalamhal ini Otsus memberi peluang sangat besar bagi hidupnya kembali lembaga-lembaga loknl yang bisa efektif untuk mendorong pembangunan Papua dari dalam. Aknn tetapi pelaksanaan Otsus selama ini belum dapat mengakomodasi merekn Padahal organisasi masyarakat sipil, seperti lembaga keagamaan, komunitas adat,LSM, dankelornpokperempuan selamaini telah aktif terlibat dalamberbagaipelayanan publik, terutama di bidang pendidikan, kesehatan dan sosial-ekonomi sampai ke pelosok pedalaman Papua. Mereka belum dimanfaatknn sebagai mitra pembangunan oleh pemerintah daerah. Meknnisme kelembagaan masih bersifat sangat korporatis sehingga menimbulknn dominasi kelompok kuat atas pmgambilan kebijakan dan seringknli meminggirknn kelompok-kelompok sipil yang beragam di Papua |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 35-4, DESEMBER (No. 4) |
| Halaman | : | 356-362 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 35-4, DESEMBER (No. 4) |
| Halaman | : | 332-355 |
| Abstrak | : | - |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 35-3, SEPTEMBER (No. 3) |
| Halaman | : | 308-326 |
| Abstrak | : | lndustri farmasi lndonesia dalqm beberapa tahun yang akan datang diperkirakan akan menghadapi persaingan berat. Di samping pasar farmasi lndonesia menjadi incaran perusahaan perusahaan asing di pasar domestik, seperti perusahaan-perusahaan asal lndia dan China, juga industri farmasi lndonesia menghadapi berbagai kendala, berupa peraturan-peraturan pemerintah yang cenderung ingin menjadikan sektor tersebut sebagai alat kebijakan sosial pemerintah sehingga menjadi beban bagi produsen-produsen obat domestik. Di samping itu, pemerintah tampaknya mengabaiknn pemberian insentif bagi perusahaan-perusahaan untuk menjadi lebih efisien dan mampubersaing, baik di dalam negeri maupun di luar negeri |
| Pengarang | : | - |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 35-3, SEPTEMBER (No. 3) |
| Halaman | : | 289-307 |
| Abstrak | : | Analisis Constant Market Share (CMS ) menunjukkan bahwa telah terjadi perubahnn yang menonjol peranan subsektor-subsektor dari industri elektronik terhadap perubahan indrtstri elektronik secara keseluruhan, selama masa sebelum krisis menuju setelah krisis. Bahknn analisis CMS secara mendalam menghasilkan bahwa ada industri-industri elektronik yang tetap memiliki efek daya saing yang tinggi terhadap perubahan ekspor elektronik secara keseluruhan, dan ada pula yang relatif bertahan, namun ada pula yang mengalami penurunan secara drnstis. |
| Pengarang | : | Maidir, Imelda |
| Nama Majalah/Jurnal | : | Analisis CSIS |
| Volume / Edisi | : | 35-3, SEPTEMBER (No. 3) |
| Halaman | : | 271-288 |
| Abstrak | : | Penurunan daya saing di sejumlah produk mengindikasiknn adanya kendala pasoknn di dalam negeri yang telah menghambat, dan bahknn menurunkan kemampuan industri untuk me nyesuaikan struktur ekspornya dengankenaiknnpermintaanpasar dunia. Faktor sepertirigiditas peraturan ketenagakerjaan, limitasi knpabilitas teknologi dan pemasaran, serta kendala industri pendukung terus mempengaruhi daya saing industri. Kenaikan biaya dan makin meningkatnya intensitas persaingan berkonsekuensi pada keharusan untuk meningkatknn knpabilitas dan nilai tambah pada tiap segmen industri. Lebih khusus, peningkatan kualitas produk serat tekstil, benang dan knin sintetis, serta pergeseran dari mass production products ke produk dan aksesoris pakaian dengan nilai tambah lebih tinggi. Secara demikian, restrukturisasi dan up grading mensyaratkan inaestasi dalam jumlah besar dan kemauan untuk secara berkelanjutan meningkatkan kapabilitas pengelolaan dan teknologi. |